Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
6. Rahasia Ibra


__ADS_3

Setelah Sisca benar-benar pergi, Abra mengunci kembali pintu ruangannya dan membuka lemari yang tadi dibuka Sisca. Alangkah terkejutnya pria itu melihat isinya. Berbagai alat kontrasepsi dan juga beberapa benda seperti alat vital pria.


Pria itu tidak habis pikir, kenapa benda semacam ini ada di tempat kerja? Apa saudara kembarnya itu memainkan semua benda ini? Abra menutup kembali lemari itu. Romi juga sepertinya tidak tahu semua ini. Dia harus mencari tahu semuanya sendiri.


Pintu diketuk seseorang dari luar, Abra segera membukanya. Ternyata Romi dengan membawa hasil meeting tadi dengan Anton. Pria itu melihat sekeliling ruangan atasannya. Dia takut Abra melakukan sesuatu.


"Kenapa dikunci, Pak?" tanya Romi sambil mengikuti langkah Abra menuju kursi kebesaran.


"Saya hanya ingin ketenangan," kilah Abra, dia tidak ingin memberi tahu siapa pun dulu. Terlalu banyak yang tahu juga semakin sulit mencari kebenaran.


"Apa Tuan Handi menekan Anda lagi, Tuan?"


"Begitulah, kamu tahu sendiri atasanmu itu seperti apa."


Abra memejamkan matanya sambil bersandar. Romi yang tidak ingin mengganggu pun menuju mejanya dan melanjutkan pekerjaan. Dulu dia melihat Ibra seperti ini, sekarang saudara kembar atasannya. Akankah nasib mereka sama?


*****


"Apa yang kamu bicarakan dengan Ibra tadi?" tanya Anton pada Salwa saat mereka sedang menikmati makan malam.


"Tidak ada, hanya obrolan santai."


"Kalau obrolan santai, kenapa Romi harus keluar?"


Salwa mendengus kesal, ternyata papanya masih saja memata-matainya. "Kenapa pulang tadi? Kalau ingin tahu apa yang kami lakukan, kenapa tidak menunggu sampai kami pergi saja?"


"Saya hanya bertanya, kenapa kamu marah?"


"Dan saya hanya menjawab jika tidak percaya terserah!"

__ADS_1


"Kemarin kamu ngotot ingin pertunangan ini dibatalkan, kenapa sekarang tidak lagi? Apa kemarin itu hanya omong kosong?"


Salwa sebelumnya memang ingin mengakhiri pertunangan ini setelah dia melihat perbuatan Ibra. Namun, setelah melihat tunangannya kemarin, ada sesuatu yang berbeda darinya. Wanita itu merasa itu Ibra yang lain dan Salwa ingin tahu lebih dalam.


Tatapan pria itu berbeda, meski terlihat dingin ada kehangatan di dalamnya. Dia bisa merasakan hal itu saat di dekatnya. Siapa pun pria itu, Salwa berharap dia orang yang selama ini ditunggu.


"Sepasang kekasih bertengkar itu hal yang wajar, kan! Jadi untuk apa diperpanjang. Aku sudah selesai, permisi." Salwa meninggalkan meja makan begitu saja. Dia tidak ingin papanya bertanya lebih dalam lagi. Wanita itu sudah seperti di penjara di rumahnya sendiri.


"Dasar anak tidak tahu diri. Kalau bukan karena pertunanganmu dan Ibra, aku tidak akan peduli padamu," gumam Anton. Dia sangat membutuhkan suntikan dana dari perusahaan keluarga Ibra untuk perkembangan perusahaannya.


*****


Abra memasuki kamarnya yang dulu menjadi kamar Ibra. Pria memeriksa seluruh ruangan, setiap sudut, bahkan setiap jengkal dari kamar itu. Dia ingin tahu apa ada ruangan rahasia seperti yang ada di kantor atau tidak. Namun, Abra tidak menemukan apa pun. Pria itu berpikir mungkin juga saudara kembarnya memang tidak menyimpan rahasianya di rumah ini karena takut jika keluarga mengetahui semuanya.


