Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
35. Mencari Salwa


__ADS_3

Abra datang ke rumah Salwa. Dia ingin tahu, apa ada perkembangan berita dari Salwa sepanjang hari ini. Pria itu tidak bisa melakukan apa-apa karena kepikiran keadaan kekasihnya. Semua pekerjaannya terbengkalai. Bahkan pekerjaan yang ada di email yang dikirim asistennya dari luar negeri pun tidak dia lihat sama sekali. Pikirannya sedang tidak pada tempatnya.


"Bagaimana, Om. Apa ada perkembangan mengenai keberadaan Salwa?" tanya Abraham begitu sampai di rumah Salwa.


"Belum. Tidak ada yang tahu siapa yang membawa Salwa. Sepertinya ini memang kasus penculikan karena aku sangat tahu bagaimana Salwa. Dia tidak akan pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas."


"Apa, Om, punya musuh? Dalam urusan bisnis mungkin?"


"Di dunia bisnis, kita tidak tahu siapa musuh dan siapa kawan." Abraham menganggukkan kepala. Memang benar apa yang Anton katakan. Dirinya sendiri pun sampai detik ini sangat sulit membedakan antara teman dan lawan. "Tapi entah kenapa pikiran saya tertuju pada satu orang."


"Siapa, Om?" tanya Abra dengan cepat. Dia penasaran, siapa yang kira-kira melakukannya.


Anton terdiam sambil berpikir bagaimana mengatakannya. Dia juga antara yakin dan tidak. Abra yang melihat keraguan di mata pria itu pun segera berkata, "Om, katakan saja. Mungkin kita bisa menyelidikinya."


"Sebenarnya aku curiga pada keluargamu."


"Keluargaku? Kenapa?"


Bagi Anton tidak masalah jika memang yang membawa Salwa adalah keluarga mereka. Siapa pun nanti yang akan menikah dengan Salwa, baik Ibra ataupun Abra, keduanya sama saja. Asalkan dari keluarga kaya. Akan tetapi, kenapa harus seperti ini? Pakai menculik segala. Apa tujuan mereka?


"Kamu tahu sendiri kalau Ibra dan Salwa sudah tunangan, tapi semua berakhir begitu saja saat kamu datang. Aku hanya khawatir saja. Apalagi mengetahui bagaimana karakter Ibra yang tidak ingin kalah dengan siapa pun. Dia pasti takut tersaingi oleh kamu."


Abra terkediam, memang benar sejak kecil saudara kembarnya itu, tidak pernah mau kalah dengan dirinya ataupun orang lain. Ibra selalu ingin di atas angin. Akan tetapi, Bukankah dia juga sudah menyetujui permintaannya waktu itu? Apa memang Ibra sudah merencanakan semua ini?


"Apa mungkin itu perbuatan Ibra, Om. Dia sebelumnya juga sudah setuju saja, waktu pertunangannya dibatalkan."

__ADS_1


"Kamu lebih tahu saudara kembarmu seperti apa. Apa kamu yakin dia sudah benar-benar melepaskan Salwa saat itu? Karena setahu saya dia mencintai Salwa atau mungkin hanya sekedar obsesi."


"Aku akan mencari tahunya, Om," ucap Abra. pria itu pun segera menghubungi Roni. Hanya pria itu yang bisa mengakses melalui alat elektronik.


"Halo," ucap Roni yang berada di seberang telepon.


"Roni, hari ini kamu jangan pulang dulu. Aku masih ada pekerjaan untukmu. Aku akan menemuimu nanti malam di apartemen."


"Baik, Tuan. Kebetulan saya juga belum pergi, saya masih ada di apartemen."


"Baguslah kalau begitu. Tunggu aku di sana, nanti malam," ujar Abra yang segera memutuskan sambungan telepon kemudian beralih menatap Anton. "Aku pergi dulu jika ada kabar mengenai Salwa, tolong segera hubungi saya."


"Tentu," jawab Anton.


Setelah Abra benar-benar pergi dari rumahnya, Anton segera mengambil ponsel. Dia pun menghubungi Ibra dan menanyakan kebenaran tentang keadaan putrinya. Namun, hingga beberapa panggilan tidak juga ada yang mengangkat.


