Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
41. Tinggal di jeruji


__ADS_3

Abra dan Anton mengikuti Salwa yang dipindahkan ke ruang rawat inap. Abra sengaja memilih ruang VVIP untuk kekasihnya. Semua biaya dari awal wanita itu masuk rumah sakit ditanggungnya.


"Tuan, jika membutuhkan sesuatu atau apa saja, silakan panggil kami dengan memencet tombol warna merah ini. Kami pasti akan segera datang," ucap seorang perawat sambil menunjukkan tombol yang dimaksud. "Semua sudah selesai, kami permisi dulu."


"Terima kasih," ucap Abra. Perawat tadi pun pergi bersama temannya.


Abra duduk di samping Salwa dengan menggenggam telapak tangan wanita itu. Tarikan napas yang dalam menandakan kegelisahan hatinya. Entah bagaimana nanti dia harus menjelaskan semuanya pada sang kekasih. Mudah-mudahan saja Salwa bisa menerimanya dengan ikhlas.


Sedangkan Anton sendiri memilih duduk di sofa. Dia membiarkan saja apa yang akan Abra lakukan. Sejujurnya pria itu penasaran, bagaimana Abra bisa menyelamatkan Salwa. Apalagi mengingat siapa yang sudah bekerja sama dengan Ibra.


Anton sangat mengenal preman-preman itu. Mereka bukanlah orang yang mudah untuk dikalahkan, tetapi Abra yang merupakan pendatang baru di negara ini, bisa mengalahkan mereka dengan sangat mudah. Bahkan pemimpin preman itu pun ditangkap. Padahal sebelumnya belum pernah ada yang bisa menyentuhnya sekalipun.


"Kamu pulanglah, pasti kamu lelah," ujar Anton.


"Aku tidak akan meninggalkan Salwa, Om. Jangan coba-coba untuk memisahkan aku dengannya. Anda pasti sudah tahu, kan, bagaimana keadaan Ibra saat ini. Anda akan merasakannya jika mencoba melawanku," ucap Abra tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.


Anton yang sudah seperti tertangkap basah pun hanya bisa diam. Bagaimana Abra bisa tahu apa yang ada di kepalanya. Sepertinya Abraham bukan orang yang sesederhana itu. Pasti pria itu memiliki beberapa jaringan yang lebih kuat dari Ibra dan preman-preman yang disewa.


Sebaiknya Anton mengambil jalan aman. Dia akan melihat dulu seberapa besar kekuatan yang dimiliki Abra. Setelah itu, barulah pria itu bergerak.


****


"Kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Mama Syakila saat dirinya dan sang suami di pertemukan dengan putranya.


"Memangnya kenapa, Ma? Aku melakukan semua ini karena ingin mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku. Abra sudah merebut semuanya dan aku akan kembali mengambil milikku," jawab Ibra sambil memandang mamanya dengan tatapan dingin.

__ADS_1


"Bukannya kamu sudah menerima keputusan ini waktu itu? Kalau kamu menolak, kenapa tidak dari awal? Kenapa harus seperti ini?"


"Karena aku tahu, aku tidak mungkin bisa memiliki Salwa selama dia masih mengandung anak haram itu. Aku ingin menyingkirkannya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah merebut Salwa."


Syakila menggelengkan kepala mendengar apa yang putranya katakan. Dia tidak menyangka Ibra bisa begitu nekat. Bahkan sampai melakukan kejahatan.


"Tapi kamu sudah melakukan tindak kriminal. Lihatlah! Kamu sekarang berada di tempat seperti ini."


Ibra terdiam mendengar apa yang mamanya katakan. Dia sendiri juga tidak menyangka jika Abra bisa menemukan keberadaannya. Padahal tidak ada yang berani datang ke tempat itu. Orang-orang yang dia sewa termasuk kelas kakap yang tidak bisa ditembus oleh keamanan mana pun.


