Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
24. Rindu


__ADS_3

Sudah dua minggu Salwa tidak bertemu dengan Abra. Dia benar-benar membuktikan kata-katanya untuk menjauhi pria itu. Jujur dalam hati, wanita itu sangat merindukannya. Namun, Salwa berusaha keras agar rasa rindu itu hilang dengan seiring berjalannya waktu.


Tidak jauh berbeda dengan Salwa, Abra pun merasakan hal yang sama. Pria itu merindukan tunangan saudaranya. Berkali-kali dia mencoba mengalihkan semua dengan pekerjaan, tetapi wajah Salwa selalu membayangi dirinya ke mana pun Abra pergi. Bahkan saat tidur pun pria itu sering memimpikannya.


Seperti malam ini, tiba-tiba saja Abra bermimpi melihat Salwa menangis. Namun, saat pria itu ingin menolongnya, dia tidak memiliki kekuatan untuk mendekati wanita itu. Kakinya seolah melekat kuat pada tanah yang dipijaki. Isak tangis dan raungan Salwa semakin keras dan menyayat hati.


Abra berusaha keras agar memiliki kekuatan untuk menolong Salwa. Saat kekuatan itu datang, dia berlari mendekati wanita itu. Namun, sayang, Salwa menghilang menjadi asap. Abra mencoba berlari ke sana ke mari mencari keberadaan wanita itu. Namun tak kunjung ditemukan juga.


Dia berlari sejauh mungkin, tetap saja tidak menemukan apa pun. Tiba-tiba terdengar suara Salwa meminta tolong. Hanya ada suara yang terdengar, wujud wanita itu sendiri tidak terlihat. Beberapa kali Abra berteriak, memanggil Salwa, tetapi wanita itu tetap menangis dan meminta tolong.


Abra terbangun dari tidurnya. Keringat membasahi tubuh, seolah dia selesai lari maraton. Pria itu tidak mengerti apa arti dari mimpi tersebut, tetapi Abra merasa ada sesuatu yang terjadi pada Salwa. Abra ingin menemuinya. Namun, ada keraguan yang menyelimuti dirinya.


Rasa rindu ini benar-benar sangat menyiksa Abra. Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Bahkan pada kekasihnya yang sudah lama tidak bertemu saja, pria itu tidak seperti ini.


Bukankah ini yang dia inginkan? Menjauh dari Salwa agar tidak menjadi masalah di kemudian hari. Abra benar-benar khawatir. Namun, tetap saja dia mencoba menepis pikiran, dan mensugesti dirinya bahwa saat ini tunangan saudaranya baik-baik saja. Jika terjadi sesuatu pasti Anton akan menghubunginya.


Pria itu melihat ke arah jam yang ada di dinding ternyata masih pukul 02.00 dini hari. Dia mencoba untuk menidurkan tubuhnya kembali. Namun, matanya tak kunjung bisa terpejam. Bayang-bayang Salwa meminta tolong, menjerit dan menangis, semuanya menjadi satu.


Hingga Abra memilih untuk berdiri di balkon, sambil menikmati pemandangan yang masih gelap gulita. Sebatang rokok dinyalakan untuk menghangatkan tubuhnya. Dia memikirkan apa yang dilakukan Salwa dan apa arti mimpi itu.


"Bagaimana keadaanmu sekarang? Jujur aku sangat merindukanmu. Padahal sebelumnya aku yang ingin kita berjauhan, tapi justru hatiku merasa sepi. Kamu sudah benar-benar mengambil separuh dari hatiku. Jika aku memperjuangkannya, pasti mereka tidak akan membiarkan aku dan kamu bahagia. Apa yang harus aku lakukan? Aku juga tidak ingin kamu menderita," ucap Abra dalam hati.


Kepulan asap rokok dari mulut pria itu diharapkan mampu membuat hati tenang. Namun, hingga beberapa batang sudah habis terbakar, hati Abra masih saja berada di tempat lain.


Sementara itu, di tempat yang lain, Salwa juga tidak bisa memejamkan matanya. Berbeda dengan Abra yang mengusir pikirannya dengan berdiri di balkon. Wanita itu lebih memilih duduk bersujud di atas sajadah. Berbagai doa dia panjatkan agar kehidupannya berjalan lebih baik.


Apa pun takdir yang sudah Tuhan gariskan untuknya, dia akan menerima dengan ikhlas. Salwa tahu jika Tuhan memberi apa yang dibutuhkan bukan yang diinginkan. Namun, Salwa tetap berdoa agar keinginannya bisa terpenuhi.

