Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
15. Datang ke perusahaan


__ADS_3

Berkali-kali Salwa menghubungi Abra. Namun, tidak sekali pun pria itu mengangkatnya. Bahkan yang terakhir, gadis itu tidak bisa menghubunginya. Dia yakin nomornya telah diblokir karena saat Salwa menggunakan telepon rumah, masih bisa tersambung.


Gadis itu memutuskan untuk mendatanginya ke kantor. Dia ingin tahu apa yang membuat Abra menjauhinya. Salwa tidak rela jika pria itu lepas begitu saja. Dalam diri Abra, gadis itu mendapat kenyamanan. Dia yakin jika pria itu mampu membuatnya bahagia.


"Permisi, Mbak. Pak Ibra ada?" tanya Salwa pada resepsionis.


"Bu Salwa! Tunggu sebentar, saya konfirmasi terlebih dahulu," ucap resepsionis tersebut yang segera menghubungi sekretaris Abra lewat sambungan telepon. Salwa sebelumnya pernah datang jadi, orang di kantor pun tahu siapa dirinya. "Maaf, Bu. Tuan Ibra sedang ada meeting. Beliau juga banyak pekerjaan jadi tidak bisa diganggu."


Salwa sudah memperkirakan hal ini sebelumnya, tetapi dia sudah sampai di perusahaan ini. Tidak mungkin gadis itu pulang dengan tangan kosong. Salwa menarik napas dalam-dalam dan mencoba bersabar. Jika Abra keras kepala, maka dia juga bisa.


"Bilang pada atasanmu, kalau aku akan menunggunya di sini."


"Tapi, Bu—"


"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku juga tidak ada pekerjaan jadi santai saja." Salwa pun mencari tempat duduk untuk menunggu Abra turun.


Resepsionis itu pun mengirim pesan pada Sisca dan mengatakan jika Salwa masih menunggu di lobi. Namun, tidak ada balasan apa pun dari wanita itu.


Cukup lama Salwa menunggu. Namun, tidak ada tanda-tanda jika Abra akan turun. Dia tidak kehilangan akal, Salwa mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Handi. Hanya calon mertuanya itu yang bisa membantunya kini. Panggilan pertama langsung diangkatnya.


"Assalamualaikum, Pa," ucap Salwa.


"Waalaikumsalam, iya, ada apa, Salwa?" tanya Handi yang berada di seberang telepon.


"Apa Mas Ibra sangat sibuk, sampai mengabaikan aku? Apa dia sudah memiliki wanita lain, Pa?" tanya Salwa dengan pura-pura bersedih.


"Maksud kamu apa? Ibra tidak mungkin mengkhianati kamu! Kamu tahu pasti bagaimana Ibra sangat mencintai kamu."


"Tapi, dari tadi pagi aku mencoba menghubunginya, tapi nomor aku malah diblokir. Saat ini aku ada di perusahaan. Aku datang untuk menemuinya dan bertanya apa salahku, tapi dia tidak mau menemuiku. Kalau memang dia sudah memiliki wanita lain, aku ikhlas, kok! Aku akan melepaskannya," ujar Salwa dengan nada sedih yang semakin dibuat-buat. Dia juga berpura-pura sesenggukan untuk menarik simpati calon mertuanya.

__ADS_1


"Apa?" tanya Handi terkejut.


Pria itu mengepalkan tangannya. Bisa-bisanya Abra malah membuat Salwa bersedih. Dia tidak akan tinggal diam jika gadis itu benar-benar meninggalkan Ibra. Handi memang meminta putra sulungnya untuk untuk menjaga jarak dengan gadis itu, tetapi bukan berarti membuat Salwa menjauh dari Ibra.


"Kamu tunggu di sana saja. Papa akan bicara dengan Ibra."


"Jangan marah padanya, Pa. Aku mengerti bagaimana perasaannya. Aku tidak ingin memaksanya. Jika dia tidak mau bersamaku, tidak apa-apa."


"Kamu jangan berpikir seperti itu. Kamu tenang saja. Kamu tahu kalau Papa tidak mungkin marah padanya.


"Iya, Pa, aku akan tunggu di sini."


"Baiklah, Papa mau menemui Ibra dulu." Handi memutuskan sambungan telepon dan mencari keberadaan Abra.


