
Abra sedang tidur di kamarnya. Tiba-tiba sebuah pesan masuk dan ternyata itu dari Salwa. Sebenarnya dia terlalu malas untuk menanggapinya, tetapi karena penasaran pria itu pun membukanya. Namun, Abra dibuat bingung karena dalam pesan tersebut, Salwa meminta tolong padanya.
Wanita itu juga mengirimkan lokasi di mana dia berada. Abra merasa aneh dengan pesan tersebut, ingin mengabaikan, tetapi hati kecilnya berontak. Pria itu khawatir terjadi sesuatu pada Salwa. Dia pun mengecek lokasi dan itu berada di kawasan perumahan elit.
Apa mungkin terjadi sesuatu pada Salwa di sebuah rumah di kawasan elit seperti itu? Masuk ke daerah itu juga begitu sulit. Apakah Gadis itu diculik dan dibawa ke sana? Rasanya itu tidak masuk akal kecuali Salwa sendiri yang mau datang. Akan tetapi, siapa pemilik rumah di kawasan itu?
Abra tidak mungkin bisa masuk kalau tidak mengenal penghuni di sana. Dia berpikir, siapa yang bisa dimintai informasi pemilik rumah yang didatangi Salwa. Pria itu pun menghubungi Romi. Hanya asistennya yang bisa diandalkan untuk saat ini. Mudah-mudahan Romi tidak mengatakan apa pun yang dia tanyai kepada orang lain, terutama papanya.
Romi mengatakan jika itu adalah kawasan rumah keluarga Nando, orang yang menjadi pesaing bisnis keluarga dan juga pesaing cintanya Ibra dulu. Semua diceritakan oleh pria itu tanpa mengurangi ataupun melebihkannya. Abra menyimak dengan saksama, sesekali bertanya mengenai rival keluarganya itu.
Abra mulai tidak tenang setelah mendengar cerita dari Romi. Pria itu pun segera ke sana. Dia takut terjadi sesuatu pada Salwa. Sudah pasti nanti dirinya yang akan disalahkan karena tidak mampu menjaga tunangan saudaranya. Tidak dipungkiri jika sudut hatinya memang benar mengkhawatirkan gadis itu tanpa embel-embel tunangan saudaranya.
Abra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan di malam hari. Tepat di kawasan perumahan elit seorang satpam mencegahnya. Dia berpura-pura ingin berkunjung ke rumah keluarga Nando. Satpam pun mengiyakan karena di rumah itu tengah mengadakan pesta.
Di sini Abra mulai mengerti. Mungkin Salwa datang ke sana karena diundang, tapi kenapa dalam pesannya wanita itu meminta tolong? Dia tetap pergi ke rumah itu, ingin memastikan bagaimana keadaan Salwa. Apakah gadis itu baik-baik saja atau tidak.
Begitu sampai di depan rumah Abra segera masuk. Untung saja dia tadi membawa masker jadi tidak ada orang yang mengenalinya. Pria itu mulai mencari jejak ponsel dan ternyata mengarah ke rumah padahal pesta berada di taman samping. Pelan tapi pasti, Abraham mencoba menelusuri rumah dengan pelan-pelan takut jika ada orang yang melihatnya.
Sampai di sebuah kamar, dia mendengar suara jeritan bercampur ******* seorang wanita dan Abra yakin jika itu adalah suara Salwa. Segera pria itu membukanya. Namun, pintu terkunci dengan sekuat tenaga Abraham mendobrak pintu itu hingga berhasil.
Pemandangan yang dilihatnya sungguh menjijikan. Seorang pria yang hanya memakai celana menindih seorang wanita yang sudah tanpa sehelai benang pun. Ternyata itu adalah Salwa. Mungkin karena terlalu asyik dengan kegiatannya hingga pria tadi tidak mendengar pintu didobrak. Apalagi suara musik di pesta juga terdengar begitu keras.
__ADS_1
Segera Abra menarik dan menghajar pria itu. Sempat terjadi perlawanan. Namun, akhirnya Abra berhasil membuatnya terkapar tak berdaya. dia merasa aneh pada Salwa karena wanita itu menggeliat sambil merintih. Abra yakin jika Salwa sudah diberi obat perangsang.