__ADS_1


Terlalu larut dalam doanya, tanpa sadar wanita itu tertidur di atas sajadah hingga pagi menjelang. Ketukan pintu membangunkan Salwa. Dilihatnya jam dinding, ternyata sudah jam lima pagi. Salwa pun membuka pintu. Ada Bik Sumi di sana.


"Iya, Bik. Ada apa?" tanya Salwa setelah membuka pintu.


"Oh, tidak apa-apa, Non. Dari semalam, Nona Salwa belum makan. Biasanya pagi-pagi sekali sudah ada di dapur mencari makanan, tapi dari tadi, Non Salwa di kamar saja. Apa, Non Salwa, baik-baik saja? Bibi jadi khawatir."


"Tidak apa-apa, Bik. Tadi aku ketiduran."


"Syukurlah kalau memang, Non Salwa, baik-baik saja. Lebih baik makan dulu, biasanya kalau malam nggak makan, pagi-pagi sekali cari makan."


"Iya, Bik. Habis ini aku akan turun, kok!"


"Ya sudah, kalau begitu. Bibi mau lanjutin masak. Mau buat makanan."


Salwa menutup pintunya kembali setelah Bik Sumi pergi. Dia akan melaksanakan shalat subuh terlebih dahulu sebelum turun.


"Romi, apa ada kabar dari Pak Anton?" tanya Abra setelah memasuki ruangannya.


"Kemarin sekretarisnya sudah mengirim laporan proyek. Setelah saya teliti, semuanya berjalan lancar, Tuan."


Abra mengembuskan napas pelan. Bukan itu maksudnya, dia ingin tahu bagaimana keadaan Salwa. Apakah wanita itu baik-baik saja atau tidak? Namun, untuk bertanya secara langsung, Abra takut kalau Romi akan salah paham dan menimbulkan masalah nantinya.


"Ada apa kamu ke sini? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Abra.


"Kemarin Pak Bima mencari Anda. Katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan Anda, tapi masalah pribadi. Saat saya tanya beliau tidak menjawab."


Abra yakin pasti ada sesuatu, tetapi dia bingung harus mulai pencarian dari mana. Pria itu pun kembali bertanya. "Apa Pak Bima mengatakan sesuatu?"

__ADS_1


"Tidak, Tuan. Sepertinya dia hanya ingin bicara dengan Anda. Sudah saya desak agar mengatakan tujuannya, tapi beliau tetap menolak dan akan bicara langsung dengan Anda."


"Kira-kira, menurutmu apa yang akan dibicarakan Pak Bima padaku? Sudah beberapa kali dia mengatakan hal-hal yang aneh, yang tidak kumengerti karena aku sedang menyamar jadi Ibra, aku hanya mengiyakan saja."


"Memangnya Pak Bima berkata apa, Tuan?"


"Dia mengatakan apa sudah tidak menginginkan kesenangan lagi? Dia juga beberapa kali mengajakku untuk makan siang. Aku pikir itu hanya makan siang biasa jadi, aku menolaknya. Bagaimana menurutmu? Apakah aku harus menerimanya, tetapi kalau dia berbicara sesuatu yang tidak kumengerti bagaimana?" tanya Abraham yang berusaha menggali informasi dari Romi.


Siapa tahu asisten itu mengetahui sesuatu tentang Ibra dan selama ini memang sengaja menyembunyikannya. Rasanya aneh saja saat seorang asisten yang seharusnya tahu segalanya, Romi justru tidak tahu apa pun kegiatan atasannya selama ini. Hanya karena tidak ingin mengganggu kesenangan atasannya bukan berarti dirinya melupakan tanggungjawab.


"Saya juga tidak tahu. Seperti yang saya katakan sebelumnya, setiap tuan Ibra pergi, beliau melarang saya untuk ikut."


Romi menundukkan kepalanya. Dia tahu Abra sedang curiga padanya, tetapi dirinya benar-benar tidak tahu apa-apa.


"Pergilah! Jika ada sesuatu, segera laporkan!"


Romi segera pergi tanpa berlama-lama. Atasan barunya benar-benar membuatnya jantungan. Sikapnya sangat tegas, hingga membuat beberapa karyawan takut padanya. Berbeda dengan Ibra yang selalu tersenyum dan selalu memaafkan kesalahan orang lain setelah mengatakan maaf.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2