Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
47. Rencana pergi


__ADS_3

Sudah dua minggu sejak kejadian Ibra melarikan diri. Namun, pria itu sampai saat ini belum juga ditemukan. Abra juga sudah mengerahkan anak buahnya, tetapi tak kunjung ada tanda-tanda keberadaan saudaranya itu. Bahkan hingga ke luar kota.


Dia mulai khawatir, pasti ada orang yang melindunginya dan itu bukanlah orang sembarangan. Abra penasaran, siapa yang sudah berani melawannya dengan membantu Ibra? Pria itu yakin yang menolong Ibra pasti tidak tahu siapa dirinya.


"Mas, kenapa melamun saja? Ayo, kita sarapan!" ajak Salwa yang membuyarkan lamunan sang suami.


"Oh, iya, ayo!"


"Kamu Lagi ngelamunin apa, sih?"


"Tidak, hanya ada sedikit masalah di perusahaan saja," jawab Abra berbohong karena dia tidak ingin istrinya khawatir.


Akhir-akhir ini Salwa jarang sekali keluar rumah. Dia akan pergi jika memang itu sangat penting. Untuk belanja kebutuhannya saja, wanita itu meminta Bik Sumi untuk membelikannya saat belanja kebutuhan dapur. Itulah kenapa Abra berbohong karena tidak ingin Salwa semakin khawatir.


Pria itu tahu Salwa tertekan. Hanya saja sang istri memang sedang berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


"Ya sudah, ayo, kita sarapan! Jangan terlalu larut malam kalau bekerja."


"Iya, Sayang. Kamu memang istri yang paling baik dan pengertian." Abra dan Salwa pun menuju meja makan. Di sana sudah ada Papa Anton yang sudah menunggu. Mereka pun menikmati sarapan dengan tenang.


"Pa, minggu depan aku akan membawa Salwa ke tempat tinggalku. Kami akan pergi ke luar negeri dan tinggal di sana," ucap Abra yang cukup mengejutkan semua orang. Terutama Salwa karena sang suami sama sekali tidak ada pembicaraan mengenai hal itu dari kemarin.


"Kenapa mendadak sekali?" tanya Anton.


"Iya, Pa. Perusahaan ada sedikit masalah, jadi aku harus ke sana dan aku tidak mungkin meninggalkan Salwa di sini. Aku akan membawanya."


"Lalu bagaimana nanti jika Ibra sudah ditemukan? Pasti sidang akan dilaksanakan kembali. Apa kalian tidak ingin tahu?"


"Nanti jika ada kabar mengenai Ibra yang sudah ketemu, kami akan pulang."


"Em ... mengenai dana perusahaan?"


"Papa tenang saja. Saya akan tetap mengalirkan dana asal Papa tidak mengusik rumah tangga kami."


"Kalau memang Itu sudah keputusanmu, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Semoga kalian baik-baik saja di sana. Sejujurnya Papa masih khawatir jika Ibra melakukan sesuatu pada kalian di sana."

__ADS_1


Salwa berdecih lirih. Papanya memang orang yang pandai membual. Baru saja dia mengkhawatirkan uangnya, tetapi sekarang berpura-pura seolah dirinya begitu berharga. Memang dasar penjilat.


"Saya akan membayar orang untuk menjaga istriku. Aku tidak akan membiarkannya terluka sedikit pun," ucap Abra dengan yakin.


Anton menganggukkan kepala. Mungkin itu lebih baik bagi mereka daripada di sini, akan membahayakan keselamatan anak dan menantunya. Dia juga penasaran, sekaya apa menantunya di luar sana. Dari tampilannya, Abra terlihat biasa saja, tidak ada yang mencolok. Apa mungkin dia lebih kaya dari Ibra atau Nando?


"Kamu tidak apa-apa 'kan, Sayang, kalau kita ke sananya mendadak? Maaf tidak mengatakan apa pun padamu terlebih dahulu," ucap Abra pada sang istri.


"Tidak apa-apa, Mas. Jika memang masalahnya mendesak, kita bisa ke sana lebih dulu. Ke mana pun kamu pergi, aku akan selalu bersamamu," sahut Salwa dengan tersenyu.


"Baguslah kalau begitu. Aku tidak akan bisa kamu meninggalkanmu di sini."


