
"Kurang ajar! Berani-beraninya dia bertanya seperti itu," ucap Abra marah, saat dia sudah masuk ke sebuah ruangan, yang memang disediakan untuk para saksi sebelum persidangan.
"Mereka hanya bertanya, mereka tidak tahu apa-apa. Jadi jangan terlalu dipikirkan," sahut Salwa yang berusaha menenangkan suaminya.
"Bagaimana aku tidak memikirkannya, mereka sudah membawa nama kamu. Pasti mereka ingin menjelekkan nama kamu."
"Aku tidak merasa seperti itu. Sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan. Sekarang kita harus menyiapkan diri untuk masuk ke dalam ruangan sidang."
Abra yang ingat hal itu pun segera mengubah ekspresinya. Dia mendekati sang istri dan menggenggam telapak tangan Salwa. Pria itu ingin memberikan kekuatan pada istrinya karena dia tahu Salwa sedang gelisah. Wanita itu merasa senang karena Abra sangat tahu apa yang dia butuhkan saat ini.
"Kamu tenang saja. Semuanya akan berjalan dengan baik-baik saja. Aku akan selalu ada di belakangmu," ucap Abra.
Salwa hanya mengangguk sambil tersenyum. Beberapa menit kemudian pengacara masuk ke ruangan. Dia memberi penjelasan pada wanita itu bagaimana caranya memberi kesaksian. Apa saja yang akan terjadi dalam persidangan nanti karena ini pertama kali bagi wanita itu hadir di tempat seperti ini. Salwa benar-benar gugup. Dia takut jika salah berucap atau melakukan sesuatu yang akan semakin menyulitkannya.
Salwa kemudian dibawa ke tempat berjalannya sidang. Semuanya sempat tegang. Di sana dia di berondong beberapa pertanyaan dari pengacara Ibra. Hal itu sempat membuat wanita itu tidak fokus, tetapi dengan bantuan pengacara Abra, Salwa menjawabnya dengan baik.
Sempat terjadi perdebatan antara kedua pengacara. Hingga membuat keadaan tegang sepanjang perjalanan sidang. Mama Syakila terus saja menangis. Dia benar-benar tidak rela jika putranya harus dipenjara. Papa Handi yang berada di sampingnya hanya bisa menenangkan sang istri. Dia diam sambil mengusap punggung wanita itu karena dirinya juga sama khawatirnya.
Sidang Akhirnya selesai. Sidang selanjutnya akan diadakan dua minggu lagi dengan saksi-saksi yang lainnya. Termasuk juga tersangka yang ditangkap bersama dengan Ibra. Salwa merasa lega karena dirinya sudah selesai, wanita itu pun pulang bersama dengan sang suami. Sebelumnya dia juga berterima kasih pada pengacara.
"Salwa," panggil Abra sambil berjalan mendekati istrinya.
"Ayo, Mas! Kita pulang," ajak Salwa.
"Iya, ayo! Kamu mau ke mana dulu?"
"Kayaknya nggak ke mana-mana, Mas. Aku mau pulang saja. Aku masih capek."
__ADS_1
Salwa dan Abra pun berjalan beriringan. Dari kejauhan, keduanya bisa melihat Ibra yang berjalan dengan beberapa polisi. Salwa bisa melihat ada amarah yang begitu besar di mata mantan tunangannya itu. Entah kenapa ada rasa takut dalam hatinya.
Dia sangat tahu bagaimana watak pria itu, yang akan menghalalkan segala cara untuk keinginannya. Abra mempererat genggaman tangannya seolah berkata pada sang istri, bahwa dia akan melindungi wanita itu. Polisi pun membawa Ibra masuk ke dalam mobil dan meninggalkan gedung pengadilan.
"Sudah, kamu jangan terlalu khawatir. semuanya akan baik-baik saja," ucap Abra sambil menatap wajah sang istri.
"Iya, Mas. Ya sudah, ayo, kita pergi!"
Keduanya pun menaiki mobil menuju rumah keluarga Anton. Di tengah perjalanan Abra mendapat telepon dari pengacara yang mengatakan jika Ibra melarikan diri. Hal itu tentu saja membuat Abra terkejut, sekaligus takut jika saudaranya itu melakukan sesuatu pada Salwa. Seperti yang dilakukan sebelumnya.
