
"Sepertinya sulit, Tuan, untuk mencari keberadaan penculiknya. Mereka bukan orang biasa dan sepertinya sudah sangat profesional dalam hal ini. Saya tidak bisa menembus pertahanan mereka," ucap Roni yang baru selesai dengan laptopnya.
Abra mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sudah tidak memiliki ide lagi, entah bagaimana pria itu harus menemukan Salwa. Perasaannya mengatakan jika keadaan kekasihnya itu sudah tidak baik-baik saja. Abra juga mengkhawatirkan kandungan Salwa.
"Tapi saya tahu siapa orang yang bisa menembus pertahanan mereka, Tuan," lanjut Roni membuat Abra kembali menatapnya.
"Siapa?"
"Edo, adiknya Lukas. Hanya dia yang bisa membantu Anda saat ini."
"Kamu tahu, kan, kalau aku tidak ingin berhubungan lagi dengan mereka! Aku sudah menyerahkan semuanya pada Lukas. Kalau aku meminta bantuannya saat ini, dia pasti akan memintaku bergabung dengan mereka."
"Tapi keadaan Nona Salwa lebih penting untuk saat ini, Tuan. Saya harap Anda tidak menyesal saat semuanya sudah terlambat. Hanya adik Tuan Lukas yang bisa membantu Anda saat ini. Terserah Anda mau mendengarkan saya atau tidak, yang jelas saya sudah mengatakan yang sejujurnya."
Benar apa yang dikatakan Roni. Saat ini keadaan Salwa jauh lebih penting dari segalanya. Bahkan jika dia harus mempertaruhkan nyawanya, pasti akan pria itu lakukan. Akan tetapi, jika saat ini Abra bergabung dengan Lukas, dia tidak akan bisa lepas selamanya.
Setelah cukup lama berpikir, Abra pun menghubungi Lukas dan memintanya untuk datang bersama adiknya. Kali ini dia benar-benar membutuhkan mereka untuk mencari keberadaan Salwa. Mengenai syarat yang diajukan Lukas, dia tidak punya pilihan lain asalkan kekasihnya baik-baik saja.
Semoga nanti, Salwa mengerti dia kembali ke pekerjaannya dulu. Semua demi kekasih dan anaknya. Dia berharap mereka baik-baik saja. Kalau sampai terjadi sesuatu, pria itu tidak akan pernah memaafkan mereka.
*****
Salwa mengerjapkan mata beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya. Tubuh wanita itu terasa sangat kaku. Ternyata dia tidur sambil duduk dan yang lebih mengejutkan lagi, tangannya terikat di belakang. Salwa melihat sekeliling ruangan yang tampak gelap. Namun, dia masih bisa melihat jika ruangan itu kosong.
Tidak ada seorang pun yang ada di sana. Wanita itu mencoba mengingat apa yang terjadi padanya. Setelah beberapa menit, barulah Salwa ingat, jika ada seseorang yang membekap dan membawanya pergi saat dirinya ke toilet. Dia menjadi panik, wanita itu takut jika orang yang menculiknya adalah orang jahat dan akan mencelakainya. Entah bagaimana dirinya nanti.
Apalagi saat ini wanita itu sedang mengandung. Dia takut orang-orang itu akan mencelakakan anaknya. Terdengar suara pintu terbuka. Seorang wanita masuk sambil tersenyum dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.
__ADS_1
"Selamat malam, Nona. Waktunya Anda untuk makan," ucap wanita tersebut.
"Siapa kamu? Kenapa kamu menculikku? Apa salahku padamu? Aku tidak mengenalmu. Tolong lepaskan aku!" tanya Salwa beruntun.
"Maafkan saya. Saya hanya menjalankan tugas. Saya juga tidak tahu siapa yang sudah menginginkan Nona. Saya di sini hanya untuk memberi Anda makan. Selebihnya Itu urusan atasan saya."
"Jadi maksudmu ada orang yang menyuruhmu? Siapa dia? Apa tujuannya menculikku? Jika itu mengenai urusan bisnis, kenapa tidak datang menemui papa saja? Kenapa harus menculikku?"
