Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
56. Pergi


__ADS_3

“Halo, assalamualaikum,” ucap Salwa.


“Waalaikumsalam. Maaf Nyonya Salwa, apa bos Abra bersama dengan Anda?” tanya Roni yang berada di seberang telepon.


“Iya, dia bersamaku. Ada apa?”


“Boleh saya berbicara sebentar.”


“Tunggu sebentar, Mas Abra ada di kamar mandi. Memang ada apa, ya? Kenapa tidak menghubungi lewat ponselnya saja?”


“Ponselnya tidak bisa dihubungi. Sepertinya sedang mati, nanti kalau bos Abra sudah selesai mandi, tolong segera minta untuk menghubungi saya. Ada sesuatu hal penting yang harus saya sampaikan padanya.”


“Ah, iya, Ron. Nanti saya akan katakan padanya.”


“Baiklah, saya tutup dulu. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.” Salwa menatap ponselnya.


Tiba-tiba saja perasaannya jadi tidak enak. Dia yakin pasti telah terjadi sesuatu, hingga membuat Roni menghubunginya. Padahal biasanya juga pria itu akan menunggu sampai Abra pulang, tetapi masalah apa?"


“Sayang, kenapa melamun? Apa terjadi sesuatu?” tanya Abra saat melihat sang istri memandangi ponselnya yang sudah mati.

__ADS_1


“Oh, kamu sudah selesai. Mas, tadi Roni menghubungiku, dia mencari kamu, Mas. Katanya dia nggak bisa menghubungi nomor kamu.”


“Ponselku memang mati karena baterainya habis, tapi ada apa? Tumben dia telepon ke nomor kamu?”


“Itu dia, Mas. Roni juga nggak bilang apa pun. Sepertinya ada sesuatu yang penting.”


“Aku boleh pinjam ponsel kamu sebentar, aku ingin menghubunginya. Sepertinya ini sangat penting.”


Salwa menganggukkan kepala dan menyerahkan ponselnya pada Abra. Pria itu menjauh dan mencoba menghubungi Roni. Dalam dering pertama, bawahannya itu sudah mengangkat teleponnya.


“Halo.”


“Halo, ada apa kamu menghubungiku lewat nomor Salwa?”


“Apa keadaannya parah?”


“Saya kurang tahu. Jadi Anda mau ikut bersama dengan Lukas terbang malam ini, apa menunggu pesawat umum?”


“Bilang padanya suruh tunggu aku. Aku akan ikut mereka saja. Bagaimana dengan Nyonya Salwa? Anda tahu ‘kan kalau pesawat itu tidak boleh dinaiki oleh orang luar.”


“Kamu tenang saja, aku tidak akan mengajaknya. Untuk saat ini lebih baik dia tinggal di sini saja. Di sana juga kurang aman untuknya. Kalau di sini aku bisa tenang. Kamu juga tempatkan beberapa pengawal di sekitar rumah dan bayar beberapa orang untuk mengikuti ke mana pun Salwa pergi. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya.”

__ADS_1


“Baik, pasti akan saya lakukan.”


“Kamu tidak perlu menyiapkan pakaianku. Aku bisa mengurusnya sendiri. Di rumah sana juga masih banyak.”


“Siap bos.”


Abraham mematikan sambungan teleponnya. Salwa dari tadi menunggu sang suami menelepon. Dia tidak sabar ingin bertanya. Apalagi saat melihat wajah Abra yang begitu serius. Wanita itu semakin mengkhawatirkan keadaan sang suami.


“Mas, ada apa? Sepertinya sangat serius sekali?” tanya Salwa.


“Sayang, sepertinya aku harus berangkat malam ini juga. Maaf aku tidak bisa menemanimu di sini.”


“Maksud kamu apa, Mas? Kamu mau ninggalin aku sendiri di sini?” tanya Salwa dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak rela jika harus berpisah dengan sang suami.


“Kamu di sini tidak sendiri. Ada Papa dan juga Bibi. Untuk saat ini, di tempat ini kamu lebih aman daripada ikut bersamaku. Di sana kamu pasti akan terancam, aku juga nggak akan bisa tenang, kamu mengerti, kan?”


“Tapi aku nggak mau jauh dari kamu.” Air mata Salwa semakin deras membuat Abra tidak tega.


“Ini hanya untuk sementara, sampai semuanya kembali baik-baik saja, aku akan menjemputmu.”


Sebenarnya Salwa enggan untuk melepaskan kepergian sang suami. Akan tetapi, pria itu punya hutang pada sahabatnya. Dia tidak mungkin menghalanginya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2