
“Salwa tidak ikut sarapan, Bik?” tanya Anton saat dia masuk ke ruang makan. Semua makanan sudah tertata rapi di meja. Di sana tidak terlihat putrinya.
“Saya sudah memanggilnya, Tuan, tapi Neng Salwa bilang sebentar lagi. Sepertinya Neng Salwa masih suka melamun. Mungkin sedang memikirkan suaminya,” jawab Bik Sumi.
Wanita itu jadi tidak tega melihat keadaan anak majikannya. Dia sudah menganggap Salwa seperti putrinya sendiri. Untung saja nafsu makan ibu hamil itu sangat besar, jadi tidak terlalu mengkhawatirkan keadaan janinnya.
“Biar saya yang panggil,” ucap Anton yang segera berlalu menuju kamar putrinya.
Pria itu mengetuk pintu beberapa kali dan segera masuk. Kamar tampak kosong, tidak ada Salwa di sana. Anton mencoba mencari, ternyata putrinya berada di balkon sambil memandang ke arah depan. Seperti yang dikatakan Bik Sumi, ternyata putrinya memang sedang melamun.
__ADS_1
“Apa yang menjadi beban pikiranmu? Apa kamu masih memikirkan Abra?” tanya Anton yang berdiri di samping putrinya.
Sudah lima bulan sejak kepergian Abra hari itu, sampai saat ini pria itu belum juga kembali. Bahkan nomor ponselnya pun tidak bisa dihubungi. Bukan hanya Abra saja, baik Roni atau pun Lukas, tidak ada satu pun diantara mereka yang bisa dihubungi oleh Salwa. Wanita itu sering mencari berita dari negara tempat Abra tinggal, berharap ada titik terang. Namun, tidak ada satu pun berita yang berkaitan dengan sang suami.
Wanita itu juga tahu jika selama ini dia dilindungi oleh anak buah Abra. Salwa juga mencari tahu dari mereka dan sama saja, tidak ada satu pun yang tahu. Saat ini keadaan wanita itu sedang hamil. Usia kandungannya sudah tujuh bulan. Sang suami sama sekali tidak tahu mengenai hal itu karena wanita itu sendiri, mengetahuinya setelah satu bulan kepergian Abra.
Salwa memang tidak mengalami morning sick seperti wanita hamil lainnya. Dia tampak seperti hari-hari biasa, bahkan wanita itu makan dengan sangat lahap. Padahal pikirannya sedang terbagi dengan keberadaan sang suami.
“Aku tidak tahu bagaimana keadaannya saat ini, Pa. Aku sangat merindukannya. Dia pasti sangat senang kalau tahu, saat ini aku sedang hamil.”
__ADS_1
“Perbanyaklah berdoa agar suamimu dalam keadaan baik-baik saja.”
“Tentu saja, Pa. Aku tidak pernah lupa untuk mendoakannya. Aku selalu berharap dia pulang dalam keadaan selamat. Setiap malam aku selalu bermimpi dia pulang dengan senyum yang mengembang. Dia juga sangat bahagia saat mengetahui kehamilanku. Aku jadi tidak sabar ingin melihat dia benar-benar ada di depanku, melihat calon anaknya yang akan segera lahir," ujar Salwa dengan senyum mengembang. Namun, air matanya juga ikut mengalir.
Anton merangkul pundak putrinya, hingga membuat Salwa segera memeluk papanya. Wanita itu menangis di dada sang papa. Ini pertama kalinya dia menangis dalam pelukan pria paruh baya itu. Salwa sudah tidak tahan lagi, wanita itu selalu merindukan suaminya.
Entah bagaimana keadaannya saat ini, dia sangat mengharapkan ada kabar dari Abra. Anton membiarkan bajunya basah oleh air mata putrinya. Dulu pria itu sering membuat Salwa menangis seperti ini. Tidak sedikit pun hatinya tergerak untuk menenangkannya, tetapi sekarang, saat dia mendengar tangis sang putri, hatinya terasa teriris.
Anton tidak tega melihat Salwa seperti itu, tetapi dia tidak bisa melakukan apa pun untuk saat ini. Hanya doa yang mampu mengembalikan Abra ke rumah ini.
__ADS_1
.
.