Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
54. Harus mengalah


__ADS_3

“Kalau pun aku kesusahan, aku bisa menjamin bahwa aku tidak akan pernah merepotkan Papa dan Mama, jadi jangan khawatir. Aku tidak akan menyusahkan kalian. Bukankah aku sudah pernah berjanji kalau aku akan membuktikan kalau aku mandiri! Semuanya terbukti, aku tidak pernah meminta apa pun dari kalian. Bahkan saat aku menjadi Ibra dan bekerja di perusahaan Papa, aku juga tidak mengambil gajiku. Ya, hanya beberapa kali aku makan di rumah kalian. Anggap saja itu gajiku selama bekerja di perusahaan.”


Ayah dan anak itu sama-sama keras kepala dan tetap kekeh pada pendirian mereka. Hingga terjadi ketegangan di antara keduanya. Mama Syakila dan Salwa berusaha menenangkan suami masing-masing. Seorang pelayan datang membawa pesanan mereka dan menghentikan perdebatan.


“Sudah, lebih baik kita makan dulu. Nanti kita bicarakan lagi mengenai hal itu,” sela Mama Syakila.


Abra sebenarnya sangat malas jika harus makan dengan mereka. Dia ingin pergi saja dari sana. Namun, Salwa mencoba memberi ketenangan untuk sang suami. Wanita itu terus saja menggenggam telapak tangan suaminya. Abra pun menurut dan memakan pesanannya tadi.


Setelah selesai menghabiskan makanannya, pria itu ingin pamit. Namun, Mama Syakila mengatakan sesuatu sebelum mereka pergi. Salwa bisa melihat kesedihan di mata mertuanya. Sebagai sesama wanita, tentu saja dia tidak tega melihat itu, tetapi Abra terus saja menarik tangannya agar segera pergi.

__ADS_1


“Abraham, rumah kami selalu terbuka untukmu dan istrimu. Jika ada waktu, datanglah ke rumah. Mama pasti akan merindukanmu.”


Abra hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu dari sana, tanpa mengatakan satu kata pun. Mama Syakila kecewa, putranya sangat sulit tergapai. Pria itu telah membangun tembok yang terlalu tinggi, hingga tak tergapai. Hanya ada Serina yang ada di rumah. Namun, gadis itu selalu sibuk dengan kegiatannya dan jarang sekali berbincang dengan dirinya.


“Mas, apa tadi kita tidak keterlaluan pada mereka? Niat mereka baik ingin menyambung tali silaturahmi dengan kita,” ujar Syakila pada sang suami.


“Tidak apa-apa. Mungkin nanti suatu saat hubungan kita sebagai keluarga akan membaik, tapi untuk saat ini biarlah seperti ini.”


Setelah selesai menikmati makanannya, Papa Handi dan Mama Syakila akan pulang. Sebelum itu, mereka ingin membayar. Namun, pelayan bilang semua makanan sudah dibayar oleh orang yang tadi bersama mereka. Sudah bisa ditebak siapa yang membayarnya.

__ADS_1


Sementara itu, di sebuah mobil yang melaju, Abra dan Salwa dalam perjalanan pulang. Keduanya masih terdiam, memikirkan apa yang terjadi hari ini.


“Mas, apa tadi kita tidak keterlaluan pada Papa dan Mama?” tanya Salwa pada sang suami.


“Tidak, itu biasa saja. Lagian mereka juga sering melakukan hal seperti itu, jadi mereka tidak akan merasa tersakiti.”


“Tapi, Mas, sebagai seorang anak, kita seharusnya mengalah pada orang tua. Tidak seharusnya kita membalas perbuatan mereka. Setiap orang pasti pernah khilaf. Aku hanya tidak ingin suatu hari nanti anakku juga melakukan hal yang sama pada kita, seperti yang kita lakukan pada mereka.”


Abra terdiam mendengar ucapan sang istri. Dia juga tidak ingin anaknya melakukan hal seperti dirinya. Pria itu sudah membayangkan kebersamaan dengan anak-anaknya. Abra tidak ingin semua keinginannya hancur begitu saja. Benar apa yang dikatakan Salwa. Dia harus berdamai dengan masa lalu.

__ADS_1


.


.


__ADS_2