Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
17. Undangan pesta


__ADS_3

"Ibra, hidupmu benar-benar sudah hancur. Aku tidak habis pikir dengan apa yang kamu lakukan selama ini. Bagaimana keadaan papa dan mama nanti jika tahu apa yang kamu lakukan. Selama ini mereka selalu memujimu dan menilai diriku yang buruk, tapi kamu jauh lebih buruk daripada aku. Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada Salwa. Dia dimanfaatkan oleh Papanya untuk menjadi tunangan Ibra, tetapi kini Ibra malah bermain sana sini hanya untuk kepuasannya semata. Semoga Salwa bisa menemukan seseorang yang lebih baik daripada Ibra. Kalaupun nanti dia dan Ibra harus menikah, mudah-mudahan Ibra bisa berubah jadi pria yang lebih baik dan bertanggung jawab pada keluarganya," ucap Abra dalam hati.


Dia tidak mau ikut campur terlalu dalam urusan orang lain. Tidak dipungkiri jika sudut hatinya merasa terganggu saat mengatakan pernikahan Salwa dan Ibra. Entah perasaan apa itu, pria itu berusaha untuk tidak peduli.


Abraham kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan. Mengenai urusan Ibra, biarlah menjadi urusan mereka. Dia tidak ingin ikut campur lagi dan berakhir disalahkan.


*****


Sementara Salwa sedang dalam perjalanan pulang. Dia ada di dalam mobil yang disopiri oleh Pak Heri.


"Kita mau ke mana, Nona?" tanya Pak Heri pada Salwa.


"Pulang saja, Pak. Aku juga nggak ada kegiatan lagi. Apa papa bilang sesuatu?"


"Tidak, Nona. Tuan hanya bilang agar nanti malam, Anda berdandan yang cantik karena harus menghadiri jamuan dengan para pebisnis di rumah tuan Nando."


"Kenapa harus dengan aku, sih? Bukannya dia sudah punya pacar? Kenapa nggak sama pacarnya saja?" tanya Salwa dengan ketus.


Gadis itu tidak suka dengan acara bisnis seperti itu. Apalagi di rumah Nando, yang sudah pasti dia bisa tebak jika pria itu akan melakukan sesuatu yang membuatnya kesal. Nando adalah orang yang juga terobsesi dengan dirinya.


Dulu pria itu bersaing dengan Ibra untuk mendapatkan Salwa. Akan tetapi, karena Ibra lebih berkuasa, Anton memilihnya untuk bertunangan dengan putrinya. Sementara Salwa sendiri juga senang karena papanya memilih pria yang baik, terlepas Ibra lebih kaya atau tidak. Namun, sekarang setelah tahu tunangannya seperti apa, dia merasa jika apa pun pilihan papanya memang tidak ada yang baik.


"Tuan Anton juga mengajak Bu Sheyla, tapi Tuan Anton juga perlu membawa Anda karena Tuan Nando yang sudah mengundang Anda secara pribadi."

__ADS_1


Seperti tebakan Salwa. Inilah yang tidak disukai oleh gadis itu. Jelas-jelas papanya tahu jika Nando menyukainya, sekarang malah mengajak dia untuk hadir di pesta itu. Sebenarnya Salwa juga sangat malas untuk datang, tetapi sudah pasti akan membuat papanya marah jadi, mau tidak mau, suka tidak suka dia harus datang.


"Ya sudahlah, Pak. Kita pulang saja. Aku juga malas untuk ke salon. Nanti ke pesta tampil apa adanya juga nggak akan berpengaruh," ucap Salwa sambil memperhatikan jalanan.


Gadis itu berdoa agar Nando tidak melakukan sesuatu padanya karena Salwa tahu, jika Nando adalah orang yang sangat nekat. Setelah sampai di rumah, Salwa segera masuk dan menuju kamarnya.


