
Abra dan Salwa sudah meninggalkan rumah keluarga Papa Handi. Keduanya masih terdiam memikirkan apa yang baru saja terjadi. Memang ini yang diharapkan, tetapi kenapa terasa aneh.
"Kenapa kamu diam?" tanya Abra sambil meraih telapak tangan sang kekasih dan menggenggamnya.
Salwa menatap Abra. "Aku hanya memikirkan apa yang tadi Ibra katakan. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan dan aku takut dia melakukan sesuatu pada kita."
Abra terdiam, tidak dipungkiri dia juga merasa ada sesuatu yang aneh dengan saudara kembarnya. Dalam hatinya dia juga takut Ibra melakukan sesuatu untuk memisahkan mereka. Pria itu tidak akan tinggal diam jika memang benar, saudara kembarnya memiliki niat buruk.
"Kita berdoa saja, semoga apa yang kita takutkan tidak terjadi," ujar Abra yang diangguki oleh Salwa. "Kamu mau aku antar pulang atau mau ke suatu tempat?"
"Aku mau langsung pulang saja. Aku sudah capek."
"Baiklah kalau begitu, aku antar kamu pulang. Aku juga perlu berbicara dengan papamu."
Abra pun membelokkan setir ke arah rumah Salwa. Tidak berapa lama, akhirnya keduanya sampai juga di rumah keluarga wanita itu. Abraham memutuskan untuk turun dan berbicara dengan Pak Anton. Dia tidak ingin berlama-lama menunda acara pernikahan mereka. Salwa juga tidak keberatan.
Wanita itu malah senang jika Abraham memiliki pemikiran seperti itu. Salwa juga butuh pengakuan sang kekasih secara resmi. Dia tidak ingin anaknya kelak menjadi gunjingan orang.
"Assalamualaikum," ucap Salwa saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam, Non Salwa, sudah pulang! sama Tuan Ibra ternyata!" seru bibi
"Saya bukan Ibra, Bik. Saya Abra saudara kembarnya Ibra," sahut Abra yang membuat Bik Sumi mengerutkan kening karena merasa aneh. Selama ini dia tidak tahu jika Ibra memiliki saudara kembar. Salwa yang melihat kebingungan ART-nya pun ikut menjelaskan.
"Iya, Bik. Sebenarnya yang akhir-akhir ini datang ke sini itu bukan Ibra, tapi Abra."
"Jadi, Tuan Ibra punya saudara kembar dan itu Tuan Abra ini?"
"Iya, Bik, tapi jangan panggil Tuan. Panggil yang lain saja. Saya tidak nyaman dengan panggilan itu."
"Lalu panggil apa? Saya nggak mau panggil nama saja. Rasanya tidak sopan panggilan seperti itu."
__ADS_1
"Bibi, kan, panggil Salwa non. Panggil saya Aden saja."
"Baiklah kalau begitu. Aden mau minum apa?"
"Apa saja, saya juga tidak keberatan."
"Baiklah, tunggu sebentar. Silakan duduk dulu!"
Abraham duduk di ruang tamu, sementara Salwa memilih masuk ke dalam kamarnya. Dia perlu berganti baju yang lebih santai. Kehamilan membuatnya ingin ruang gerak yang lebih luas.
*****
Sementara itu, di rumah keluarga Handi semua terdiam, mencoba mencerna kata-kata Ibra. Terlebih pria itu baru saja sembuh, takut jika belum sepenuhnya sadar.
"Pa, aku ingin keluar sebentar," ucap Ibra yang kemudian berdiri.
"Kamu mau ke mana? Kamu belum sehat benar. Ingat kata dokter, sewaktu-waktu keadaanmu bisa saja kembali seperti sebelumnya," ujar Papa Handi.
"Tapi tetap saja kamu harus hati-hati. Bisa saja obat itu akan semakin memperburuk keadaan kamu."
"Papa tenang saja, aku sangat mengenal Abra. Dia tidak akan melakukan hal seperti itu. Papa juga jangan terlalu khawatir. Aku hanya akan pergi sebentar saja." Abra segera pergi tanpa menunggu jawaban dari papanya.
"Apa Papa tidak khawatir Ibra akan melakukan sesuatu? Papa tahu, kan, kalau dia orangnya sangat nekat," ujar Syakila sambil melihat punggung putranya yang hilang di balik pintu.
