Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
63. Rumah sakit


__ADS_3

“Kenapa tiba-tiba Salwa pindah tempat periksa?” tanya Abra saat menerima telepon dari Andre.


Dia benar-benar marah karena sudah dari tadi pria itu menunggu. Namun, Salwa malah pindah tempat periksa begitu saja, tanpa ada konfirmasi sebelumnya. Kedatangannya ternyata sia-sia.


“I–itu, Tu–tuan ... itu ....”


Andre tergagap, dia bingung harus menjelaskan bagaimana. Kenyataannya pria itu memang tidak tahu apa-apa mengenai hal ini. Apa pun yang keluar dari mulutnya, pasti akan salah di mata Abra, tetapi jika diam saja maka dirinya akan semakin disalahkan.


“Katakan saja, tidak perlu ragu! Apa yang sebenarnya terjadi?” geram Abra.


“Di rumah sakit itu, ada teman lama Nyonya dan Nyonya juga tampil begitu cantik agar tidak malu saat bertemu dengannya,” ucap Andre dengan memelankan kalimat terakhir.


Dia benar-benar takut jika Abra akan marah. Benar saja, pria itu langsung berteriak. Untung saja Andre tidak ada di depannya. Jika iya, maka sudah pasti akan mendapat bogem mentah. Dia mencoba untuk menjelaskannya dengan pelan

__ADS_1


“Apa kamu bilang? Kamu jangan bicara yang tidak-tidak mengenai Salwa. Dia bukan wanita seperti itu!”


“Maaf, Tuan, tapi memang itu yang Nyonya Salwa katakan.”


“Di mana rumah sakitnya? Kirim alamatnya segera. Saya akan datang ke sana.” Abra menutup ponselnya dengan amarah. Dia mengumpat beberapa kali guna meluapkan kekesalannya. Pria itu tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan istrinya.


“Roni, ayo kita pergi dari sini! Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, apa yang dilakukan Salwa di sana. Berani-beraninya dia datang ke rumah sakit untuk menemui pria lain dengan tampilan yang sangat cantik,” ucap Abra karena Andre juga suruh mengirim foto Salwa yang tampil cantik hari ini.


“Siap, Bos.” Roni mendorong kursi roda Abra keluar rumah sakit.


“Maaf, Bos. Saya rasa ini bukan sepenuhnya salah Nyonya Salwa dan Andre. Seperti yang saya katakan sebelumnya, Andre memang selalu bisa menemani Nyonya Salwa, tapi ada saatnya Andre tidak bisa menjaga istri Anda. Yang dibutuhkan Nyonya Salwa adalah seorang pria yang selalu menemaninya dalam keadaan apa pun, tanpa takut berdosa."


“Apa kamu sedang meledekku?” tanya Abra dengan wajah marahnya.

__ADS_1


“Tidak, Bos. Saya hanya mengatakan yang sejujurnya. Maaf jika menyinggung Anda."


“Sebaiknya kamu diam saja dan fokus pada jalanan.”


Roni tidak bicara lagi. Dia kembali fokus pada kemudinya, sementara dalam hati, Abra membenarkan apa yang dikatakan asistennya. Akan tetapi, apa pria itu sanggup untuk bertemu dengan Salwa dalam kondisi yang seperti sekarang ini? Bukankah itu akan semakin mempersulitnya.


Wanita itu sudah repot dengan kehamilannya, apa masih mau ditambah dengan kehadirannya? Tidak berapa lama akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit yang disebutkan oleh pengawalnya tadi. Abra turun dengan dibantu oleh Roni. Andre yang melihat atasannya sudah datang pun mendekatinya. Dia sudah sangat tahu jika dirinya akan mendapat hukuman.


“Di mana, Salwa?” tanya Abra.


“Ada di dalam, Bos, sedang diperiksa oleh dokter ....”


Andre tidak berani menyebutkan nama dokter tersebut karena sudah dipastikan, itu adalah dokter laki-laki. Kalau sudah seperti ini. Pasti semuanya serba salah. Ingin sekali pria itu pergi saja dari sini.

__ADS_1


.


.


__ADS_2