"Maafkan aku. Aku harus melakukan hal ini karena hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa bertemu denganmu," batin Salwa sambil menatap telepon genggamnya.


"Kenapa kamu membiarkan Salwa menunggu di bawah?" tanya Handi sambil berdiri. Tidak ada niat sedikit pun untuk duduk di kursi depan Abra


"Bukankah Anda sendiri yang meminta saya untuk menjauhinya? Saat ini saya sedang melakukannya," jawab Abra tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang ada di depannya.


"Saya memang memintamu untuk menjauhi Salwa sebagai Abra, tidak sebagai Ibra. Sebaiknya cepat temui Salwa. Aku tidak ingin dia berpikir macam-macam tentang Ibra dan meninggalkannya. Ibra terlalu baik untuk disakiti."


"Anda tidak tahu saja betapa brengseknya anak kesayangan Anda itu di luar sana," ucap Abra dalam hati karena ingin papanya melihat sendiri betapa hebatnya anak yang selama ini dibanggakannya


"Bukankah kemarin juga aku melakukannya karena Ibra? Pikiran Anda saja yang terlalu jauh dan sekarang Anda memintaku untuk bertemu dengan Salwa! Aku tidak ingin melakukannya karena saat aku bersamanya nanti, dia pasti menganggapku Ibra dan melakukan hal seperti yang dilakukannya kemarin. Dia memaksaku melakukan hal yang tidak kusukai."


"Terserah apa katamu, yang penting sekarang kamu turun dan temui dia. Jangan sampai Salwa meninggalkan Ibra karena kamu."


Abraham mengusap wajahnya dengan kasar. Selalu saja papanya seperti ini, memaksa setiap kehendak pada putra sulungnya. Abra sudah bosan menjadi orang lain. Dia ingin menjadi dirinya sendiri.

__ADS_1


"Pa, tidak bisakah Papa melihat dari sudut pandangku? Aku juga ingin menjadi diriku sendiri," ucap Abra dengan suara rendah. Dia hanya ingin papanya mengerti dirinya. Namun, sepertinya itu sia-sia saja. Handi tidak mau tahu bagaimana perasaan Abra dan tetap memaksakan kehendaknya.


"Kamu akan menjadi dirimu sendiri saat Ibra sembuh. Bukankah itu yang kamu inginkan?"


"Itu janji dari Papa. Aku akan mengingatnya. Jika Ibra bangun dari tidurnya maka saat itu juga aku terbebas dari keluarga ini dan tidak memiliki hubungan apa pun lagi."


Abraham segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangannya tanpa melihat ke arah papanya. Saat ini tujuannya ingin bertemu dengan Salwa. Entah apa yang diinginkan oleh gadis itu. Sebenarnya Abra sangat malas.


Pasti tunangan saudaranya itu akan bertindak semena-mena padanya nanti. Semua permintaan Salwa harus dituruti. Dia memang wanita yang sangat manja, pikir Abra. Akan tetapi, sudut hatinya mengatakan jika dirinya senang berada di sisi Salwa.


Tidak terasa lift yang dinaiki telah sampai di lantai dasar. Dia melihat ke sekeliling mencari keberadaan Salwa, ternyata Gadis itu tersenyum sambil berjalan ke arahnya. Mau tidak mau, Abra pun mendekatinya.


"Halo, Sayang, apa kabar?" sapa Salwa.


"Apa yang kamu inginkan? Bukankah sudah aku katakan semuanya tentang diriku jadi, kenapa kamu masih mencariku?" tanya Abra tanpa menjawab pertanyaan Salwa.


"Mencari tunangan sendiri, tidak masalah bukan? Siapa pun kamu, selama kamu masih di sini, kamu adalah tunanganku jadi, aku masih bisa bertemu denganmu."


"Terserah apa katamu. Sekarang kita sudah bertemu jadi kamu bisa pulang."


"Masa bertemu tunangan gitu aja. Aku ingin menemani kamu di ruang kerja, aku juga bisa membantu kamu." Salwa mencoba membujuk Abra. Namun, sepertinya tidak berhasil.


"Aku sedang banyak pekerjaan dan tidak ingin bermain-main!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2