
Pagi-pagi sekali Abra dan Salwa sudah siap untuk menuju bandara. Keduanya didampingi satu mobil lainnya yang berisi para bodyguard.
"Bik, aku berangkat dulu. Bibi jaga diri baik-baik," pamit Salwa pada ART-nya. Selama ini hanya Bik Sumi yang selalu ada untuknya. Wanita paruh baya itu juga yang merawat anak majikannya seperti anak sendiri. Salwa sangat beruntung memilikinya dalam hidup ini.
"Non Salwa juga sehat-sehat di sana. Jaga diri baik-baik. Jangan makan sembarangan, apalagi yang pedas-pedas. Non Sawa itu kan suka sekali makan yang pedas."
"Iya, Bik. Salwa akan selalu ingat apa yang Bibi katakan."
"Den Abra, Bibi titip Non Salwa. Jaga dia baik-baik. Dia wanita lemah, selama ini hanya pura-pura kuat saja," ucap Bik Sumi pada Abra.
"Iya, Bibi tenang saja. Tanpa Bibi minta pun saya akan menjaganya dengan baik karena dia juga istri saya."
"Saya percaya pada Den Abra. Saya juga bisa melihat cinta yang begitu besar untuk Non Salwa. Semoga selamanya seperti itu."
"Amin, doakan saja untuk rumah tangga kami."
"Tentu, Bibi akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian."
"Terima kasih, Bi. Sudah saatnya kita berangkat," pamit Abra.
"Iya, hati-hati."
Salwa memeluk Bik Sumi dengan erat. Setetes Air mata jatuh membasahi pipi wanita itu, segera dia mengusapnya. Abra dan istrinya menaiki mobil dan meninggalkan halaman rumah. Perjalanan kali ini lancar tanpa hambatan, hingga tidak terasa mereka sampai juga di bandara.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Roni. Seketika membuat pria itu menegang. Abra yang ingin membuka pintu pun tidak bisa karena asistennya tengah menguncinya.
__ADS_1
"Roni, kenapa kamu tidak membuka kuncinya?" tanya Abra.
"Bos, sebaiknya kita batalkan saja perjalanan hari ini."
"Kenapa?" tanya Abra dengan mengerutkan keningnya. Dia merasa aneh dengan anak buahnya itu yang tiba-tiba membatalkan rencananya begitu saja. Roni tampak bingung bagaimana menjelaskan pada atasannya. "Katakan saja, apa yang sebenarnya terjadi. Tidak usah menutup-nutupi."
"Begini, Bos. Baru saja anak buah saya melihat ada beberapa orang yang terlihat aneh di sekitar bandara. Kami meyakini jika mereka orang suruhan Ibra."
Abra sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Dia sudah semakin yakin kalau ada orang dalam tengah berkhianat, tapi pria itu tidak mungkin mengatakan ini pada orang yang ada di sekitarnya. Termasuk orang kepercayaannya. Setiap orang bisa saja menjadi pelaku.
Sebelumnya Abra memang mencurigai ada seseorang yang berkhianat karena Ibra, yang berada dalam pengawasan anak buahnya bisa kabur begitu saja. Jika bukan orang yang tahu seluk beluk kekuasaannya, tidak mungkin bisa bebas begitu saja.
"Di mana Lukas dan Leo?"
"Mereka sudah di dalam pesawat. Saya akan memberi kabar pada mereka jika Anda membatalkan penerbangan."
"Tapi, kalau ...."
"Sudah, buka saja pintunya."
Terpaksa ya Roni membuka kunci pintu mobil. Abra dan Salwa berjalan dengan beriringan. Pria itu begitu posesif memeluk pinggang istrinya sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Dia ingin memastikan bahwa di sekitarnya aman. Para anak buah pun mengelilinginya. Mereka ingin memberi keamanan pada atasannya.
Baru beberapa langkah, sudah terdengar suara tembakan. Abra semakin mempererat pelukannya pada sang istri dan terus saja berjalan menuju tempat check in. Orang yang mengelilinginya pun semakin banyak. Terjadi baku hantam antara anak buahnya dengan beberapa orang di sana. Bahkan aparat kepolisian pun tidak mampu menghentikan kekacauan ini.