Abra penasaran, sudah sejauh mana saudara kembarnya itu bertingkah. Dari yang dia temukan tadi, sepertinya bukan hanya Siska yang menjadi pelampiasan hasratnya. Bisa jadi itu sudah menjadi kebiasaannya. Pria itu penasaran mengenai yang dikatakan Romi kemarin, bahwa Ibra sering keluar bersama dengan bawahannya, terutama Pak Bima.


Lagi pula menurut Romi, Ibra juga sebelumnya sering mengajak bawahannya itu keluar. Tidak masalah bukan jika saat ini dirinya yang lebih dulu berinisiatif, tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya selain keluarga. Pria itu sudah memutuskan rencana seperti itu. Tiba-tiba pintu kamar diketuk seseorang, saat dibuka ternyata ART-nya.


"Maaf, Tuan. Anda ditunggu Tuan Handi di meja makan," ucap Bik Ita.


"Sebentar lagi saya akan turun," sahut Abra.


Bik Ita pun meninggalkan kamar anak majikannya itu. Abra juga pergi menuju ruang makan. Dia tidak ingin orang tuanya menunggu terlalu lama.


"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Mama Syakila pada putranya.


"Ayam saja, Ma."


"Ini, silakan dinikmati!" seru Syakila setelah meletakkan piring berisi nasi dan ayam di depan Abra.

__ADS_1


"Terima kasih, Ma." Mereka pun memulai makan dengan tenang.


"Kemarin kamu meeting dengan Anton, apa saja yang kalian bicarakan?" tanya Handi.


"Hanya membicarakan mengenai pekerjaan saja."


"Apa tidak ada yang lainnya? Apa Anton tidak menyinggung mengenai pernikahan?"


"Tidak ada, Pa."


"Kalau Pak Anton menyinggungnya, kita harus bagaimana, Pa? Ibra, kan masih sakit! Nggak mungkin kita menikahkan Abra dengan Salwa. Kita sangat tahu bagaimana Ibra sangat mencintai gadis itu. Dia akan sangat kecewa saat sadar dan mengetahui bahwa Salwa sudah menjadi kakak iparnya," ujar Syakila.


Entah kenapa di saat apa yang dikatakan mamanya benar, tetapi justru membuat Abra merasa sakit hati. Ternyata mamanya masih sama, menomor satukan Ibra di atas dirinya. Tidakkah mereka juga memikirkan perasaannya? Lagipula dia juga tidak tertarik dengan gadis yang bernama Salwa Itu.


"Karena itulah, Ma. Abra harus pintar menolak dan mencari alasan yang masuk akal agar Anton tidak memaksa untuk menikahi Salwa."


Abra hanya mengangguk tanpa mengatakan satu kata pun. Syakila yang menyadari apa yang diucapkannya tadi, segera menatap sang putra. Dia merasa bersalah.


"Abra, Mama tidak ada maksud untuk membuatmu tersisih. Mama hanya ... hanya ...."


"Iya, Ma, aku mengerti. Sudah tidak perlu dibahas lagi," ucap Abra memotong ucapan mamanya. Dia cukup tahu maksud dari ucapan Syakila, tidak perlu dijabarkan lagi karena itu semakin membuat dirinya terluka. Biarlah seperti ini saja, terserah mereka mau berbuat apa.


Usai makan malam Abra segera memasuki kamarnya. Dia juga perlu memeriksa laporan tentang perusahaan miliknya sendiri. Pria itu tidak mau terlalu berlarut dalam kesedihan, itu hanya akan membuatnya terlihat lemah. Abra ingin menunjukkan pada keluarganya, bahwa tanpa kasih sayang dari mereka pun dia juga bisa sukses.


Saat sedang sibuk dengan pekerjaannya, ponsel milik Ibra berdering, tertera nama Salwa di sana membuat Abra mendengus. Pasti wanita itu ingin mengganggunya. Sebenarnya dia malas untuk mengangkat panggilan, tetapi pria itu tidak ingin tunangan adiknya curiga.


"Halo," ucap Abra begitu menggeser tombol hijau.


"Halo, Baby. Apa kabar?" tanya Salwa dengan nada menggoda dan seperti perkiraannya, tunangannya itu tidak bereaksi apa-apa. Jika itu Ibra yang asli pasti akan marah karena dia tidak suka dengan panggilan itu.

__ADS_1


__ADS_2