
Hari ini Salwa berniat untuk berbelanja kebutuhan untuk bayinya. Dua bulan lagi, anaknya akan segera lahir, tetapi dia belum memiliki persiapan apa pun, jadi wanita itu hari ini berniat untuk membeli banyak perlengkapan. Mengenai Abra, saat ini Salwa hanya bisa meyakinkan hatinya bahwa sang suami dalam keadaan baik-baik saja. Dia selalu mensugesti dalam pikirannya seperti itu.
Wanita itu melakukannya karena tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan. Ada baby yang ada dalam perutnya yang perlu perhatian lebih. Salwa tidak tahu jenis kelamin anaknya, entah laki-laki atau perempuan. Dia memutuskan untuk membeli perlengkapan yang netral saja, biar bisa dipakai anak laki-laki maupun perempuan. Bagi wanita itu, pakaian bayi juga sama saja.
Salwa begitu senang melihat banyaknya perlengkapan bayi. Semua terlihat sangat lucu, ingin sekali dia membeli semuanya, tetapi pasti akan mubazir jika semua dibeli. Tanpa sengaja netranya menangkap pasangan suami istri yang sedang memilih baju bayi. Mereka terlihat begitu bahagia.
Setetes air mata kembali membasahi pipi wanita itu. Sekeras apa pun Salwa berusaha untuk terlihat baik-baik saja, tetap saja dia akan merasa sedih kala teringat jika sang suami belum terdengar kabarnya.
“Mbak, berapa bulan kandungannya?” sapa seorang wanita yang juga sedang berbelanja kebutuhan bayi.
Salwa segera mengusap air matanya. Dia tidak ingin orang lain tahu kesedihan yang dirasakannya.
“Tujuh bulan, Mbak. Kalau, Mbak, sendiri berapa bulan?” tanya Salwa balik saat melihat perut wanita itu yang juga sedikit besar.
“Saya sudah enam bulan. Baby-nya Mbak laki-laki apa perempuan?”
“Saya tidak tahu, saya memang sengaja merahasiakannya. Biar saja nanti menjadi kejutan,” jawab Salwa.
Padahal dirinya tidak pernah melakukan USG. Salwa hanya ingin melakukannya saat ada Abra di sampingnya. Namun, hingga kini sang Suami belum juga pulang. Jadi dia tidak pernah melakukan pemeriksaan seperti itu, hanya pemeriksaan manual saja oleh bidan yang ada di dekat rumahnya.
“Oh, begitu, kalau saya sih sudah tidak sabar, Mbak. Makanya kemarin USG dan hasilnya perempuan. Saya sih sangat senang sekali, berbeda dengan keluarga suami saya yang menginginkan seorang anak laki-laki,” ucap wanita itu dengan nada sedih.
“Kenapa begitu, Mbak? Bukankah laki-laki dan perempuan itu sama saja. Mereka juga anak kita,” tanya Salwa.
Dia tiba-tiba teringat dengan keluarga suaminya yang juga memiliki sifat seperti itu. Padahal Abra anak laki-laki, tetapi mertuanya membedakan anak-anak mereka.
“Bagi mereka keturunan itu sangat penting. Mereka sangat ingin memiliki anak laki-laki. Anak pertama saya perempuan, sekarang perempuan lagi. Mereka selalu menyia-nyiakan anak pertama saya dan lebih menyayangi anak dari kakak ipar saya. Ya, karena anak kakak ipar, laki-laki.”
__ADS_1
“Terkadang memang ada orang tua seperti itu. Kita sendiri yang dituntut bersabar," ujar Salwa yang berusaha menenangkan perasaan wanita itu.
“Bukan hanya keluarga yang seperti itu. Suami saya juga seperti itu. Dia sangat marah saat anak dalam perutku ternyata perempuan lagi. Bahkan saat ini dia berencana untuk menikah lagi.”
Salwa terkejut mendengarnya. Semudah itukah laki-laki mencari pengganti? Dia jadi teringat dengan kedua mertuanya. Dulu mereka juga pilih kasih terhadap anak-anaknya. Wanita itu jadi khawatir dengan anaknya nanti.
Salwa tidak ingin anaknya merasakan apa yang Abra rasakan dulu. Jika Papa Handi dan Mama Syakila tidak menyukai anaknya, dia tidak akan membiarkan anak itu merasakan kesedihan. Sekalipun dunia ini membencinya, wanita itu sendiri yang akan memberikan seluruh kebahagiaan untuknya.