Abra masih tidak memperdulikan apa yang terjadi pada anak buahnya. Salwa meminta sang suami berhenti agar bisa menolong anak buahnya, tetapi pria itu menolak. Abra berpikir, anak buahnya pasti akan sanggup melawan mereka. Dilihat dari teknik bela diri musuh pun, dia bisa tahu jika mereka bukanlah orang yang ahli dalam berkelahi.
__ADS_1
Pria itu jadi berpikir, semua ini pasti hanya untuk mengalihkan perhatian saja. Hingga saat keduanya hampir sampai di pintu masuk, seorang pria menghadang jalannya. Dia memakai pakaian serba hitam masker hitam dan juga topi hitam. Pria itu menundukkan kepala.
Abra menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia menyembunyikan istrinya di balik punggung. Pria bermasker itu melihat ke arah mereka dan tersenyum menyeringai. Saat dia membuka maskernya, di situlah Abra tahu jika itu benar-benar saudara kembarnya.
Abra dan Salwa tidak begitu terkejut melihatnya karena sudah mengetahui kabar kaburnya Ibra. Keduanya yakin suatu hari nanti pasti akan bertemu dan mereka tidak menyangka jika akan bertemu di sini.
"Selamat pagi saudaraku dan juga mantan tunanganku. Oh, salah. Lebih tepatnya kakak iparku" ucap Ibra yang kemudian tertawa terbahak-bahak. "Kalian sudah menghancurkan hidupku. Aku tidak ingin hancur sendirian karena itu kalian juga harus ikut hancur."
"Kamu hancur karena ulah kamu sendiri. Kenapa kamu jadi menyalahkan kami? Seharusnya kamu sadar, jika apa yang kamu lakukan bisa membuat banyak orang rugi. Kamu adalah seorang laki-laki, bisakah kamu tidak memikirkan dirimu sendiri? Pikirkan juga kedua orang tuamu, yang saat ini pasti mengkhawatirkan anak kesayangannya, sekarang malah menjadi penjahat."
Abra mencoba meracuni pikiran Ibra. Sebagai seorang saudara, dia tidak ingin adiknya salah jalan. bagi pria itu, Ibra hanya sedang khilaf dan belum ada yang bisa menyadarkannya. Itulah kenapa Abra ingin adiknya kembali ke jalan yang benar.
"Jangan membicarakan mereka! Mereka hanya bisa menuntutku ini dan itu, tanpa mau tahu apa yang aku inginkan."
"Bukankah itu yang kamu inginkan? Selama ini kamu menghasut mereka, membuat mereka membenciku dan menelantarkanku. Sekarang kenapa kamu marah? Itu adalah hasil yang kamu dapat."
Ibra terdiam. Benar, apa yang dikatakan Abra, dia menginginkan semua ini, tapi entahlah. Justru pria itu merasa banyak kehilangan setelah mendapatkan hal kecil. Ibra tidak bisa bebas dalam melakukan apa pun. Dia juga dituntut melakukan sesuatu yang tidak disukai. Abra yang melihat Ibra mulai terpengaruh dengan kata-katanya, mencoba untuk membujuk saudaranya itu agar mau berdamai dengannya.
"Aku tahu kamu pria yang baik, cobalah untuk mengerti keadaan. Kita sama-sama sudah dewasa, kamu pasti juga ingin hidup dengan tenang dan damai. Ayo, kita mulai semuanya dari awal!" pinta Abra dengan pelan.
Ibra terdiam kemudian menyeringai. "Kamu pikir aku terpengaruh dengan kata-kata manismu itu? Aku sama sekali tidak terpengaruh. Aku lebih suka kalian berdua mati!"
Abra semakin khawatir jika Ibra benar-benar nekat. Apalagi di sini ada Salwa. Dia yakin sang istri pasti sudah ketakutan. Akan tetapi, untuk saat ini pria itu belum bisa menenangkan istrinya. Saat ini yang penting adalah membatalkan niat Ibra.
.
__ADS_1
.