Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
12. Siapa namamu?


__ADS_3

Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Salwa merasa takut karena nada bicara pria yang ada di depannya terdengar dingin. Baru kali ini dia menunjukkan siapa sebenarnya dirinya. Namun, ada sedikit celah di hatinya yang ingin memiliki pria itu dan tidak mengizinkan Ibra kembali.


"Kamu berada di sini menggantikan Ibra, pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan, kan? Aku sangat yakin jika ini mengenai perusahaan," ucap Salwa yang mencoba untuk terlihat baik-baik saja.


"Sudah aku katakan, jangan ikut campur dengan urusanku!"


"Sudah terlambat, Tuan. Aku sudah memasuki kehidupanmu dan tidak mudah untukku lepas begitu saja. Apalagi aku juga tunangan Ibra. Di sini Ibra tidak pernah merahasiakan apa pun dariku," ucap Salwa berbohong.


"Oh, ya? Aku tidak yakin akan hal itu," sahut Abra mengejek.


"Kenapa tidak? Kamu bisa menanyakan semua tentang Ibra. Aku pasti bisa menjawabnya."


"Aku punya satu pertanyaan untukmu dan itu hanya Ibra yang tahu jawabannya."


Salwa menatap pria yang ada di sampingnya. Menunggu pertanyaan apa yang akan dia tanyakan. Sejujurnya wanita itu takut ketahuan jika sedang berbohong.


"Sebutkan satu saja rahasia yang dimiliki Ibra yang tidak diketahui siapa pun, bahkan Romi, asistennya pun tidak mengetahui itu?" tanya Abra dengan membalas menatap mata Salwa. Dia menunggu jawaban dari wanita itu.


Salwa merasa kebingungan menjawabnya, tetapi jika tidak maka pria yang ada di depannya ini tidak akan percaya padanya. Dia pun berpikir sejenak untuk memberi jawaban yang membuat pria itu percaya.


"Aku tahu satu hal, tapi aku tidak tahu jawaban ini bisa membuatmu puas atau tidak."


"Katakan saja apa yang kamu ketahui."


"Ibra sering berganti-ganti wanita, bahkan dia juga pernah mengajak wanita itu ke sini dan bermain di sini. Aku yakin keluarganya juga pasti tidak mengetahui hal itu. Bahkan dia juga tidak melibatkan Romi saat melakukannya," jawab Salwa asal. Padahal dia hanya melihat satu kali Ibra berhubungan dengan wanita.


Salwa hanya berasumsi saja. Dia juga penasaran mengenai apa yang dikatakannya tadi. Wanita itu yakin saudara kembarnya juga pasti sedang mencari tahu mengenai hal itu.

__ADS_1


Abra merasa terkejut mendengar apa yang dikatakan Salwa. Ternyata ada yang mengetahui tentang sepak terjang Ibra selama ini. Padahal asisten saudaranya saja tidak tahu apa-apa, tapi tunangan Ibra justru mengetahuinya.


"Siapa saja yang pernah kamu tahu bersama dengan Ibra?"


"Bukannya tadi kamu cuma ingin bertanya satu hal? Kenapa sekarang malah bertanya lagi? sebaiknya kamu tanyakan saja pada Ibra. Aku yakin keberadaanmu di sini juga atas perintahnya bukan?"


"Kamu tidak tahu apa-apa, sebaiknya jaga bicaramu."


"Kamu tidak salah bicara? Di sini siapa yang tidak tahu apa-apa?" tanya Salwa yang berdiri di depan Abra dan mengikis jarak diantara mereka.


Jantung Salwa berdetak lebih cepat, tapi dia mencoba untuk terlihat biasa saja. Begitupun dengan jantung Abra yang tidak baik-baik saja. Keduanya saling menatap, mencoba menyelami hati masing-masing. Ada secuil rasa yang tidak bisa diungkapkan.


Rasa yang membuat siapa pun merasa dimiliki dan sangat berarti. Abra pun memalingkan wajahnya. Dia tidak ingin terlena karena bagaimanapun Salwa adalah tunangan saudaranya.


"Kamu sudah tahu apa yang dilakukan Ibra selama ini, tapi kenapa kamu masih mau bertunangan dengannya?" tanya Abra yang ingin mengalihkan perhatian.


"Memangnya apa yang bisa aku lakukan? Kalau aku memutuskan pertunangan ini, Ibra dan keluarganya akan memutuskan kerja sama dengan perusahaan papa. Sebagai seorang pengusaha, pasti menakutkan jika harus kehilangan aliran dana," ucap Salwa dengan menyandarkan punggungnya di dada Abra.


"Setiap orang tua akan lebih memikirkan kebahagiaan anaknya. Jika kamu tidak bahagia, buat apa dipaksakan."


"Tidak semua orang seperti itu. Jika semua orang memiliki pemikiran yang sama pasti dunia ini akan aman."


Abra menganggukkan kepalanya. Dia bisa merasakan apa yang wanita itu rasakan karena dirinya pun merasakan hal yang sama. Tanpa sadar pria itu semakin mempererat pelukannya dan itu membuat Salwa tersenyum.


Cukup lama keduanya terdiam, menikmati malam yang dingin sambil berpelukan. Tiba-tiba Abra tersadar dan segera melepas pelukannya. Salwa bahkan hampir terjatuh, untung saja dia bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.


"Sebaiknya kita tidur, di mana kamar Ibra?" tanya Abra.

__ADS_1


"Ada di atas," jawab Salwa. "Tunggu! Siapa namamu?" tanyanya menghentikan langkah Abra.


"Abra, tapi aku harap kamu masih memanggilku Ibra," jawab Abra yang segera berlalu.


"Abra, nama yang bagus. Aku tidak akan memanggilmu dengan nama bajing*n itu. Panggilan sayang lebih enak di dengar," gumam Salwa sambil tersenyum.


Abra menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Dia kesal karena Salwa sudah mengetahui rahasianya. Namun, pria itu jadi lebih waspada. Bisa saja tunangan saudaranya itu yang memberi racun dan tahu jika dirinya bukan Ibra karena tidak mungkin saudaranya sembuh dengan cepat.


"Aku harus menghubungi Romi," ucap Abra yang kemudian mencari ponsel yang ada di dalam saku. Dia mencari kontak Romi dan menekan tombol hijau.


"Selamat malam, Tuan," ucap Romi yang ada di seberang telepon.


"Malam, Romi, apa kamu yang selalu menyusun jadwal Ibra selama ini? Atau Ibra sendiri yang mengaturnya?"


"Ada beberapa saya dan ada beberapa Tuan Ibra sendiri. Memangnya ada apa, Tuan?"


"Kamu berikan kepada saya jadwal Ibra selama satu tahun ini tanpa terlewat sedikitpun. Aku tunggu semuanya besok." Abra segera memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari asistennya. Romi sempat heran, apa yang membuat atasan barunya ini ingin tahu jadwal Ibra? Akan tetapi, dia yakin jika itu demi kebaikan atasannya.


Sementara Salwa lebih memilih tidur di sofa ruang tamu. Dia tidak sudi tidur di kamar tamu, yang sudah pernah dipakai Ibra bersama dengan wanitanya.


"Tuhan, aku ingin dia menjadi milikku. Semoga dia yang engkau kirim untuk membawaku pergi dari kesengsaraan ini. Aku sudah terlalu lelah dengan semua ini," ucap Salwa dalam hati yang kemudian menutup matanya menuju ke alam mimpi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2