Abra menutupi tubuh Salwa dengan selimut yang ada di sana. Dia membawanya pergi dari rumah itu. Semua orang sedang sibuk di pesta jadi tidak ada yang peduli dengan apa yang terjadi di dalam rumah. Selama perjalanan Salwa mencoba mencari kepuasan untuk dirinya. Wanita itu benar-benar tidak tahan dengan apa yang dia rasakan.
Salwa pun meraih bibir Abra dan melum*tnya. Pria itu yang diserang dengan brutalnya, seketika tidak fokus pada perjalanan dan akhirnya menepikan mobilnya. Dia tidak mungkin berkendara dalam keadaan seperti ini. Untung saja jalanan sepi jadi tidak akan ada orang yang mencurigai aksi mereka.
Abra mencoba untuk menolak apa yang Salwa inginkan. Namun, sepertinya obat itu masih sangat berkuasa dan akhirnya dia tidak bisa mengendalikan diri, hingga merenggut kehormatan gadis itu. Sesuatu yang Salwa jaga selama ini. Bahkan Ibra yang sebagai tunangannya pun tidak pernah diizinkannya. Namun, karena obat terlarang itu, justru membuat Salwa lebih dulu menyerahkan dirinya pada Abra dalam keadaan tidak sadar.
Setetes air mata membasahi pipi gadis itu. Namun, tidak menyurutkan kegiatan mereka. Salwa benar-benar sudah hilang akal. Yang ada di pikirannya saat ini hanya ingin dipuaskan bagaimanapun caranya.
Bagi Abra, ini pertama kali baginya berhubungan badan dengan seorang wanita. Meskipun dia memiliki banyak kekasih, tetapi pria itu tidak pernah melakukan hal terlarang.
Sementara di pesta, semua orang terlihat heboh karena mendengar keadaan Nando yang babak belur. Bahkan sampai tidak sadarkan diri. Anton pun khawatir terjadi sesuatu pada Salwa dan benar saja saat dalam kamar itu, dia melihat baju putrinya yang berserakan di kamar Nando.
Anton ingin menanyakan keberadaan putrinya, tetapi melihat keadaan Nando sepertinya tidak mungkin. Pria itu pun mencari ke segala tempat di rumah itu. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan Salwa. Anton semakin khawatir. Dia mencoba menghubungi gadis itu. Namun, ponselnya masih ada di dalam tas dan masih ada di kamar itu. Anton mencoba membuka ponsel Salwa. Namun, sayang ponselnya terkunci.
Pikiran Anton tertuju pada rumah, dia pun mencoba menghubungi Bik Sumi. Ternyata Salwa juga tidak ada di rumah. Pria itu akan bertanya pada Nando setelah sadar. Bagaimanapun putrinya adalah aset berharganya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada gadis itu.
"Nando, di mana putriku?" tanya Anton setelah Nando sadar. Semua orang pun sudah keluar.
"Ada seseorang yang membawanya, tapi aku tidak tahu siapa dia. Pria itu memakai masker," jawab Nando kesal. Hampir saja dia bisa mendapatkan keinginannya, tetapi malah dikacaukan oleh pria yang tidak dikenalnya.
__ADS_1
"Apa kamu memperko** putriku?"
"Hampir, tapi semua digagalkan orang itu."
"Breng**k kamu, sudah aku katakan jangan melakukan hal yang lebih padanya!" teriak Anton sambil mencengkeram kemeja yang dipakai Nando.
"Mas, jangan seperti ini. Ingat kita ada di mana," ujar Sheyla sambil menarik tangan kekasihnya itu. Anton pun terpaksa melepasnya.
"Apa pria itu Ibra?"
"Sepertinya bukan karena orang itu pandai bela diri. Semua orang tahu kalau Ibra itu pengecut yang bisanya hanya sembunyi di ketiak papanya. Dia itu tidak bisa apa-apa selain membanggakan harta orangtuanya."
"Lalu siapa yang membawa Salwa?"
Anton benar-benar frustrasi. Dia tidak ingin kehilangan tambang emasnya. Bagaimana jika pria itu membawa Salwa pergi? Bagaimana dia akan mendapatkan uang lagi? Tidak ingin semakin pusing di rumah ini, Anton memilih untuk pulang. Berharap besok putrinya pulang.
.
.
.
__ADS_1