Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
59. Tujuan Handi


__ADS_3

“Saya yakin Mas Abra juga tidak keberatan jika saya berbelanja sebanyak apa pun. Kenapa jadi masalah untuk Papa?” tanya Salwa.


“Jangan kamu pikir, kamu lebih punya segalanya, kamu bisa memperlakukan Abra seenaknya,” ucap Papa Handi dengan sedikit emosi.


“Maksud Papa apa? Selama ini saya dan Mas Abra baik-baik saja. Kami berdua saling bergantung dan saling mengisi. Kami tidak pernah ada masalah. Kami selalu bahagia."


“Sekarang Abra tidak diketahui keberadaannya, tetapi kamu seolah tidak peduli akan hal itu. Wajahmu juga tidak menunjukkan kesedihan.”


Kedatangan orang tua Abra hanya membuat suasana hati Salwa memburuk. Padahal dari kemarin, wanita itu berusaha membuat dirinya bahagia dan baik-baik saja agar baby-nya juga sehat. Sekarang seenaknya saja mereka berbicara.


Tahu apa mereka tentang keadaan wanita itu. Keduanya hanya peduli saat sudah kehilangan anak kesayangannya. Padahal sebelumnya mereka tidak mau tahu, bagaimana keadaan Abra. Pria itu sudah makan atau tidak, orang tuanya tidak pernah tahu.


“Jika kedatangan Anda ke sini hanya untuk membuat keadaan putri dan calon cucu saya semakin drop, lebih baik Anda tidak datang!” seru Anton yang baru saja datang. Dia berdiri di samping putrinya, seolah menunjukkan bahwa pria itu akan menjaganya.

__ADS_1


Pria itu mendengar apa yang besannya katakan. Anton sangat tahu bagaimana kesedihan yang dirasakan putrinya, tetapi Handi seenaknya saja berbicara seperti itu. Mereka tidak tahu apa-apa, seharusnya tidak perlu banyak berbicara. Seperti yang selama ini keduanya lakukan.


“Sekarang kamu merasa lebih berkuasa, makanya kamu berani sama saya. Apa kamu tidak ingat bagaimana dulu kamu mengemis agar saya membantumu?”


“Saya masih sangat ingat, tetapi saya tidak ingin mengingatnya. Sekarang saya ingin berubah menjadi orang tua yang lebih bertanggung jawab. Umur kita sudah tua, seharusnya mempergunakannya dengan baik.”


“Wah, luar biasa jika kamu benar-benar berubah. Sa—“


Papa Handi mencoba untuk menahan amarahnya. Dia tidak ingin membuat rencananya gagal. Apa yang diinginkan harus terpenuhi.


Salwa menatap kedua mertuanya dengan pandangan curiga. Dia yakin jika mereka pasti memiliki tujuan yang akan merugikannya. Namun, wanita itu mencoba untuk berpikir positif. Mudah-mudahan apa yang dipikirkan tidak terjadi.


“Ehm, sebaiknya kita duduk dulu,” ucap Salwa yang mencoba untuk bersikap baik pada mertuanya.

__ADS_1


Mereka pun duduk di sofa ruang tamu. Bik Sumi menghidangkan minuman dan cemilan di sana. Papa Handi dan Mama Syakila saling pandang, seolah berkata untuk memulai pembicaraan. Salwa dan Papa Anton hanya diam saja sambil menikmati minumannya.


Susana tiba-tiba menjadi hening. Hanya detik jarum jam yang terdengar. Salwa tahu jika ada yang diinginkan kedua mertuanya. Namun, dia pura-pura tidak tahu. Wanita itu ingin tahu sejauh mana mereka bertingkah.


“Jadi begini, saya tahu kamu di rumah ini dijaga beberapa pengawal Abra. Padahal kamu hanya diam di rumah, tidak ke mana-mana, sudah dipastikan kamu aman. Tidak lagi memerlukan pengawal,” ucap Papa Handi.


Salwa masih diam mendengarkan mertuanya berbicara. Dia belum tahu ke mana arah pembicaraan pria itu.


“Langsung saja, tidak usah berputar-putar. Saya tidak mengerti maksud Papa,” tukas Salwa.


"Saya ingin kamu menyerahkan pengawal yang menjagamu kepadaku. Keadaanku lebih berbahaya daripada kamu karena saya orang tua Abra. Aku juga selalu berpergian kemana-mana, sedangkan kamu hanya di rumah saja."


Ingin sekali Salwa tertawa sekencang-kencangnya. Namun, dia mencoba untuk menahannya. Wanita itu tidak ingin terlihat sok berkuasa atas apa yang dimiliki oleh sang suami. Padahal apa yang dimiliki Abra adalah murni usahanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2