Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
37. Kembali


__ADS_3

"Tuan, Tuan Lukas dan adiknya sudah sampai. Saya membawanya ke apartemen sebelah, seperti perintah Anda," ucap Roni yang baru saja datang. Tadi pria itu yang menjemput Lukas dan adiknya atas permintaan Abra. Dia tidak ingin ada orang lain yang akan mengenalinya jika dirinya sendiri yang menjemput Lukas dan adiknya.


"Nanti saja aku temui mereka. Biarkan mereka istirahat terlebih dahulu. Kamu juga bisa beristirahat. Terima kasih sudah mau menjemput mereka."


"Sama-sama, Tuan. Saya permisi."


Abra menyandarkan tubuhnya di sofa. Dia tidak menyangka akan meminta bantuan pada Lukas dan kembali ke pekerjaannya yang dulu. Padahal sebelumnya pria itu sudah melepaskan semuanya. Abra juga sangat yakin tidak akan pernah kembali lagi.


Tiba-tiba saja kenangan masa lalunya kembali hadir, saat dia pertama kali menginjakkan kaki di luar negeri. Tidak ada satu orang pun yang pria itu kenal di sana. Hidupnya luntang-lantung di jalanan. Makan apa pun yang ada dan melakukan pekerjaan apa saja yang menghasilkan uang.


Abra juga pernah tidak makan selama tiga hari dan hanya meminum air dari keran saja. Baginya sangat pantang untuk meminta-minta. Bisa saja dia meminta pada orang yang ada di jalanan. Mereka pasti juga akan mau memberi, tetapi pria itu tidak mau melakukan hal itu karena dirinya merasa masih sanggup untuk melakukan pekerjaan.


Hingga akhirnya Abra menolong seorang pria yang sudah berlumuran darah. Dia membawanya ke sebuah klinik terdekat. Tempatnya sangat sederhana dengan peralatan minim. Dokter menyarankan untuk membawa pria itu ke rumah sakit. Namun, pria itu menolak dengan beralasan tidak memiliki uang. Dia meminta dokter untuk menutup lukanya saja dengan alat seadanya.


Awalnya dokter menolak, tetapi pria itu tetap memaksa. Dia berjanji akan pergi ke rumah sakit nanti. Sekarang biarlah dokter menutup lukanya untuk sementara saja. Akhirnya dengan terpaksa dokter pun melakukan permintaan pria itu.


"Siapa namamu?" tanya pria itu saat lukanya sudah selesai diobati oleh dokter.


"Nama saya Abraham, Tuan."


"Perkenalkan nama saya Erik. Terima kasih sudah menolongku. Di mana rumahmu?"


"Saya tidak memiliki rumah, Tuan. Setiap hari saya selalu tidur di mana pun tempat saya berhenti." Abra menjawab dengan tegas tanpa ada rasa takut apalagi merasa sedih akan hidupnya.


Erik menatap Abra dengan saksama. Dia merasa ada sesuatu dalam diri pemuda ini yang menarik perhatiannya. Tiba-tiba pria itu terpikirkan sesuatu.


"Apa kamu mau ikut denganku?" tawar Erick.

__ADS_1


"Ikut ke mana, Tuan?"


"Ke tempatku. Di sana kamu bisa melakukan pekerjaan dan akan mendapatkan gaji. Kamu bisa menggunakan itu untuk keperluanmu."


"Pekerjaan apa, Tuan. Aku mau, asalkan bisa mendapatkan uang. Aku tidak mau mengemis di jalanan karena aku masih sanggup untuk bekerja."


"Bagus. Kamu bisa bekerja padaku dengan catatan, kamu tidak boleh meninggalkan tempat kerja itu, kecuali kalau aku sudah mati."


Abra sempat menatap Erik dengan saksama. Dia sempat ragu. Akan tetapi, dia tidak memiliki pilihan lain. Apalagi setelah mendengar tawaran yang menggiurkan dari pria itu. Abra pun mengiyakan saja.


Kejadian itulah yang membawanya ke dunia mafia. Segala pekerjaan dilakukan di sana dari yang baik maupun yang buruk. Bahkan sampai menghilangkan nyawa orang lain. Dari uang yang dia hasilkan, Abra membangun usahanya hingga perkembangan sampai sekarang.