Sementara Pak Heri menghubungi Anton dan mengatakan jika Salwa tidak mau ke salon. Tentu saja pria itu marah, niatnya ingin mengajak Salwa agar Nando mau mengalirkan dana ke perusahaannya. Anton tidak pernah puas padahal Ibra sudah memberi banyak dana ke perusahaannya.


"Biarkan saja, aku rasa Nando juga tidak keberatan melihat apa pun yang dipakai Salwa. Asalkan dia mau pergi, itu sudah cukup," ucap Anton yang berada di seberang.


"Baik, Tuan."


"Kamu awasi dia, jangan perbolehkan dia pergi ke mana pun Aku tidak ingin pertemuan nanti malam menjadi rusak gara-gara dia."


"Baik, Tuan."


"Bagaimana, Sayang? Apa Salwa mau datang ke acara nanti malam?" tanya Sheyla—asisten sekaligus pacar Anton.


"Kamu tenang saja, nanti malam dia pasti akan datang. Kamu tahu sendiri, dia tidak bisa menolak semua keinginanku," jawab Anton dengan percaya diri.


"Aku percaya karena itulah yang membuat aku semakin jatuh cinta sama kamu," ucap Sheyla sambil mengecup bibir Anton sekilas.


Tentu saja hal itu membangkitkan gairah pria itu seketika. Anton menyerang bibir Sheyla, membuat sudut bibir wanita itu tersenyum kemenangan. Inilah yang menjadi tujuannya. Dia ingin menguasai pria itu sepenuhnya. Lebih tepatnya menguasai seluruh hartanya.

__ADS_1


Sheyla ingin menjadi Nyonya Alfarizi. Namun, Anton tak kunjung menikahinya. Dulu dia sempat marah karena mendapat status yang tidak jelas. Pria itu tidak pernah mempublikasikan hubungan mereka. Akan tetapi, perbuatan Sheyla justru membuat Anton marah dan tidak lagi menganggap kekasihnya. Sheila dibuat kelimpungan hingga kembali merendahkan diri di depan Anton.


Terserah jika Anton menjadikan simpanan. Asalkan dia bisa mengendalikan pria itu dan bisa menguasai hartanya. Hal-hal yang mengenai pernikahan, wanita itu bisa melakukannya dengan cara yang halus.


"Sayang, pelan-pelan," desis Sheyla saat tangan Anton masuk ke dalam bajunya dan meremas salah satu buah dadanya dengan keras.


Anton tidak mempedulikan perkataan Sheyla dan terus melakukan kegiatannya. Memang bukan hal yang aneh bagi keduanya, saat melakukan hubungan terlarang itu. Mereka sudah terbiasa melakukannya di mana saja dan kapan saja. Sheyla bahkan tidak malu menggoda Anton terlebih dahulu.


Mereka melakukan atas dasar suka sama suka jadi, Anton tidak pernah takut jika Sheyla ingin menuntutnya. Tidak ada niat sedikit pun dalam diri pria itu untuk menikah. Baginya wanita itu hanya sebagai pemu*s nafsunya saja. Bahkan tidak jarang Anton jajan di luar tanpa diketahui oleh Sheyla.


"Kamu selalu cantik, Sayang. Kamu selalu bisa membangkitkan gairahku," bisik Anton tepat di telinga Sheyla.


Suhu ruangan tiba-tiba terasa panas dengan pergumulan mereka. Tidak hentinya bibir Sheyla menjerit nikmat atas apa yang Anton lakukan padanya. Untung saja ruang kerja pria itu kedap suara jadi, mereka tidak takut jika ada yang mendengar.


Hingga keduanya sampai di puncak kenikmatan. Napas mereka terengah sisa pelepasan. Anton segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus segera dia selesaikan.


Seperti biasa, Sheyla akan menunggu Anton selesai, baru dia akan membersihkan tubuhnya. Jangan tanya kenapa mereka tidak mandi bersama sekalian jawabannya adalah karena wanita itu tidak ingin diterkam kembali oleh Anton. Pria itu memiliki tenaga yang luar biasa dalam hal ranjang jadi, lebih baik Sheyla yang menghindar.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2