Akan tetapi, orang suruhan Ibra sudah ditangkap polisi. Apa mungkin dia bisa melakukan hal itu lagi? Sebaiknya Abra memerintahkan anak buahnya untuk menjaga Salwa, ke mana pun dan di mana pun dia berada. Melihat wajah sang suami yang tegang membuat wanita itu mengerti, pasti terjadi sesuatu, tetapi Salwa akan menunggu setelah Abra menelepon.
"Ada apa, Mas?" tanya Salwa.
"Itu, Sayang Ibra melarikan diri, tadi saat dalam perjalanan menuju kantor polisi."
"Kamu tenang saja. Aku akan mengerahkan anak buahku untuk menjagamu karena itu kamu tidak boleh protes, saat ada beberapa orang yang ada di sekitarmu. Ini juga demi kebaikanmu."
Salwa hanya mengangguk. Dia tahu apa yang dilakukan sang suami adalah untuk kebaikannya. Entah wanita itu suka atau tidak, Salwa harus menerima karena kalau tidak ingin hal seperti kemarin terulang kembali.
"Ya sudah, kalau begitu. Ayo, kita pulang! Jangan terlalu dipikirkan." Abra pun melanjutkan lagi perjalanannya yang sempat tertunda.
Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di depan rumah. Saat keduanya turun dari mobil, terdengar suara mobil polisi memasuki halaman rumah. Abra dan Salwa saling pandang, seolah bertanya, untuk apa mobil polisi datang ke sini?
"Permisi, Tuan Abra, Nyonya Salwa," sapa seorang yang baru saja turun dari mobil.
"Iya, Pak. Ada apa, ya?" tanya Abra yang benar-benar tidak mengerti kedatangan mereka.
__ADS_1
"Begini, Tuan. Mungkin Anda sudah mendengar tentang kabar tentang saudara Ibra yang melarikan diri karena itu, kami diperintahkan untuk menjaga rumah ini. Dikhawatirkan tersangka dendam pada Anda sekeluarga dan melakukan hal yang tidak diinginkan, seperti kemarin."
Abra mengangguk. "Kalau begitu, saya akan sangat berterima kasih karena Anda sudah mau repot untuk menjaga kami."
"Itu sudah menjadi tanggung jawab kami, Tuan. Nanti akan ada dua petugas yang akan berjaga di rumah ini secara bergantian. Saya harap Anda tidak merasa terkekang. Petugas juga akan menggunakan pakaian santai saja agar tidak mengundang perhatian orang lain."
"Oh iya, Pak. Terima kasih atas kebijaksanaannya. Saya menerima keputusan pihak berwajib dengan tangan terbuka. Justru saya sangat berterima kasih. Anda semua mau repot membantu kami."
"Sana-sama, Tuan."
****
"Ada apa, Pa? Kenapa Papa terlihat khawatir begitu?" tanya Mama Syakila.
"Itu, Ma, tadi Papa dapat kabar dari pengacara kalau Ibra melarikan diri. Bagaimana dia bisa pergi dalam keadaan seperti ini? Jika dia tertangkap, maka hukumannya akan lebih berat lagi," ucap Papa Handi dengan nada khawatir.
"Kenapa Ibra melarikan diri seperti itu? Dia pergi ke mana, Pa?" tanya Mama Syakila yang juga sama khawatirnya seperti sang suami.
"Papa juga tidak tahu ke mana dia perginya. Nanti akan Papa minta seseorang untuk mencarinya. Dia tidak boleh melakukan hal bod*h seperti ini. Yang justru akan semakin memperberat hukumannya."
Syakila sangat tahu arti dari kata-kata sang suami. Dia hanya bisa diam sambil berdoa agar putranya baik-baik saja. Kalau memang dengan melarikan diri membuat Ibra bahagia, wanita itu akan berdoa agar putranya pergi jauh dan tidak tertangkap.
Sementara itu, Handi mencoba menghubungi seseorang, yang bisa membantunya mencari keberadaan putranya. Dia akan membayar berapa pun agar Ibra bisa ditemukan dalam keadaan baik-baik saja.
.
.
__ADS_1