Anton terlihat sangat khawatir. Entah kenapa dia merasa pelakunya memang benar-benar Ibra. Pria itu tidak rela ada seseorang yang menyakiti Salwa. Anton memang bukan orang baik, dia juga pernah menyakiti putrinya. Akan tetapi, saat melihat orang lain menyakiti Salwa, hatinya merasa sakit.


Pria itu berpikir, kira-kira di mana Ibra akan menyembunyikan putrinya. Anton yakin Ibra tidak mungkin melakukan semuanya sendiri. Pasti ada seseorang yang hebat yang sedang membantunya dan Anton mencurigai seseorang. Pasti preman kelas kakap itu yang melakukannya.


*****


Abra sampai di depan rumah. Dia segera berlari memasuki rumah untuk mencari keberadaan Ibra. Namun, sayang, kata Bik Ita dia tidak ada di rumah. Entah ke mana perginya anak itu.


Pria itu benar-benar kesal. Abra merasa dirinya tidak berguna. Menjaga satu wanita saja tidak bisa, bagaimana kelak dia akan menjaga anak-anaknya. Pria itu berdoa agar Tuhan melindungi Salwa dan calon anaknya. Abra tidak akan memaafkan siapa pun pelakunya, apalagi jika terjadi sesuatu pada orang yang dia cintai

__ADS_1


"Abra, kamu ada di rumah? Memangnya kamu tidak kerja?" tanya Syakila. Sejak Ibra kembali, semua sudah diambil alih. Saudaranya itu yang memimpin sementara Ibra hanya bawahan.


"Ma, ke mana Ibra pergi?" tanya Abra tanpa menjawab pertanyaan mamanya.


"Mama tidak tahu. Memangnya ada apa? Kenapa kamu terlihat gelisah seperti itu?"


"Salwa diculik seseorang, Ma dan aku yakin Ibra adalah pelakunya karena itu aku ingin mencarinya."


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu menuduh saudaramu? Tidak mungkin Ibra melakukannya, dia sudah setuju dengan hubunganmu dan Salwa. Ibra orang baik, tidak mungkin melakukan kejahatan seperti itu."


Abra mendengus mendengar pembelaan dari mamanya. Selalu seperti ini, wanita itu pasti akan membela saudara kembarnya. Tidak peduli seberapa besar kesalahan yang Ibra lakukan. Dia akan membuktikan jika pemikiran mamanya salah.


"Ma, dari dulu. Ibra selalu merebut apa pun yang menjadi milikku dan disaat seperti itu, baik Mama ataupun papa tidak ada yang membelaku. Kalian selalu membelanya karena hanya dialah anak kalian. Kalian tidak pernah menganggapku ada dan untuk kali ini, aku tidak akan mengalah. Salwa memang awalnya milik Ibra, tapi dia sendiri yang sudah menyia-nyiakan Salwa. Jika terjadi sesuatu pada Salwa. Aku tidak akan pernah memaafkannya dan Mama akan tahu siapa aku sebenarnya."


Syakila bisa merasakan ada aura lain dalam diri Abra yang begitu sangat dingin dan menusuk. Dia berharap memang bukan Ibra pelakunya. Jika benar pasti akan ada pertumpahan darah karena mereka berdua sama-sama memiliki hati yang keras.


Abra meninggalkan rumah orang tuanya begitu saja. Tidak ada kata pamit untuk Syakila yang melihat kepergian putranya. Lebih baik pria itu pergi ke apartemen dan meminta bantuan pada Roni. Mudah-mudahan anak buahnya itu bisa dengan cepat menemukan keberadaan Salwa. Dia benar-benar tidak bisa tenang sebelum melihat keadaan Salwa baik-baik saja.


Abra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untung saja jalanan tidak begitu ramai hingga tidak memerlukan waktu lama, dia telah sampai di apartemen. Pria itu segera berlari menuju unit miliknya. Saat sedang berada di dalam lift, ponsel yang ada di saku berdering. Tertera nama Lukas di sana membuat Abra menghela napas panjang. Sudah berapa kali dia menolak kenapa terus saja memaksa.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2