
"Papa ke mana? Kenapa semua pekerjaan diberikan padaku?" tanya Abraham pada Siska—sekretarisnya.
"Saya tidak tahu, Pak. Tadi sekretarisnya hanya memberikan itu pada saya. Dia bilang Pak Hadi sedang ada urusan penting."
Abra memijat keningnya. Bagaimana bisa papanya memberi begitu banyak pekerjaan. Sedangkan dirinya seenaknya pergi begitu saja. Tidak tahukah bahwa pria itu juga punya kepentingan. Abra ingin melihat keadaan Salwa, sedari tadi belum ada kabar dari kekasihnya itu.
"Ya Sudahlah, kamu pergi sana! Kepala saya makin pusing."
Sisca keluar dengan kesal. Sudah dua bulan lebih dia tidak bisa berbelanja seperti dulu. Ibra sama sekali tidak pernah mamakainya. Meski harus kesakitan saat bermain dengan pria itu, tetapi dia tidak peduli, asalkan bisa menikmati uang itu.
Wanita itu tahu bagaimana kasarnya Ibra. Bahkan Sisca pernah masuk rumah sakit usai bermain, tetapi dia tidak pernah jera. Saat atasannya mengajaknya lagi, wanita itu menuruti dengan senang hati.
Sisca bertanya-tanya, apa mungkin Ibra sudah menemukan pengganti dirinya? Yang bisa lebih memuaskan h*sratnya, tetapi siapa? Bukankah selama ini pria itu selalu bilang bahwa dirinya yang paling hebat, di antara wanita-wanita yang sudah dinikmati Ibra. Memikirkannya membuat Sisca sakit kepala.
Sepertinya wanita itu harus berani lebih dulu menggodanya. Dia yakin bahwa atasannya itu tidak akan pernah menolak apa yang Sisca tawarkan. Mengingat selama ini pria itu selalu menikmati dirinya dan selalu puas dengan apa yang dia lakukan di ruangannya.
Abraham sibuk dengan semua berkas yang ada di mejanya. Bahkan hingga sore hari pekerjaan itu masih banyak. Itu artinya dia harus lembur malam ini. Keluarganya memang benar-benar menyiksa. Mereka meminta dia ke sini untuk mencari penyebab pelaku yang membuat Ibra tertidur, tetapi sekarang lihatlah, papanya malah memanfaatkan dia untuk pekerjaan.
Pukul sepuluh malam, pekerjaan Abra sudah selesai. Namun, dia terlalu malas jika harus pulang ke rumah keluarganya. Jadi pria itu memilih untuk pulang ke apartemen saja. Dia juga ingin tahu perkembangan pencarian pelaku tersebut. Mungkin nanti bisa beralasan tidur di hotel atau di kantor.
Abra membuka ponselnya, ternyata ada pesan dari Salwa yang mengirimkan gambar ikan gurame. Pria itu merindukannya, dia ingin menelpon, tetapi takut jika mengganggu istirahat. Abra tidak ingin wanita itu kurang istirahat karena itu berpengaruh juga pada anaknya.
Pria itu pun hanya membalas pesan saja. Jika dibalas berarti Salwa belum tidur, kalau tidak berarti kekasih hatinya sudah menuju ke alam mimpi.
"Selamat malam, mimpi indah." Begitulah pesan yang dikirim Abra pada Salwa.
Pria itu segera meninggalkan ruangannya dan menuju tempat parkir. Begitu memasuki mobil, ponsel Abra berbunyi, ternyata ada video call dari Salwa. Rupanya wanita itu belum tidur. dia tersenyum melihatnya dengan segera pria itu menggeser tombol warna biru.
"Selamat malam, Sayang," sapa Abra.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Salwa sekaligus menegur kekasihnya.
"Eh ... waalaikumsalam. Kamu sudah makan?"
"Sudah," jawab Salwa sambil tersenyum menatap layar ponsel yang terlihat wajah Abra. Dia tahu kekasihnya pasti kelelahan.
"Kenapa makan ikan? Kenapa nggak makan bubur dulu."
"Aku, kan, nggak papa. Aku sehat, ini cuma memang bawaan dari bayinya saja. Kalau makan bubur, aku malah makin nggak semangat."
"Apa kamu masih muntah-muntah?"
