
"Apartemen?" tanya Abra dengan wajah kebingungan.
Dia tidak pernah tahu jika Ibra memiliki apartemen. Setahunya saudara kembarnya itu selalu tinggal di rumah orangtuanya. Bagaimana mereka bisa pergi ke sana jika tempatnya saja tidak tahu di mana. Namun, pria itu juga penasaran dengan tempat itu.
"Boleh, ya? Sebentar saja," bujuk Salwa.
"Tapi ...."
"Kamu tenang saja, aku membawa kartu aksesnya jika kamu tidak membawa."
Abra lega mendengarnya, tetapi dia tidak tahu tempatnya. Pria itu terlihat berpikir, bagaimana caranya menanyakan tempatnya tanpa membuat Salwa curiga. Hidup dalam kebohongan memang melelahkan.
"Kalau kamu capek, biar aku saja yang menyetir, ya! Aku pengen banget ke sana," ucap Salwa seolah tahu keraguan yang dirasakan pria itu.
"Baiklah, kamu saja yang nyetir," ucap Abra pasrah karena itulah yang memang dia inginkan. Salwa tersenyum mendengar jawaban dari pria itu.
Pesanan makanan mereka telah datang. Salwa dan Abra menikmati makan malam dengan tenang. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir keduanya, Mereka tengah larut dalam pikiran masing-masing. Setelah selesai menghabiskan makanan, keduanya menuju apartemen Ibra seperti yang dikatakan oleh Salwa tadi.
"Kamu biasanya nggak pernah lupa bahwa kartu akses apartemen itu. Kenapa sekarang lupa?" tanya Salwa saat dalam perjalanan dengan pandangan tetap lurus ke arah jalanan tanpa melihat ke arah Abra.
"Lupa," jawab pria itu seadanya. Salwa pun mengangguk.
Abra tahu jika wanita itu ingin bertanya lebih lanjut. Dia memilih memutar musik di mobil sambil memejamkan mata, pura-pura tertidur. Jika Salwa banyak pertanyaan, tentu saja rahasianya akan terbongkar dan Abra tidak ingin hal itu terjadi. Tidak berapa lama, akhirnya mobil berhenti di depan sebuah gedung apartemen yang begitu mewah.
"Sayang, kita sudah sampai. Ayo, turun!" panggil Salwa dengan menggoyangkan tubuh pria itu. Abra membuka matanya dan pura-pura menguap agar terlihat baru bangun tidur.
"Oh, sudah sampai, ya?"
"Iya, ayo turun!"
Salwa menggandeng lengan pria itu dan berjalan bersama memasuki gedung apartemen. Abra hanya menurut saja karena dia juga tidak tahu di mana letak apartemen Ibra. Setelah menaiki lift, akhirnya mereka sampai juga di depan pintu apartemen Ibra.
Abra melihat angka yang tertera di depan pintu. Dia akan mengingatnya, suatu saat mungkin pria itu juga perlu ke tempat ini untuk menyelidiki semua tentang saudara kembarnya. Salwa menempelkan kartu akses di samping pintu dan akhirnya pintu pun terbuka. Wanita itu lebih dulu memasuki apartemen, diikuti Abra di belakangnya.
__ADS_1
Pria itu mengamati setiap sudut ruangan apartemen itu. Semua tampak seperti biasa saja, tidak ada yang spesial. Bahkan foto, tidak ada satu pun. Abra mengikuti Salwa menuju dapur. Wanita itu membuat dua gelas teh untuk mereka. Udara begitu dingin, teh hangat memang cocok untuk keduanya.
"Minumlah," ucap Salwa sambil menyodorkan segelas teh untuk Abra. Pria itu pun hanya tersenyum mengangguk dan menerima teh tersebut.
"Ini sudah malam, sampai kapan kita di sini? Di sini juga tidak ada yang bisa kita lakukan!" tanya Abra setelah beberapa menit terdiam.
"Justru itu, aku ingin kita menginap di sini malam ini."
"Apa?" Abra terkejut dibuatnya. Bagaimana bisa Salwa berkata hal seperti itu seperti tanpa beban. "Kita belum menikah, bagaimana bisa kamu mengajakku menginap di sini?"
