
“Bos, apa tidak sebaiknya Anda pulang? Nyonya Salwa sudah sangat merindukan Anda,” ucap Roni yang saat ini sedang menemani atasannya di sebuah apartemen.
Bukan tanpa sebab dia berkata seperti itu. Dia sering mendengar laporan dari Andre jika Salwa selalu bertanya. Wanita itu juga sering menangis jika sedang sendiri. Roni kasihan melihatnya. Pria itu juga tahu jika Abra juga sama rindunya pada sang istri.
“Mana mungkin aku menemuinya dalam keadaan seperti ini. Kedatanganku pasti akan menambah beban saja,” sahut Abra dengan menahan kesedihan.
“Saya yakin Nyonya Salwa tidak akan keberatan akan hal itu. Dia pasti senang melihat Anda kembali dengan selamat.”
“Aku memang kembali dengan selamat, tetapi tidak sempurna,” ucap Abra dengan melihat ke arah kakinya.
Saat ini Abra memang mengalami kelumpuhan akibat terjatuh dari lantai dua. Dia masih bersyukur karena masih bisa selamat. Akan tetapi, saat pertama kali pria itu mendengar kata dokter, dirinya merasa hancur karena menjadi orang yang tidak berguna. Bagaimana pria itu menemui sang istri dalam keadaan seperti ini.
Abra sangat ingin menemui istrinya setelah pertempuran telah usai. Namun, semuanya hancur kala dokter memvonisnya lumpuh. Meski dia bisa sembuh, tetapi semuanya butuh waktu. Itulah kenapa saat ini pria itu sedang berusaha sembuh.
“Tapi, saya yakin Nyonya Salwa tidak masalah dengan hal itu. Dia hanya ingin Anda pulang dengan selamat, tidak peduli bagaimanapun keadaan Anda saat ini.”
“Aku tidak bisa seperti itu. Aku seorang laki-laki, tidak ingin menyusahkan Salwa.”
“Apa Anda tidak ingin menemaninya? Saat ini dia sedang membutuhkan Anda. Dia sedang hamil, apa Anda tidak ingin mengetahui bagaimana kondisi calon bayi Anda?” tanya Roni.
Tidak dipungkiri bahwa Abra sangat ingin menemani istrinya. Namun, keadaannya saat ini tidak memungkinkan. Dia sangat malu bertemu dengan Salwa dalam keadaan seperti ini. Pasti kehadirannya justru akan semakin menyulitkannya.
“Tuan ....”
“Roni, sebaiknya kamu laksanakan saja tugasmu. Kembalilah ke luar negeri dan jalankan perusahaan.”
“Saya tidak akan pergi ke mana-mana, Bos. Saya akan selalu menemani Anda. Itu janji saya pada Anda.”
“Tapi, Roni ....”
__ADS_1
“Sudah, Bos. Anda mau makan apa? Biar saya siapkan.”
Abra menghela napas pendek dan berkata, “Tidak perlu, aku masih kenyang. Apa ada kabar terbaru dari Andre?”
“Baru saja dia menghubungi saya dan mengatakan jika orang tua Anda datang dan menginginkan Andre dan teman-temannya menjadi pengawalnya, tapi Andre dan teman-temannya menolak. Mereka tetap akan menjaga Nyonya Salwa seperti yang Anda inginkan.”
“Apalagi yang mereka inginkan. Tidak cukupkah selama ini mereka menelantarkanku! Baguslah jika Andre sudah menolak permintaan itu. Apa pun keadaannya, Andre harus tetap menjaga Salwa dan calon anakku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka. Hanya Andre dan teman-temannya yang saat ini bisa aku andalkan.”
“Andre memang bisa menjaganya, tapi ada saatnya Nyonya Salwa juga membutuhkan Anda sebagai suami. Andre tidak mungkin seterusnya menjaga Nyonya Salwa. Seorang wanita juga pasti membutuhkan seorang pendamping.”
“Roni, tadi aku sudah menyuruhmu untuk keluar, kan? Sekarang keluarlah. Aku ingin istirahat,” ucap Abra yang tidak ingin diganggu.
Mau tidak mau, Roni pun akhirnya keluar. Dia memutuskan untuk jalan-jalan mencari udara segar. Sementara itu, Abra masih duduk di atas kursi roda sambil memandangi kota lewat jendela apartemennya. Hanya itu kegiatannya sehari-hari.
