
"Ada apa? Kenapa meneleponku malam-malam?" tanya Abra dengan malas.
"Kok kamu begitu, sih, Sayang? Aku kangen sama kamu," jawab Salwa yang berada di seberang telepon.
"Aku ada kerjaan, sebaiknya kita bicara besok saja."
"Kok, kamu gitu sih! Biasanya kita selalu ngobrol sampai pagi, tapi sekarang, baru aku ngomong sebentar, udah bilang sibuk. Kamu sudah mulai berubah, ya!" ucap Salwa yang sengaja dibuat sesedih mungkin. Dia ingin tahu bagaimana reaksi Ibra.
"Kalau kamu ingin mencari teman berbicara, cari saja orang lain. Kamu bisa bicara dengan papa kamu atau mama kamu," ucap Abra dengan nada tegas.
Tiba-tiba Salwa terdiam. Dia tidak mampu berkata apa-apa padahal dia berniat ingin menggoda Ibra saja. Gadis itu selalu sensitif jika ada seseorang yang membahas mengenai mamanya.
"Maafkan aku jika aku mengganggu pekerjaanmu. Selamat malam." Salwa menutup panggilan tanpa menunggu jawaban dari Ibra yang berada di seberang.
Sementara Abra merasa aneh dengan tunangan saudaranya itu dan berpikir, 'Apa aku salah berbicara tadi? Aku rasa tidak, aku hanya mengatakan yang sesungguhnya. Sudah biarkan saja.'
Abra mencoba untuk menghilangkan perasaan bersalahnya. Namun, sampai tengah malam pun dia masih memikirkan apa yang salah dari ucapannya? Hingga pria itu memutuskan untuk membuka file mengenai Salwa yang pernah diberikan oleh Romi. Dia membuka laci meja di samping ranjang dan membacanya.
Ternyata mama Salwa sudah meninggal dan Gadis itu paling anti jika ada seseorang yang membahas mengenai almarhum mamanya. Abra memang tidak membaca file itu sama sekali, dia pikir mamanya Salwa masih hidup dan wanita yang jadi sekretaris itu selingkuhannya. Banyak pengusaha kaya seperti itu, kan?
Abra merutuki kebodohannya karena sudah menyinggung perasaan Salwa. Dia juga takut jika kebohongannya terbongkar, apalagi tadi gadis itu juga langsung berubah nada bicaranya. Pasti Salwa merasa tersinggung dengan apa yang dia ucapkan pria itu. Abra ingin menghubungi Salwa. Namun, dia urungkan karena ini sudah tengah malam.
Biar besok pagi saja pria itu menghubunginya. Abra harus meminta maaf karena sudah membuat Gadis itu bersedih. Meski dia harus bersikap memalukan seperti yang lain, akan dilakukannya. Abra tidak ingin disalahkan jika dirinya membuat hubungan Salwa dan Ibra renggang.
Sementara di seberang, Salwa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia menangis mengingat kebersamaannya bersama dengan almarhumah mama. Semua terasa begitu indah, hingga sampai pada penghianatan sang papa, yang membuat mamanya sakit keras hingga akhirnya meninggal dunia.
Sejak saat itu hubungannya dan Anton merenggang. Pria itu pun semakin keras mendidiknya. Salwa sama sekali tidak bisa melakukan apa pun. Meski dalam hatinya rasa benci itu semakin besar, tetapi kekangan Anton jauh lebih besar.
Pagi-pagi sekali, Abra sudah rapi. Dia akan ke rumah Salwa untuk meminta maaf. Dari tadi pria itu mencoba menghubungi tunangan saudaranya, tapi nomornya tidak aktif. Pikiran jelek tiba-tiba saja datang.
__ADS_1
"Ma, aku pergi dulu," pamit Abra pada mamanya yang berada di meja makan.
"Ini masih pagi, kamu mau ke mana?"
"Salwa minta saya ke rumahnya, Ma. Katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Nanti siang aku ada meeting jadi, aku ke sana sekarang saja," jawab Abra berbohong.
Dia sangat tahu bagaimana keluarga ini begitu menyayangi Salwa karena Ibra yang sudah cinta mati padanya. Pria itu hanya tidak ingin menambah masalah saja. Itulah kenapa lebih baik berbohong.