“Mbak, kenapa melamun?” tanya wanita tadi.
“Ah, tidak apa-apa,” sahut Maysa dengan tersenyum.
“Ya sudah, kalau begitu saya duluan, Mbak. Semoga sehat sampai lahiran."
“Iya, amin. Hati-hati, Mbak!” Salwa jadi tidak berselera untuk melanjutkan berbelanja. Dia pun berjalan ke kasir dengan membawa barang yang sudah ada di keranjang.
“Tidak perlu, Andre. Kamu tunggu saja di luar,” ucap Salwa pada pengawal yang wanita itu kenal dengan nama Andre.
Pengawalnya memang banyak, tetapi hanya Andre yang sering mendekati Salwa karena dia orang yang paling dipercaya oleh Roni. Pria itu juga kepala pengawal yang saat ini menjaga istri Abra. Keberadaan Andre menyita perhatian di sana. Apalagi melihat tingkah pria itu yang begitu sopan pada Salwa.
Hal itu meyakinkan semua orang jika wanita hamil itu orang kaya, hingga memakai jasa pengawal. Sebenarnya Salwa tidak suka menjadi bahan perhatian,tetapi dia tidak ingin sang suami khawatir, jadi wanita itu menurut saja.
“Tapi, Nyonya. Antrean sangat panjang, Anda pasti lelah berdiri terus. Bagaimana kalau Anda duduk di sana saja, biar saya yang antre,” ucap Andre sambil menunjuk ke arah kursi yang tersedia.
Salwa menurut saja, memang dia lelah karena terlalu lama berdiri. Usia kehamilan yang semakin bertambah, semakin membatasi ruang geraknya. Setelah selesai membayar semuanya, Salwa dan Andre meninggalkan toko menuju rumah.
“Andre, apa masih belum ada kabar mengenai keberadaan Mas Abra?” tanya Salwa saat mereka dalam perjalanan. Keduanya satu mobil dengan sopir juga. Andre duduk di depan sementara wanita itu di belakang.
__ADS_1
“Maaf, Nyonya. Kami belum mendapat kabar apa pun.”
“Apakah setiap ada masalah di antara kelompok, memang kalian begitu lama?”
“Tergantung kehebatan musuh, Nyonya. Bahkan pernah juga sampai setahun lebih.”
Maysa terdiam, dia pernah mendengar Abra berkata musuhnya kali ini memang musuh bebuyutan. Sudah pasti termasuk orang-orang yang hebat. Kapan kira-kira suaminya akan kembali? Tanpa sadar wanita itu mengusap perutnya yang membuncit.
“Apa di antara mereka nggak ada yang bawa ponsel? Kenapa tidak mengabari kalian? Kalau memang mereka kewalahan, kalian semua yang ada di sini kenapa tidak datang ke sana? Apa kalian tidak khawatir jika terjadi sesuatu dengan teman kalian?” tanya Salwa yang sudah sangat kesal karena tidak mendapatkan jawaban apa pun dari pertanyaannya.
“Maaf, Nyonya, mereka tidak ada yang membawa ponsel. Hanya memakai HT saja.”
Salwa tidak berkata-kata lagi. Percuma juga bicara dengan mereka. Tidak henti-hentinya wanita itu berdoa agar sang suami bisa kembali pulang dengan selamat. Dia tidak ingin anaknya hidup tanpa seorang ayah.
Tidak berapa lama, mereka akhirnya sampai juga di rumah. Ada sebuah mobil yang terparkir di sana. Salwa sangat tahu siapa pemiliknya, yaitu kedua mertuanya, tetapi kali ini dia tidak tahu siapa yang datang. Keduanya atau salah satu dari mertuanya.
“Assalamualaikum,” ucap Salwa saat memasuki rumah. Diikuti Andre di belakangnya dengan membawa papper bag yang segera dibawa ke dalam.
“Waalaikumsalam, kamu dari mana, Salwa?” tanya Mama Rafiqah. Ternyata kedua mertuanya yang datang.
“Dari berbelanja, Ma.”
“Suami kamu sedang tidak diketahui keberadaannya, bisa-bisanya kamu asyik berbelanja,” ucap Papa Handi degan sarkas.
Salwa memutar bola matanya malas. Sejak kapan mertuanya peduli dengan keberadaan Abra? Biasanya juga cuek saja.
.
__ADS_1
.