Bahkan polisi pun tidak berani menyentuh mereka. Akan tetapi, saat ini justru pemimpin dari preman itu juga ikut tertangkap. Ibra jadi penasaran, siapa orang yang sudah membantu Abraham. Pasti mereka bukanlah orang sembarangan. Pria itu harus tahu siapa mereka dan dia juga harus bisa merebut simpati mereka untuk berbalik menyerang Abra.


"Apa Papa tidak bisa menebusku? Biasanya papa selalu bisa menyelesaikan semua masalah dengan mudah," tanya Ibra dengan menatap papanya, berharap pria itu bisa membantu.


"Jadi, Ibra benar-benar ditahan, Pa?" tanya Syakila yang ikut gelisah melihat putra kesayangannya yang berada di dalam jeruji besi.


"Memang seperti itu, Ma. Itu juga karena Ibra sendiri yang melakukan kesalahan. Papa sudah berusaha, tetapi mereka menolak. Bahkan sidang akan segera dimulai."


"Secepat itu? Kita bahkan belum menemukan bukti yang bisa membantu Ibra," ujar Syakila yang semakin khawatir.


"Iya, Pa. Biasanya Papa selalu cepat. Sekarang Papa harus bergerak cepat untuk membuang bukti yang bisa memberatanku."


"Sudah Papa katakan, orang-orang Abra sangat terlatih, tidak mudah untuk memata-matai mereka."


Ibra menghela napas kasar. Sepertinya dia benar-benar akan terpenjara di tempat ini. "Aku tidak mau tahu, Pa Pokoknya Papa harus berusaha untuk membebaskan aku bagaimanapun caranya. Aku tidak mau tinggal di sini. Apalagi sampai beberapa waktu."

__ADS_1


"Iya, Papa akan berusaha sekarang juga. Jaga dirimu baik-baik. Papa dan Mama harus kembali, nanti Papa akan pikirkan bagaimana caranya."


Ibra hanya mengangguk. Dia tidak ingin lebih lama tinggal di dalam tempat yang sangat mengerikan baginya. Papa Handi dan mama Syakila pamit pulan Keduanya meninggalkan putranya dengan perasaan gelisah. Meskipun tidak rela, tetapi mereka tidak mungkin tinggal di sini.


"Apa tidak sebaiknya kita bicara dengan Abra, Pa? Hanya dia yang bisa menolong Ibra," ujar Syakila pada sang suami, saat keduanya sedang dalam perjalanan pulang.


"Abra tidak mungkin mau menolong Ibra, setelah apa yang dilakukan anak itu. Abra sudah kehilangan calon anaknya, apa mungkin dia masih mau menolong pembunuh anaknya? Mungkin akan beda kasusnya jika Ibra tidak sengaja melakukannya, tapi Ibra melakukan itu dengan kesadaran penuh."


Syakila terdiam, benar apa yang dikatakan sang suami. Sebagai calon orang tua, pasti saat ini Abra sangat bersedih dengan kejadian yang menimpanya. Ajan tetapi, Syakila masih yakin ada sisi baik dalam diri Abra yang bisa dia gunakan agar mau mencabut tuntutan pada Ibra.


"Bagaimana kalau Mama yang memohon padanya, pasti dia mau mengabulkannya. Papa ingatkan, waktu dia menolak datang ke sini! Saat Mama yang memohon, dia langsung datang. Kali ini pasti seperti itu, akan Mama lakukan apa pun, asalkan Ibra bisa keluar dari tempat itu," ujar Syakila dengan keyakinannya yang besar.


"Apa Mama yakin mau melakukan hal itu? Itu sama saja merendahkan Mama di depan Abra!" seru Papa Handi.


"Mama tidak peduli, asalkan bisa membebaskan Ibra, Mama akan melakukan apa pun."


"Tapi tidak hari ini, pasti saat ini mereka masih berkabung. Besok pagi saja kita temui Abra. Dia juga pasti masih berada di rumah sakit," ujar Papa Handi yang diangguki Mama Syakila.


Keduanya pun membicarakan apa saja yang akan mereka katakan di hadapan Abra. Kali ini harus pandai bersilat lidah karena Papa Hamdan dan Mama Syakila tidak ingin kesempatan terlepas begitu saja.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2