Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
52. Pengkhianat


__ADS_3

Abra sudah diperbolehkan pulang. Dia memilih pulang ke apartemen saja. Hanya Roni yang selalu setia menemani Abra dan Salwa ke mana pun mereka pergi. Lukas juga sudah bebas dengan bantuan Leo. Tentu saja dengan memanipulasi kamera di tempat kejadian.


"Roni, bagaimana keadaan Lukas? Apa dia sudah bebas?" tanya Abra.


"Sudah, Bos. Sekarang sudah kembali ke apartemen sebelah."


"Aku ingin ke sana sebentar. Nanti kalau Salwa mencariku, bilang saja aku menemui Lukas. Ada beberapa hal yang harus aku bicarakan dengannya."


"Baik, Bos."


Abraham pergi ke apartemen sebelah untuk menemui Lukas. Dari kemarin dia ingin bicara dengan pria itu. Namun, belum ada waktu yang tepat. Baru kali ini Abra punya kesempatan.


"Selamat Pagi, Bos," sapa Leo pada Abra yang baru memasuki apartemen.


"Di mana kakakmu?" tanya Abra tanpa basa-basi.


"Ada di meja makan."


Abra mengangguk dan berlalu menuju meja makan dengan wajah datar. Leo yakin yang datang kali ini bukanlah Abra yang baru-baru ini dia kenal, tetapi Bosnya yang sudah sangat lama dia tidak lihat. Seseorang yang sudah haus akan kekerasan. Pria itu yakin bahwa kakaknya telah melakukan sesuatu yang sudah membuat bosnya marah. Abra duduk di kursi di depan Lukas yang sedang menikmati sarapannya.


"Selamat Pagi, Bos. Anda mau sarapan di sini?" tawar Lukas.

__ADS_1


"Tidak perlu, ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Abra dengan pandangan tegas dan sorot mata yang tajam. Lukas tahu jika saat ini Abra yang dulu sudah kembali.


"Tanya apa, Bos?"


"Kenapa kamu ingin membunuh Salwa?" tanya Abraham, membuat Leo yang ikut duduk di sana pun tersedak ludahnya sendiri. Dia terkejut mendengar pertanyaan dari bosnya. Setahunya saat Lukas keluar dari penjara kakaknya sama sekali belum keluar dari apartemen, jadi kapan Lukas berniat membunuh Salwa?


Abraham menatap Lukas, menunggu pria itu menjawabnya. Begitu pula dengan Leo yang ikut menatap kakaknya. Dia masih belum percaya dengan apa yang dikatakan bosnya. Pria itu yakin jika Lukas tidak mungkin melakukannya. Namun, jawaban kakaknya justru membuatnya terluka.


"Karena saya ingin Anda kembali seperti dulu," jawab Lukas.


Dia tahu, tidak mudah membohongi Abra, jadi lebih baik Lukas mengakui kesalahan yang sudah dilakukannya.


"Kapan Kakak ingin membunuh wanita itu? Selama keluar dari penjara, Kakak 'kan berada di apartemen terus?" tanya Leo yang sudah tidak sabar.


"Tidak, dia tidak sama sekali tidak tahu apa pun. Semua murni rencanaku pribadi."


"Aku tidak akan menanyakan apa pun lagi. Aku hanya ingin menyampaikan suatu hal pada kalian. Aku akan membantu kalian melawan musuh untuk satu kali ini. Setelah itu, aku akan pergi dan tidak akan kembali ke dalam kelompok kalian lagi. Terserah kamu mau melakukan apa pun terhadap kelompok itu. Anggap saja ini semua sebagai balasan karena kalian sudah membantuku mencari Salwa saat itu. Aku tidak ingin bergabung dengan seorang pengkhianat," ucap Abra membuat Lukas menundukkan kepala.


Dia tahu kesalahannya sudah sangat fatal, tetapi pria itu melakukan semua itu demi kelompoknya. Selama di sini, Abra selalu mendahulukan Salwa di atas segalanya karena itu, Lukas ingin bosnya kembali seperti dulu. Menjadi seorang yang tidak memperdulikan siapa pun yang ada di sekitarnya.


"Bos, apa tidak bisa dibicarakan baik-baik? Mungkin saat itu kakakku pikirannya sedang kacau. Tolong pikirkan kembali, bagaimana nasib kelompok kita?" Leo berusaha membujuk bosnya itu.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu khawatir. Lukas sudah banyak kemajuan, Aku yakin dia bisa memimpin kelompok dengan baik. Dan kamu Leo, sebagai adiknya kamu harus membantu tugas untuk memimpin kelompok itu. Jangan mengambil keputusan karena emosi. Pikirkan orang yang ada di kelompok dan pikirkan masa depan kalian," ucap Abraham yang kemudian berdiri dari duduknya. "Kalian kabari saja saat waktu tiba, aku akan datang. Setelah semua selesai, aku akan pergi."


Abra meninggalkan apartemen yang di tempati Lukas dan Leo. Lebih baik dia menemani sang istri. Begitu memasuki apartemennya, tampak Salwa duduk di ruang tamu.


"Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Abra yang kemudian mendudukkan tubuhnya di samping sang istri.


"Sudah, Mas. Kamu Ada urusan apa di dengan Lukas?"


"Ada beberapa masalah. Semuanya juga sudah selesai," jawab Abra. "Kamu sudah makan, belum?"


"Belum, Mas. Aku nggak selera makan sendirian."


"Ya sudah, ayo, makan! Aku nggak mau istriku yang cantik ini kelaparan."


Salwa mengangguk, lalu berdiri dengan di bantu sang suami. Abra segera memeluk pinggang istrinya dan berjalan menuju meja makan. Wanita itu tersenyum dengan perlakuan Abra.


Saat di meja makan sudah ada Roni di sana sedang menikmati kopi. Pria itu ingin pergi, tetapi Abra melarangnya dan meminta dia tetap di sana. Roni merasa tidak enak, tetapi tidak mungkin menolak perintah Abra.


Mereka menikmati sarapan yang di pesan Abra tadi sebelum pergi. Salwa begitu sangat menikmatinya, tentu saja itu membuat sang suami tersenyum. Pria itu berjanji akan melakukan semuanya demi istrinya.


"Tunggu sebentar lagi. Setelah aku terbebas dengan kelompok itu, kita akan hidup dengan damai. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu," ucap Abra dalam hati.

__ADS_1


.


.


__ADS_2