"Tidak, hanya sedikit mual saja, tapi aku masih bisa mengendalikannya agar tidak ada yang curiga."
"Syukurlah kalau begitu, semoga dia juga nggak semakin menyusahkan kamu. Aku nggak tega lihat kamu seperti kemarin."
"Aku nggak papa, kok! Semua ibu juga pasti merasakan hal seperti ini. Justru aku merasa senang karena aku bagian dari wanita yang bisa merasakan kebahagiaan menjadi ibu."
"Malam ini aku nggak bisa ke sana. Ini sudah terlalu larut. Besok pagi sebelum ke kantor, aku akan ke sana. Kamu mau dibawain apa?"
"Nggak perlu, kamu datang ke sini saja, sudah membuat aku bahagia."
"Baiklah, kamu istirahatlah, ini sudah sangat larut. Jangan begadang, tidak baik untuk kesehatan. Besok aku akan ke sana."
"Iya, kamu hati-hati di jalan. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Salwa mematikan sambungan telepon. Wanita itu mengusap perut datarnya. Dalam hatinya, dia berdoa untuk kebaikan dirinya dan calon anaknya. Salwa akan melakukan apa pun untuk janin ini. Apalagi sekarang ada Abraham yang akan selalu bersamanya. Membuat dia semakin percaya diri agar bisa melewati semuanya dengan baik.
__ADS_1
*****
Dua bulan telah terlewati, kini kandungan Salwa sudah menginjak sebelas Minggu. Perutnya masih belum terlihat. Akhir-akhir ini Papa Handi sering memberikan Abra pekerjaan yang lebih. Mama Syakila juga bersikap seolah ingin menghindarinya.
Awalnya dia biasa saja, tetapi semakin ke sini pria itu merasa aneh. Seperti ada sesuatu yang ingin disembunyikan dan tidak ingin Abra tahu. Saat dia bertanya, pasti jawabannya tidak ada apa-apa.
"Maaf, ya, Sayang. Pekerjaanku masih banyak jadi, hari ini aku tidak bisa ke sana. Mudah-mudahan besok nggak ada pekerjaan lagi dan aku bisa ke sana."
"Kamu merasa ada sesuatu yang aneh, nggak? Aku merasa di sini orang tua kamu sudah mau curiga. Dia memberimu banyak pekerjaan akhir-akhir ini. Aku takut mereka melakukan sesuatu pada kita. Apalagi Mama Syakila juga sering menghubungiku."
"Jangan berpikir tidak-tidak, berdoa saja agar kita baik-baik saja dan bisa mendapat jalan keluar untuk hubungan kita," ujar Abra. "Oh, ya, aku sudah menyiapkan rumah untuk kita tempati di luar negeri. Nanti kamu akan menjadi nyonya di sana. Kamu mau, kan, ikut bersamaku?"
Abra berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin Salwa kepikiran yang nanti akan mempengaruhi calon anak mereka. Meskipun sebenarnya pria itu juga mengkhawatirkan hal yang sama. Akan tetapi, Abra tidak ingin kekasihnya tahu, biarlah dia yang akan mencari tahu.
"Tentu saja aku mau. Seperti yang aku katakan kemarin, aku akan ikut ke mana pun kamu pergi asal kita sudah sah."
"Tentu saja, tapi itu susahnya. Aku masih memikirkan cara untuk bicara dengan papa dan mama," ujar Abra dengan pelan. Setiap ada waktu, dia mencoba untuk bicara dengan orang tuanya, tetapi mereka seperti sedang memberi jarak dan ada saja alasan untuk menghindar saat bersama.
"Kamu jangan pesimis. Aku akan selalu menunggumu."
"Tapi perut kamu akan semakin membesar. Aku tidak ingin orang lain mencibir apalagi sampai menghinamu."
"Jangan dengarkan ucapan mereka. Setelah menikah, aku akan ikut denganmu ke luar negeri jadi aku tidak ada urusan dengan mereka."
Walaupun Salwa berkata tidak apa-apa, tetap saja Abra kepikiran. Jika yang menjadi bahan gunjingan adalah dirinya, itu tidak masalah, tetapi ini kekasihnya dan dia tidak sampai hati membuat wanita itu bersedih.
.
.
__ADS_1
.