
“Bukankah Papa pengusaha kaya. Saya yakin uang Papa juga masih sangat cukup untuk membayar beberapa pengawal. Kenapa harus meminta seseorang yang sudah bekerja denganku?” tanya Salwa pada mertuanya.
Bukan tanpa sebab wanita itu berkata demikian. Bahkan Papa Handi lebih kaya jika dibandingkan dengan Papa Anton.
“Kamu jangan sombong. Mereka itu pengawal Abra, jadi aku lebih berhak dijaga oleh mereka,” sahut Papa Handi.
“Oh, ya! Boleh aku tahu apa alasan yang membuat Papa lebih berhak daripada aku?”
“Karena aku orang tuanya.”
“Itu tidak menjamin. Aku adalah istrinya, apalagi saat ini aku sedang hamil. Apa Papa tidak ingat jika Abra lebih membelaku daripada siapa pun Apalagi Papa."
“Kamu hanya di rumah saja, siapa yang akan mencelakai kamu.”
Salwa menarik napas dalam-dalam. Dia sudah mencoba bersabar menghadapi mertuanya, tetapi Papa Handi sepertinya semakin ingin menguji kesabarannya. Lebih baik wanita itu mengalah daripada perdebatan semakin panjang.
Wanita itu berharap Abra tidak kecewa dengan keputusannya. Salwa hanya tidak ingin memperumit masalah. Biarlah dia yang mengalah. Ini juga untuk kebaikan bersama.
“Baiklah jika Papa ingin seperti itu. Sebaiknya Papa bilang saja sama mereka, kalau Papa ingin mereka ikut dengan Papa," ucap Salwa pada akhirnya.
“Kamu suruh mereka ke sini, biar aku yang bicara sama mereka.”
Meski enggan, Salwa tetap melakukan apa yang diinginkan oleh mertuanya. Dia mengambil ponsel dan mencoba untuk menghubungi Andre. Mengenai pengawalnya itu mau atau tidak, itu terserah mereka. Begitu panggilan tersambung, terdengar suara pria di balik telepon.
“Halo, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?”
“Andre, kamu masuklah ke dalam rumah bersama teman-temanmu.”
“Ada apa, Nyonya? Apa terjadi sesuatu?” tanya Andre yang sedang khawatir.
__ADS_1
“Tidak ada apa-apa, kamu masuk saja. Aku tunggu di ruang tamu.” Salwa segera menutup panggilan, sebelum Andre menanyakan banyak pertanyaan.
“Tunggu saja, sebentar lagi juga mereka akan masuk,” ucap Salwa pada mertuanya.
Benar saja, tidak berapa lama Andre masuk bersama dengan temannya. Mereka datang tergesa-gesa karena berpikir jika sesuatu terjadi pada majikannya. Terlihat napas mereka tidak beraturan, pasti habis berlari
“Apa yang sudah terjadi, Nyonya?” tanya Andre mewakili pertanyaan teman-temannya.
“Tidak ada apa-apa. Papa mertuaku ingin bicara dengan kalian,” jawab Salwa membuat Andre dan teman-temannya menatap Papa Handi.
“Benar, aku mau minta kalian untuk menjadi pengawalku karena bagaimanapun, aku adalah Papanya Abra. Aku lebih berhak daripada Salwa, jadi mulai hari ini kalian harus bekerja denganku,” ucap Papa Handi dengan angkuhnya.
Andre dan teman-temannya saling pandang seolah bertanya, apa maksud dari perkataan orang tua atasannya. Pria itu menegakkan tubuhnya sebelum menjawab. Sekarang dia sudah mengerti perkataan dari pria paruh baya itu.
Seorang pengawal memang bekerja untuk mendapatkan uang, begitu juga dengan Andre. Akan tetapi, pria itu tetap mematuhi siapa majikannya, sekalipun orang lain bisa memberi gaji lebih.
“Maaf, Tuan. Kami berada di sini atas perintah dari Tuan Roni untuk menjaga Nyonya Salwa. Kami tidak bisa berhenti begitu saja dan berpindah pada orang lain dengan seenaknya, tanpa perintah dari Tuan Roni. Jika Anda ingin kami berpindah menjadi pengawal Anda, lebih baik Anda berbicara lebih dulu dengan Tuan Roni. Saya hanya mengikuti perintah Tuan Roni,” ujar Andre.
