
"Mas, kalau di luar negeri, kamu tinggal sama siapa?" tanya Salwa.
"Aku tinggal sendiri. Kadang juga sekretarisku atau Roni tidur di sana jika banyak pekerjaan yang mendesak. Kalau nanti kamu ikut ke sana, aku jadi ada temannya, jadi mereka tidak perlu datang."
"Kalau kamu bekerja, pasti aku di rumah sendiri."
"Kamu kalau mau cari teman juga nggak apa-apa. Nanti aku bisa cari asisten rumah tangga biar kamu juga nggak capek."
"Biasanya siapa yang masak dan bersih-bersih di rumah?"
"Kalau beresin rumah, ada orang yang setiap hari datang kalau siang. Aku tidak begitu suka satu atap dengan orang asing. Kalau soal makanan, asistenku yang menyediakan."
"Asisten kamu, laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki."
"Em ... sebaiknya nggak usah cari asisten rumah tangga. Aku bisa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri."
"Tapi, kamu pasti capek mengerjakan pekerjaan rumah meskipun begitu saja. Lebih baik kita cari asisten rumah tangga."
"Nggak mau. Aku sering dengar asisten rumah tangga yang menggoda majikannya. Aku nggak mau seperti itu."
Abra tertawa mendengar ucapan Salwa. Bagaimana bisa istrinya itu bisa terpengaruh dengan gosip-gosip seperti itu. Cintanya hanya untuk Salwa seorang. Tidak ada tempat untuk wanita lain.
"Aku sudah cinta mati sama kamu, Sayang. Mana mungkin aku tergoda oleh wanita lain. Apalagi seorang asisten rumah tangga."
"Banyak juga yang bicara seperti itu, tapi akhirnya main gila juga."
"Kalau kamu posesif seperti ini. Aku jadi makin cinta deh, sama kamu," ucap Abra sambil mencium pipi istrinya, membuat Salwa kegelian.
Keduanya bercanda dan tertawa bersama. Hal seperti ini yang mereka inginkan sampai maut memisahkan. Abra berjanji, hanya ada Salwa di hatinya. Begitupun dengan wanita itu yang hatinya sudah penuh dengan Abra. Ponsel Abra berdering, ada sebuah pesan masuk dari Lukas. Pria itu pun membacanya.
"Wanita yang kamu bilang kemarin. Yang kamu minta aku mencarinya, sudah ketemu," ucap Abra setelah meletakkan ponselnya di atas meja.
__ADS_1
"Oh, Mbak Lia!"
"Iya, dia sekarang sudah bekerja di tempat salah satu anak buah Lukas, tapi hanya bisa memberi pekerjaan sebagai cleaning service. Melihat Mbak Lia yang tidak memiliki keahlian. Bahkan ijazahnya hanya SMP, jadi anak buah Lukas tidak bisa memberi pekerjaan yang lebih."
"Tidak apa-apa, Mas. Aku rasa itu juga sudah cukup daripada pekerjaan Mbak Lia sebelumnya. Sebenarnya dia orang yang baik, hanya saja semua serba terbatas baginya, jadi dia terpaksa ikut bekerja pada orang yang jahat."
"Iya, anak buahku juga sudah menyelidiki tentang dia. Ternyata dia memang orang yang benar-benar baik. Dia masih memiliki seorang anak dan seorang ibu yang harus dinafkahi."
"Terima kasih, ya, Mas. Kamu sudah memahamiku."
"Dia sudah menyelamatkan istriku, sudah sewajarnya aku juga menolongnya. Oh ya Sayang besok sidang pertama Ibra. Apa kamu mau datang?"
"Apa aku perlu datang?"
"Kata pengacara, besok kamu harus datang karena kamu adalah saksi kunci dari kejadian ini. Sekaligus juga korban, jadi kamu yang pertama dimintai keterangan nantinya. Mbak Lia juga akan menjadi saksi."
"Aku takut jika pengacara keluarga Ibra akan menyudutkanku dan menanyakan hal yang macam-macam," ucap Salwa sambil menundukkan wajahnya.
"Aku akan datang. Aku tidak ingin semuanya semakin berlarut-larut."
"Aku akan menemani kamu besok."
"Memangnya kamu nggak kerja?"