"Oh, ya sudah, ingat! Jika Salwa tanya mengenai rencana pernikahan, kamu harus pandai berkilah."
"Iya, Ma. Aku pergi dulu." Abra mencium kening mamanya.
Kali ini pria itu pergi bersama Pak Yanto. Dia mengirim pesan pada Romi untuk langsung ke kantor saja, tidak perlu ke rumah. Akhirnya setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, mereka sampai juga.
Abra turun dari mobilnya dan mengetuk pintu. Tampak seorang wanita paruh baya yang membukanya. Dia tersenyum ramah pada Ibra.
"Selamat pagi, Tuan Ibra? Silakan masuk!" sapa Bik Sumi.
Bik Sumi menyernyitkan keningnya saat mendengar jawaban Ibra. Biasanya pria itu akan membalas sapaannya dengan menggoda dirinya, tetapi kini hanya suara dingin yang dia dengar. Wanita paruh baya itu tidak berani menegur. Sepertinya Ibra sedang ada masalah, di lihat dari wajahnya yang terlihat serius.
Abra duduk di ruang tamu, sementara Bik Sumi masuk untuk memanggil Salwa. Tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki seseorang. Namun, bukan Salwa, itu adalah Anton.
"Selamat pagi, Ibra. Apa kabar?" tanya Anton sambil mengulurkan tangannya. Pria itu merasa aneh dengan kedatangan calon menantunya. Ini pertama kalinya Abra datang pagi-pagi sekali.
"Pagi, Pak Anton, saya baik," sahut Abra sambil menyambut uluran tangan calon mertuanya.
"Kenapa panggil pak? Biasanya juga om kalau di rumah."
"Oh ... iya, saya suka kebawa kebiasaan," jawab Abra beralasan.
__ADS_1
Mereka pun berbincang. Sebenarnya Abra sangat malas menanggapinya, tetapi mau bagaimana lagi Anton adalah tuan rumah.
"Maaf, Tuan, sarapan sudah siap. Non Salwa juga minta Tuan Ibra untuk bergabung," sela Bik Sumi.
"Iya, Bik," sahut Anton. "Mari, Ibra, kita sarapan dulu."
"Iya, Om."
Mereka berjalan menuju ruang makan. Di sana tampak Salwa sedang menata hidangan di meja. Gadis itu hanya diam saat papa dan tunangannya duduk. Sama sekali tidak ada niat untuk menyapa.
Anton yang melihat tingkah putrinya jadi tahu alasan Ibra datang pagi-pagi sekali. Dia merasa senang akan hal itu. Berarti pesona Salwa sudah semakin besar pada tunangannya. Pria itu jadi memiliki kesempatan yang besar untuk membuat perusahaannya semakin jaya.
"Silakan dinikmati, Ibra. Beginilah sarapan kami setiap harinya," ucap Anton berbasa-basi.
"Terima kasih, ini sudah sangat nikmat, Om."
Mereka pun sarapan dengan tenang. Salwa sedari tadi tidak melihat ke arah Ibra. Hal itu tentu saja membuat Abra kesal sekaligus merasa bersalah. Ingin sekali pria itu berbicara langsung dan meminta maaf pada tunangannya. Akan tetapi, di sini ada Anton, tidak mungkin dia berbicara.
Anton yang mengerti situasi pun, makan dengan cepat agar mereka bisa berbicara. Dia ingin putrinya bisa mengendalikan Ibra sepenuhnya. Pria itu harus ada dalam genggamannya dan Salwa harus mewujudkannya.
"Saya sudah selesai, kalian lanjutkan saja sarapannya. Saya juga ada meeting pagi ini," pamit Anton. "Salwa, Papa berangkat dulu. Kalau mau pergi, hubungi Papa. Biar nanti Papa kirim sopir ke rumah."
Salwa hanya mengangguk tanpa mau berkata. Hal itu sudah biasa baginya. Setelah kepergian Anton, suasana tampak hening. Bik Sumi sendiri berada di belakang sedang mencuci baju.
Abra sesekali melirik gadis yang ada di depannya. Dia bingung mau mulai bicara darimana.
.
.
__ADS_1
.