“Tuan Roni adalah asisten dari Tuan Abra dan kami bergerak atas perintah Tuan Roni.”
“Posisi Abra lebih tinggi, kenapa kalian harus menuruti perintah Roni? Seharusnya kalian mendahulukan kami!” ucap Papa Handi dengan nada tinggi.
Pria itu benar-benar marah karena merasa dirinya tidak dihormati sama sekali. Bagaimana tidak, dia kalah oleh seorang asisten yang sama sekali bukan siapa-siapa.
“Posisi Tuan Roni memang di bawah pimpinan tuan Abra dan kami juga akan menuruti Tuhan Abra jika itu Tuan Abra sendiri yang berbicara pada kami, tanpa perantara orang lain.”
“Bilang saja kalian ingin memperumitku. Apa kalian mau dipecat karena tidak menuruti keinginanku?”
“Silakan saja Anda berbicara dengan Tuan Abra, saat beliau mengatakan bahwa kami harus mengikuti Anda. Maka detik itu juga saya akan berada di bawah perintah Anda.”
__ADS_1
Andre sama sekali tidak takut dengan ancaman yang diberikan Handi. Dia sudah biasa berada dalam posisi seperti ini. Pria itu tetap akan mempertahankan keyakinannya, apa pun yang terjadi.
“Kamu berani-beraninya menentang perintah saya. Kamu ma—“
“Pa, mohon maaf. Jika kedatangan Papa hanya ingin mencari masalah, sebaiknya Papa kembali pulang saja. Aku sedang tidak mood untuk berdebat,” sela Salwa yang benar-benar sudah lelah.
Mendengar ucapan Salwa, tentu saja semakin membuat Papa Handi emosi. Pria itu tidak terima melihat menantunya yang merasa paling berkuasa. Dia yang sudah membesarkan Abra, tetapi usahanya sama sekali tidak dihargai.
“Kamu akan lihat nanti. Saat Abra pulang pasti kamu akan dipecat olehnya,” ucap Papa Handi pada Andre. “Dan kamu, siap-siap saja ditinggalkan oleh Abra,” lanjut pria itu sambil menunjuk ke arah Salwa.
Handi kemudian menarik istrinya untuk segera pergi dari sana. Dia benar-benar merasa dipermalukan karena mendapat penolakan dari pengawal itu. Papa Handi berpikir Andre bukanlah siapa-siapa, tetapi pengawal itu berani menolak apa yang diperintahkan olehnya. Tentu saja membuat pria itu murka.
Sepanjang perjalanan pulang, Handi tidak henti-hentinya mengumpati Andre dan juga Salwa. Sedangkan Mama Syakila hanya diam mendengarkan tanpa mau berkomentar. Wanita itu merasa bersalah sudah membuat keributan di rumah besannya, tetapi mau bagaimana lagi, sikap suaminya memang mudah emosi.
“Kenapa kamu tadi tidak ikut saja dengan Papa. Pasti nantinya akan jadi masalah,” ucap Salwa pada Andre.
“Maaf, Nyonya. Seperti yang saya katakan tadi. Saya hanya ditugaskan untuk menjaga Anda agar tetap baik-baik saja.”
“Ya sudahlah, terserah kalian. Kembalilah!”
“Terima kasih, Nyonya. Kami permisi,” ucap Andre dengan sedikit membungkukkan tubuhnya diikuti dua orang yang ada di belakang dan kemudian berlalu dari sana.
Salwa berpikir pasti nanti mertuanya tidak akan menyerah dan akan membuat masalah, wanita itu juga tidak begitu peduli. Dia siap meladeninya. Sebenarnya Salwa juga tidak masalah, kalau pun Andre dan teman-temannya ikut bersama dengan mertuanya. Selama ini dia juga dalam keadaan baik-baik saja.
Padahal tanpa pengetahuan wanita itu, beberapa kali ada orang yang ingin mencelakainya. Hanya saja sudah lebih dulu dicegah oleh Andre dan teman-temannya. Mereka ternyata dari musuh yang saat ini terlibat pertarungan.
“Sudah, tidak perlu dipikirkan. Sebaiknya kamu istirahat saja, pasti kamu lelah,” ucap Papa Anton.
“Iya, Pa,” sahut Salwa yang kemudian berjalan memasuki kamarnya.
__ADS_1
.
.