"Ada orang lain yang bisa menggantikanku. Lagi pula aku biasanya juga kerja dari rumah. Nanti bisa sesekali lihat email. Kamu tidak perlu khawatir pada pekerjaanku."
"Ya sudah, ayo, kita istirahat!" ajak Salwa. Abra pun mengangguk.
Keduanya tidur sambil berpelukan, menyalurkan kasih sayang, yang hanya mereka tujukan kepada orang yang mereka cintai. Salwa merasa bersyukur, dia harusnya berterima kasih pada keluarga Ibra yang mendatangkan Abra dalam kehidupannya. Seandainya saja Ibra tidak sakit, pasti dia tidak akan pernah bertemu dengan pria itu dan akan tetap menikah dengan Ibra. Yang lebih menyakitkan karena tunangannya itu dulu sudah mengkhianatinya.
Pagi hari Maysa sudah siap untuk pergi ke pengadilan. Sementara Abra, masih sibuk dengan laptopnya, tetapi itu tidak masalah karena menurut pengacara sidangnya agak siang, jadi mereka masih bisa bersantai di rumah.
"Kamu sudah siap, Sayang?" Tapi kata pengacara, persidangannya siang?" tanya Abra.
__ADS_1
"Iya, aku mau siap-siap dulu saja. Lagian aku nggak ngapa-ngapain juga."
"Bagaimana kalau kita makan di luar dulu, sebelum pergi ke sana?"
Salwa mengangguk. Mereka juga jarang sekali makan di luar. Dia juga perlu memiliki tenaga untuk menghadapi persidangan nanti. Abra pun bersiap-siap. Sedangkan Salwa menunggunya di ruang keluarga.
"Ayo, Sayang!" ajak Abra saat dirinya sudah siap. Keduanya pun pergi mencari restoran favorit mereka. Ibra memilih meja di dekat jendela agar bisa melihat kesibukan orang di luar sana. Salwa pun memesan makanan.
"Ibra, nggak nyangka kita bisa bertemu di sini," sapa seorang wanita yang memakai pakaian minim. Abra tidak peduli sama sekali, dia sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya. Sedangkan Salwa menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Ibra, kamu kok diam saja? Apa kamu nggak kangen sama aku? Sudah lama kita tidak pergi bersama," ucap wanita itu lagi.
"Maaf, Nona. Sepertinya Anda salah orang. Saya bukan Ibra. Saya adalah Abra, saudara kembarnya Ibra. Sebaiknya anda pergi sekarang, jangan sampai membuat saya emosi," ucap Abra yang sudah menahan emosi.
Salwa yang tahu sang suami sedang marah segera menggenggam telapak tangannya. Dia tidak ingin membuat masalah di restoran. Wanita itu pun segera pergi. Memang dari cara bicaranya dia tahu jika pria yang ditemui itu memang bukan Ibra.
Abra menatap sang istri sambil tersenyum. "Maaf sudah membuat acara makan kita terganggu."
"Tidak masalah. Aku senang dengan apa yang kamu lakukan. Ayo, kita selesaikan dan segera pergi."
Abra mengangguk dan segera menyelesaikan makannya. Setelah selesai, keduanya menuju pengadilan. Di sana sudah cukup banyak yang datang. Papa Handi dan Mama Syakila sudah hadir. Ada juga beberapa wartawan yang datang. Begitu Abra dan Salwa turun dari mobil, para wartawan mendekatinya untuk mewawancarai.
"Tuan Abra, apa benar Anda putra dari Bapak Handi? Kenapa selama ini Anda tidak pernah terlihat? Apa Anda memang sengaja disembunyikan?" tanya seorang wartawan. Namun, Abra sama sekali tidak menjawab dan terus saja berjalan.
"Tuan, benarkah Anda menikah dengan Nona Salwa itu sebagai balas dendam kepada keluarga mereka?" tanya wartawan lainnya membuat Abraham berhenti melangkah dan menatap wartawan itu dengan tajam.
"Saya menikah dengan Salwa, itu karena saya mencintainya. Jangan pernah membuat berita yang tidak-tidak. Kamu akan tahu sendiri akibatnya!"
Jawaban Abra membuat wartawan itu diam sekaligus takut dengan tatapan tajamnya. Salwa pun menarik sang suami agar segera masuk.
.
.
__ADS_1