"Mama, tenang saja. Papa yakin Ibra tidak akan melakukan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang.
"Aku tidak yakin akan hal itu. Semua orang tahu Ibra bisa melakukan apa pun yang diinginkannya, tanpa peduli dengan perasaan orang lain. Papa jangan menutupi keburukan Ibra. Dari kecil dia selalu dimanja itu juga yang membuatnya berlaku seenaknya. Berbeda dengan Abra yang selalu bisa bertanggung jawab dengan apa pun yang dia lakukan."
"Kamu sekarang malah membela anak itu?" tanya Papa Handi dengan menatap istrinya. Dia tidak suka Syakila lebih membela Abra. Sedari kecil Ibra lah anak kebanggaannya, sedangkan putra sulungnya hanya bisa membuat masalah.
"Kenapa tidak? Dia juga anakku, keduanya sama-sama lahir dari rahimku."
__ADS_1
"Kamu berkata seolah-olah selama ini kamu bersikap adil pada mereka. Seharusnya kamu ingat apa saja yang kamu lakukan pada Abra. jangan bersikap seolah-olah kamu tidak melakukan apa-apa dan semuanya hanya kesalahanku."
"Aku tidak pernah bermaksud seperti itu, Pa. Aku cuma ingin menebus kesalahanku pada Abra yang selama ini sudah menelantarkannya. Aku bangga padanya, tanpa kita dia bisa hebat seperti sekarang. Meskipun usahanya tidak sebesar milik keluarga kita, tapi dia membangunnya dari nol. Tanpa bantuan dari kita sedikit pun."
"Kamu tahu tentang hal itu? Apa saja yang sudah kamu ketahui?"
"Tentu saja. Meskipun Papa tidak pernah mengatakannya padaku, tapi aku selalu mengetahuinya dari orang suruhanku. Aku tidak pernah melepaskan pengawasanku terhadapnya. Menurutku Abra lebih hebat daripada Ibra."
"Sebaiknya kamu diam saja. Jangan sampai kamu mengatakan hal itu lagi. Kamu tahu, kan, bagaimana sedihnya Ibra jika tahu mamanya sudah memuji saudara kembarnya? Dia pasti sangat tidak menyukai hal itu."
Syakila diam saja. Dia tidak mau berdebat dengan sang suami, sementara Handi memilih pergi. Dia harus ke perusahaan untuk mengurus semuanya. Mulai besok dia bisa memperkerjakan Ibra dan memberhentikan Abra. Namun, sepertinya dia juga tidak perlu berbicara dengan pekerja lain. Tidak ada yang tahu siapa yang bekerja selama ini.
Handi akan bicara dengan Romi. Biar pria itu yang mengurus semuanya. Mengenai Abra, jika dia masih ingin tetap bekerja di sini, maka harus bekerja di bagian lain. Tidak dipungkiri, bahwa selama ini Handi sangat terkesan dengan cara kerja Abra. Putra sulungnya itu tidak pernah mengeluh dan menyelesaikannya dengan cepat.
"Nyonya, apa perlu saya buatkan teh?" tawar Bik Sumi pada majikannya itu.
"Boleh, Bi. Tolong buatkan teh hangat, ya! Kepala saya sedikit pusing. Bik Sumi pun pergi menuju dapur dan membuatkan majikannya teh hangat. Setelah selesai dia pun memberikannya pada Mama Syakila.
"Menurut, Bibi, apa yang akan Bibi lakukan jika Ibra dan Abra adalah anak Bibi?" tanya Syakila sambil menikmati minumannya.
"Memang sedikit sulit, Nyonya. Jika keduanya sama-sama anak saya juga. Saya tidak mungkin bisa menyakiti salah satu dari mereka. Namun, jika keadaannya terpaksa, saya harus melakukannya. Meski harus menyakiti yang lainnya."
"Jadi aku harus tetap memilih Ibra tanpa memikirkan bagaimana perasaan Abra, begitu, Bik."
"Saya juga tidak tahu di sini, siapa yang paling membutuhkan perhatian karena hati manusia tidak ada yang tahu. Terkadang dia bisa hebat dibalik rasa sedihnya, begitupun sebaliknya."
"Kalau begitu, sama saja tidak tahu, Bik," ucap Syakila pelan.
.
.
__ADS_1
.