"Bukankah sebelumnya kita juga pernah menginap di sini jadi, apa yang aneh?" tanya Salwa dengan menatap Abra menuntut jawaban.
Abra salah tingkah dibuatnya. Dia tidak pernah tahu jika Ibra dan Salwa pernah bermalam bersama. Dia pikir, Salwa adalah wanita baik-baik, akhir-akhir ini pria itu sedikit menaruh hati padanya. Namun, sekarang image baik dan sejenisnya luntur seketika.
"Kenapa menatapku seperti itu? Jangan berpikiran mesum, ya! Seperti biasanya, kamu tidur di kamar kamu, aku tidur di ruang tamu," ucap Salwa menjelaskan.
Hampir saja Abra marahi wanita yang ada di depannya karena bersikap murahan, tetapi ternyata dirinya yang salah mengambil kesimpulan. Betapa bod*hnya dia telah menilai seseorang hanya karena pernyataan sekilas saja.
"Siapa yang berpikiran mesum? Aku tidak pernah berpikir seperti itu," kilah Abra.
"Tentu saja tidak," kilah Abra dengan cepat.
"Sekarang masih jam delapan. Apa kamu lapar lagi? Kita bisa memesan makanan."
"Tidak, aku masih kenyang. Kalau kamu mau pesan makan, pesan saja."
"Aki tidak lapar juga. Kita duduk di balkon sebentar sambil menikmati angin malam," ajak Salwa.
Abraham menurut saja karena memang sudah janjinya seperti itu. Mereka berdiri di balkon dengan berpegangan pada besi pembatas, menikmati udara malam yang begitu dingin. Salwa mengusap kedua lengannya karena merasa kedinginan.
"Kamu kedinginan? Sebaiknya kita masuk saja."
"Tidak apa-apa. Aku masih ingin menikmati indahnya malam di sini."
__ADS_1
"Kalau begitu aku ambil jasku tadi yang di sofa." Abra akan beranjak. Namun, Salwa menghentikannya. Wanita itu menarik lengan Abra agar tidak pergi.
"Tidak perlu mengambil jas. Kamu di sini saja, peluk aku dari belakang. Pasti rasanya hangat."
Abra kebingungan dibuatnya. Dia bingung harus bergerak bagaimana. Salwa pun menarik tangan pria itu agar memeluk tubuhnya dari belakang. Wanita itu tahu jika Abra sedang gugup karena dia bisa merasakan pelukannya yang terasa kaku. Namun, justru itu mampu membuatnya tenang.
Entah siapa pria yang ada didekatnya ini. Dia berharap Ibra tidak akan pernah kembali dan hanya pria ini yang selalu bersamanya. Salwa tidak mau tahu tentang masa lalu darinya. Entah Ibra atau pria lainnya, wanita itu tidak peduli.
Hingga pertanyaan yang keluar dari mulut pria itu membuatnya merasa aneh. Dia mulai merasa tidak enak.
"Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Abra.
"Maksudmu?" tanya Salwa kebingungan.
"Kamu tidak perlu berpura-pura. Kamu tahu tentang diriku yang sebenarnya," ucap Abra dengan melepas pelukannya dan berdiri di samping Salwa.
"Maksud kamu apa? Aku semakin nggak ngerti!"
"Sudah aku bilang, kamu tidak perlu berpura-pura. Kamu tahu, kan, kalau aku bukan Ibra, tapi kamu seolah memanfaatkan keberadaanku jadi, apa tujuanmu?" tanya Abra sambil menatap wanita yang ada di sampingnya.
Salwa tidak menyangka jika dia akan mendengar pernyataan secepat ini. Sebelumnya wanita itu berniat membuat pria yang bersamanya ini, jatuh cinta padanya. Namun, sayang, sebelum semua terlaksana, semua sudah terbongkar.
"Oh itu, jadi benar kamu bukan Ibra? Aku jadi semakin penasaran, siapa dirimu sebenarnya?"
"Kamu tidak perlu tahu. Itu akan semakin menyulitkan kehidupanmu."
"Wow! Aku semakin tertantang untuk hal itu."
"Jangan bermain-main dengan ku, Nona!"
.
.
__ADS_1
.