"Tidak tahu, Nona. Itu bukan urusan saya. Tugas saya hanya memberi Anda makan. Saya akan menyuapi Anda."
"Aku tidak mau makan. Bawa pergi saja makanan itu. Aku hanya ingin tahu, siapa yang sudah menyuruh kalian?" tanya Salwa dengan kesal.
"Maaf, Nona. Saya tidak tahu."
"Kalau begitu sebaiknya kamu pergi saja dan bawa makanan itu. Aku tidak tahu apa saja yang sudah kalian campurkan dalam makanan itu. Siapa tahu ada racun di dalamnya."
"Saya bisa memastikan jika tidak ada racun di dalamnya. Kalau tidak percaya, saya akan mencobanya."
"Kenapa kamu mau bekerja dengan orang jahat? Apa kamu tidak takut jika mereka juga mencelakaimu?"
"Saya tidak punya pekerjaan lain, Nona. Saya sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tidak seorang pun mau menerima saya bekerja. Saya terpaksa melakukan semua ini. Saya masih memiliki ibu dan dua anak yang harus saya nafkahi."
"Suami Mbak ke mana?"
"Suami saya pergi dengan wanita lain. Dia tidak mau hidup susah dengan saya."
Salwa menganggukkan kepala. Dia mengerti, apa yang dilakukan wanita ini adalah keterpaksaan. Salwa yakin wanita yang ada di depannya adalah orang yang baik.
__ADS_1
"Mbak, namanya siapa?"
"Nama saya Lia."
"Semoga Mbak Lia segera mendapatkan pekerjaan dan tidak bekerja di tempat seperti lagi."
"Terima kasih, semoga ada seseorang yang bisa menyelamatkan Anda dari tempat ini," ucap Lia dengan pelan. Dia takut jika ada yang mendengarnya. "Ya sudah, Non. Saya mau balik ke belakang dulu. Terima kasih Nona tidak mempersulit pekerjaan saya."
Lia meninggalkan ruangan itu. Sampai di depan, dia dihadang penjaga di sana. "Bagaimana? Apa dia mau makan?"
"Sudah lihat, kan, piringnya kosong," jawab Lia sambil memperlihatkan piring yang dia bawa.
Kalau bukan karena terpaksa, Lia tidak akan pernah mau bekerja di tempat seperti ini. Di rumah, masih ada dua anak dan seorang wanita paruh baya yang harus dia beri makan. Uang dari mana selain dari tempat ini. Di luar sana tidak ada yang mempekerjakannya yang hanya memiliki ijazah SMP.
"Baguslah, nanti sore kamu datang lagi dan suapi dia lagi."
"Baik." Lia segera meninggalkan tempat itu.
Dia masih harus mengambil cucian di rumah tetangganya. Sebenarnya wanita itu juga kasihan melihat Salwa yang disekap di tempat seperti itu. Lia juga tidak berani menyelamatkannya. Itu sama saja dengan mengantarkan nyawa Bagaimana nasib anak dan ibunya jika dirinya dalam bahaya.
Seharian berada dalam tawanan membuat Salwa kesal. Dia sama sekali tidak bisa tidur. Wanita itu juga tidak tahu siapa yang sudah menyekapnya di sini dan apa tujuannya. Sore hari seperti yang dikatakannya tadi, Lia kembali datang dengan membawa sepiring makanan dan satu gelas jus. Namun, anehnya dia sama sekali tidak berniat untuk memberikannya pada Salwa. Wanita itu malah meletakkannya di lantai.
"Ada apa, Mbak? Kenapa makanannya ditaruh di lantai?" tanya Salwa dengan raut wajah merasa bersalah.
"Maafkan saya! Saya tidak bisa memberikan makanan itu. Sepertinya ada sesuatu di dalamnya. Sebelum ke sini, tadi bos besar mengirim seseorang untuk menaburkankan obat di atas makanan dan minuman itu, jadi sebaiknya Anda tidak memakan apa pun itu. Saya takut jika itu adalah racun atau hal-hal yang bisa membuat Anda celaka," ucap Lia membuat Salwa terkejut.
.
__ADS_1
.
.