Setelah selesai sarapan, Anton pergi ke perusahaan, sementara Abra dan Salwa mengemas barang-barang mereka. Pria itu sudah meminta Lukas mempersiapkan pesawat pribadi untuk besok. Abra tidak ingin membawa Salwa pergi menggunakan pesawat umum, yang membuat istrinya dalam bahaya. Jadi lebih baik mereka memakai pesawat pribadinya saja.


Dia juga memastikan akan ada banyak pengawal yang akan mengamankan Salwa. Pria itu tidak ingin kecolongan seperti kemarin, jadi Abra merencanakan semuanya dengan sangat baik. Lukas dan Leo juga akan ikut mereka kembali karena kedua orang itu, masih harus menyelesaikan masalah kelompok mereka. Urusan di sini biar Roni yang menyelesaikannya.


"Mas, apa tidak terlalu berlebihan dengan pengawal segitu banyak?" tanya Salwa yang sedikit banyak mendengar obrolan sang suami dengan Lukas.


"Tidak apa-apa. Justru itu lebih baik."


Ponsel Abra kembali berdering, kali ini ada telepon dari Roni. Pria itu penasaran, apa yang ingin dibicarakan anak buahnya itu. Dia pun segera mengangkatnya.


"Halo."


"Maaf, Bos. Tadi saya mendapat kabar dari anak buah saya jika mereka melihat Ibra ada di kawasan hutan sebelah Utara kota. Saat anak buah saya mengejarnya, mereka kehilangan jejak," ujar Roni yang berada diseberang telepon.


"Apa di sekitar sana ada kehidupan?"


"Tidak ada, Bos, tapi kami curiga jika mereka punya tempat rahasia di sekitar hutan itu."


"Tempat rahasia apa maksud kamu?"


"Mungkin sejenis gua atau mungkin ruang bawah tanah karena kalau dilihat di atas sama sekali tidak ada kehidupan."


Abraham menganggukkan kepalanya. Sudah tidak asing bagi mereka mengenai tempat seperti itu. Sebelumnya mereka juga sering mendapatkan musuh yang sangat cerdik, tapi itu bukanlah hal yang sulit bagi Abra untuk mengetahui keberadaan musuh.

__ADS_1


"Gunakan anjing pelacak yang paling handal seperti sebelumnya."


"Tapi kita tidak mungkin mendatangkannya ke sini, Bos. Anda sudah pasti tahu jika kemarin anjing kita ada yang tertembak, jadi masih dalam tahap pengobatan, sementara lainnya masih sedang dalam misi."


Abra menghela napas kasar. Susah sekali bergerak di negara orang. "Kalau begitu untuk saat ini selesaikan semuanya secara manual dulu. Jika memungkinkan, kita pakai cara seperti biasanya. Nanti akan saya pikirkan kembali langkah selanjutnya."


"Baik, Bos." Abra menutup kembali ponselnya.


"Apa ada masalah lagi, Mas?" tanya Salwa.


"Tidak, barusan Roni telepon. Dia bilang anak buahnya melihat Ibra di sekitar hutan sebelah Utara kota, tapi saat mereka mengejar mereka kehilangan jejak. Sekarang mereka sedang berusaha mencarinya."


"Semoga saja dia cepat ditangkap."


"Semoga saja. Bagaimana? Apa semuanya sudah beres?"


"Sudah aku masukkan semuanya. Coba kamu periksa barang kamu, barangkali ada yang tertinggal."


"Nanti saja, tadi Lukas mengatakan pesawatnya besok, jadi kita masih ada waktu untuk istirahat. Kamu istirahatlah, aku akan keluar sebentar untuk menemui Roni. Aku ingin mengatakan sesuatu padanya sebelum kita pergi."


"Apa dia yang akan menghandle semua pekerjaanmu yang ada di sini?"


"Dia mengurus masalah mengenai Ibra. Kalau mengenai perusahaan, ada sendiri yang menanganinya."


Salwa mengangguk dan berkata, "Kamu hati-hati di sana."


"Iya, kamu tenang saja. Aku pergi dulu." Abra mencium kening sang istri yang kemudian berlalu pergi.


"Apa pun yang kamu kerjakan, semoga semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, Mas," gumam Salwa saat melihat kepergian sang suami.


Dia sangat tahu jika keadaan dirinya sedang tidak baik-baik saja. Wanita itu juga merasa jika kepergiannya kali ini untuk menyelamatkan diri bukan untuk pekerjaan, tetapi apa pun itu, jika memang ini yang terbaik Salwa hanya bisa menurut.


.


.

__ADS_1


__ADS_2