Saat Salwa pergi periksa kandungan, baru dia pergi. Itu pun dengan segala penyamaran yang dia lakukan. Pria itu ingin melihat keadaan calon anak-anaknya. Besok adalah pemeriksaan kandungan. Abra akan datang seperti sebelumnya.
Keesokan paginya, Abra sudah bersiap akan pergi ke rumah sakit. Hari ini jadwal pemeriksaan kandungan Salwa. Dia akan pergi bersama dengan Roni. Sebelumnya pria itu menghubungi Andre dan memastikan bahwa Salwa dalam keadaan aman.
“Apa Anda sudah siap, Bos?”
“Sudah jam berapa? Kapan Salwa akan pergi ke sana?”
“Andre belum memberi kabar, Bos. Mungkin seperti sebelum-sebelumnya.”
“Baiklah, aku ingin sampai di sana sebelum Salwa sampai.”
“Iya, Bos.”
Abra dan Roni pun keluar dari apartemen, menuju dokter kandungan tempat biasa Salwa memeriksakan kandungannya. Tampak senyum di wajah pria itu. Dia tidak sabar ingin mendengar detak jantung buah hatinya. Sebenarnya pria itu ingin melihat bentuknya, tetapi sayang sang istri menolak untuk USG.
__ADS_1
Sementara itu, Salwa masih santai saja di rumah sambil menonton televisi. Dia masih belum berniat untuk bersiap-siap pergi. Tiba-tiba saja wanita itu malas untuk pergi ke mana-mana. Hingga Andre sendiri yang bertanya padanya.
“Maaf, Nyonya. Apa Anda tidak ingin pergi ke dokter kandungan? Bukankah hari ini jadwal Anda periksa?”
“Aku sangat malas, Andre, tetapi benar apa yang kamu katakan. Hari ini memang jadwal pemeriksaan kandunganku. Kamu tunggu sebentar, aku mau ganti baju dulu. Aku juga mau dandan sudah lama sekali aku tidak memakai bedak.”
Salwa pun tersenyum dan meninggalkan pengawalnya untuk menuju kamar. Andre mengirim pesan pada Roni jika Salwa sedang bersiap. Dari tadi atasannya itu terus saja bertanya kapan Salwa akan pergi karena Abra dan Roni sudah menunggu sejak satu jam yang lalu. Namun, tidak ada tanda wanita itu akan datang.
Saat Salwa sedang bersiap pun butuh waktu yang sangat lama. Hingga membuat Andre tegang. Beberapa kali pria itu melihat ke arah jam. Dia semakin khawatir karena membuat atasannya menunggu terlalu lama.
“Andre, ayo kita pergi!” ajak Salwa membuat pengawalnya itu menoleh.
Betapa terkejutnya Andre melihat Salwa yang tampil begitu cantik. Baru kali ini pria itu melihat istri atasannya tampil begitu memukau. Padahal biasanya hanya make up tipis saja. Sekarang sangat luar biasa cantik sekali. Apalagi dengan gaun yang sangat pas di tubuhnya.
Salwa diam-diam tersenyum karena melihat Andre hanya diam menatapnya. Dia yakin jika pria itu sudah terpesona olehnya. Hal ini memang menjadi tujuannya. Wanita itu ingin memancing ikan besar dengan umpan kecil.
Semoga saja dengan begini rencananya berhasil. Salwa ingin tahu apa yang akan dilakukan sang suami, jika tahu dirinya melakukan sesuatu yang tidak pernah dia duga. Sebenarnya Salwa sudah tahu jika Abra sudah kembali dengan sebuah kekurangan. Namun, dia tidak tahu pasti Apa kekurangan itu.
Jika memang Abra tidak mau keluar, maka dirinyalah yang harus memancingnya karena itu dia melakukan hal ini. Sebenarnya cukup memalukan, tetapi tidak ada cara lain lagi.
“Andre, kenapa kamu melamun? Ayo, kita pergi! Ini sudah siang.”
“I–iya, Nyonya,” jawab Andre dengan gugup.
Dia benar-benar merasa terhipnotis dengan penampilan atasannya itu. Jika saja wanita yang ada di depannya bukanlah istri Abra. Dia pasti akan merebutnya begitu saja tanpa ragu-ragu.
.
.
__ADS_1