Saat Tuan Erik sudah meninggal, Abraham memutuskan untuk meninggalkan dunia yang dia geluti. Meskipun dirinya bukan orang yang baik, tetapi dalam hatinya pria itu tidak ingin lagi melakukan kejahatan. Apalagi sampai menghabisi nyawa orang lain. Akan tetapi, hari ini Abra terpaksa kembali lagi karena orang yang dicintainya dalam bahaya. Semua ini dia lakukan demi Salwa dan juga calon anaknya.


Setelah satu jam menenangkan diri, Abra memutuskan untuk datang ke apartemen tempat Lukas dan adiknya istirahat. Tanpa mengetuk pintu, pria itu memasuki apartemen. Terlihat Lukas sedang duduk di meja makan, sementara adiknya memasak di dapur.


"Aku bukan lagi atasanmu. Panggil saja namaku," sahut Abra tanpa melihat Lukas.


"Selamanya Anda tetap atasan saya. Tidak peduli seberapa besar Anda menolak status itu, tapi bagi kami Anda tetaplah atasan kami."


Abraham mengembuskan napas dengan pelan. Dirinya menatap Lukas dan adiknya secara bergantian. Pria itu mencoba untuk memantapkan hatinya. "Aku ingin meminta bantuan dari kalian."


"Apa pun yang Anda butuhkan kami siap membantu. Seperti yang sebelumnya saya katakan. Saya hanya ingin Anda kembali memimpin kelompok kita. Setelah itu Anda bebas memerintahkan kami."


"Jika itu bisa membuatmu menolongku, aku akan menerimanya," jawab Abra membuat Lukas tersenyum.


"Jadi apa yang Anda inginkan?"

__ADS_1


"Kekasihku diculik oleh seseorang. Hingga saat ini aku tidak bisa melacak keberadaannya. Bahkan Roni juga kesulitan. Aku percaya adikmu bisa melakukan hal ini."


Lukas terkejut mendengarnya. Ternyata Abra berubah karena seorang wanita. Hal yang selama ini tidak pernah dia pikirkan. Awalnya pria itu mengira atasannya mau bergabung karena ada saingan bisnisnya yang sedang mencari masalah. Namun, siapa yang menyangka jika semua ini karena kekasihnya.


Lukas jadi penasaran, siapa wanita yang sudah menaklukkan hati Abraham, hingga membuat pria itu menurunkan egonya, yang selama ini sangat tinggi untuk meninggalkan dunia hitamnya. Pasti wanita itu sangat spesial, mengingat selama ini, Abra tidak pernah mengakui wanita yang dekat dengannya sebagai kekasih.


Leo—adik Lukas—pun merasa tertarik. Dia segera mematikan kompor dan duduk di samping kakaknya. Pria itu ingin tahu tugas apa yang akan diberikan padanya. Sampai Roni yang ahli juga tidak mampu melakukannya.


"Memangnya apa yang bisa aku lakukan, Bos?" tanya Leo.


Abram meletakkan laptop yang dia bawa ke depan Leo. "Roni sudah mengumpulkan beberapa bukti. Kamu tinggal melacak keberadaannya saat ini. Nama filenya Salwa."


Leo pun bergegas membuka layar laptop tersebut. Dia mengamati beberapa video CCTV yang diretas oleh Rio. Beberapa kali pria itu menyernyitkan keningnya membuat Abra khawatir jika Leo juga tidak mampu menembus pertahanan mereka.


"Sepertinya akan melelahkan. Tunggu sebentar, aku mau makan dulu," ujar Leo yang segera beranjak kembali ke masakan yang ada di atas kompor.


Tadi dia sempat membuat spaghetti dan sudah matang. Hanya tinggal dimakan saja. Untung saja tadi pria itu membuat banyak jadi, tinggal meletakkannya di atas tiga piring dan memberikannya kepada kakak dan atasannya. Leo tidak mau bekerja dalam keadaan lapar.


"Kita makan dulu, setelah itu kita kerja," ucap Leo sambil meletakkan tiga piring dan memulai makan.


Abra dan Lukas pun mengikutinya mereka. Keduanya sangat tahu jika Leo tidak suka jika makanan yang dia buat terbuang dengan sia-sia. Mereka pernah hidup terlunta-lunta. Makan dari makanan sisa karena itu bagi mereka makanan adalah sesuatu yang berharga. Usai menikmati makanan, Leo segera mengambil laptop yang tadi diberikan Abra. Dia sangat serius menangani kasus kali ini karena ini bukan kasus orang biasa.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2