Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
26. Hatiku terpaut padamu


__ADS_3

"Ha–hamil?" ulang Abra tergagap.


Abra masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Pria itu begitu syok dengan apa yang terjadi. Bagaimana bisa semua jadi seperti ini? Mereka hanya melakukannya sekali, tetapi tetap saja, saat itu Abra tidak menggunakan pengaman. Salwa juga tidak meminum pil pencegah kehamilan.


Dia masih mematung, entah apa yang harus dilakukannya kini. Jika sampai papa dan mamanya tahu, pasti akan menjadi masalah yang besar. Pria itu bertanya dalam hati, apa dia harus menggugurkan kandungan itu? Sebaiknya menunggu Salwa sadar. Abra akan membicarakan dengan wanita itu.


Jika memang benar Salwa hamil, dia tidak mungkin bisa bersama-sama. Kalau sampai itu terjadi, hidup keduanya tidak akan pernah tenang. Ibra dan keluarganya akan selalu mengusik hidup mereka. Anton juga tidak akan merestuinya, mengingat betapa ambisiusnya pria itu.


Jika saat ini mereka ada di luar negeri tempat tinggal Abra, tentu bukan masalah besar. Di sini pria itu tidak memiliki koneksi. dia harus merencanakan bagaimana membawa Salwa tanpa diketahui orang tuanya.


"Masih kemungkinan, Pak. Nanti kita coba tes urine saja, biar hasilnya lebih meyakinkan. Atau kalau perlu Anda bisa membawa istri Anda ke dokter kandungan," sela dokter tersebut yang mengira Abra dan Salwa adalah pasangan suami istri.


"Iya, Dokter, terima kasih. Boleh saya melihat keadaan Salwa?"


"Oh, ya, silakan, Pak. Anda bisa menunggunya hingga beliau sadar."


Abra pun memasuki ruangan, di mana Salwa sedang terbaring lemah dengan tangan yang sudah tertancap jarum infus. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi. Dia menatap wajah wanita itu. Orang yang sudah satu bulan ini pria itu rindukan.


Digenggamnya erat tangan yang terbebas dari jarum infus. Ada getaran yang tidak bisa dijelaskan. Tanpa sadar tangan yang lain mengusap perut rata Salwa. Matanya berkaca-kaca, mengingat akan ada nyawa di dalamnya dan itu adalah darah dagingnya.


Rasa haru semakin terasa karena sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah. Tidak pernah terbayangkan olehnya akan secepat ini memiliki seorang anak. Dulu Abra berencana tidak akan pernah menikah, apalagi memiliki anak. Rasa sakit akibat terabaikan membuatnya enggan membentuk sebuah keluarga. Kini, saat di depan matanya sudah ada wanita yang dicintainya tengah mengandung darah dagingnya, membuat Abra melupakan semuanya.

__ADS_1


"Apa benar kamu ada di sana? Maaf, ya, Ayah janji akan memperjuangkan kamu dan ibumu. Tidak peduli apa pun yang akan mereka lakukan. Kita akan tetap selalu bersama dan Ayah akan berusaha semampu Ayah," ucap Abraham dengan keyakinan di dalam hatinya.


Tadinya dia berniat untuk menggugurkan bayi itu. Namun, saat melihat wajah Salwa dan mengusap perut wanita itu, tiba-tiba ada rasa haru yang menyelimuti hatinya. Pria itu tidak akan tega membunuh darah dagingnya sendiri. Apalagi sampai membuat wanita yang dicintainya kecewa.


Abra tahu, jika Salwa tidak akan mau menggugurkan janinnya. Mengingat betapa baiknya wanita itu. Tidak berapa lama, terlihat Salwa mencoba menggerakkan tangannya. Abra yang melihat itu pun mencoba menahan agar wanita itu tidak banyak bergerak karena takut jarum infus akan menyakitinya.


Salwa mencoba mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia melihat keadaan sekitar. Wanita itu tahu jika saat ini dirinya tidak berada di dalam kamarnya. Yang dilihat pertama kali adalah Abra. Salwa mencoba mengingat apa yang sebelumnya telah terjadi. Kenapa dirinya berada di sini. Namun, dia tidak mengingat apa pun. Seingatnya tadi dirinya ingin ke kamar mandi, tetapi belum sampai di sana, pandangannya sudah gelap dan tidak ingat apa-apa lagi.


"Kenapa aku ada di sini?" tanya Salwa tanpa menoleh ke arah Abra.


"Tadi kamu pingsan di rumah dan aku yang membawa kamu ke sini."


"Bagaimana bisa kamu membawaku ke sini? Memang ada urusan apa kamu di rumahku?" tanya Salwa dengan pelan, dia masih belum memiliki tenaga.


"Kata dokter kamu harus diperiksa dokter kandungan. Ada kemungkinan kalau kamu hamil," ucap Abraham yang sengaja mengalihkan pembicaraan dan benar saja hal itu membuat Salwa terdiam.


Wanita itu memang sudah berpikir ke arah sana sebelumnya. Sekarang apa yang dipikirkan benar-benar terjadi, tepat di depan ayah sang bayi. Salwa berpikir, apa Abra akan menerima dia atau tetap meninggalkan wanita itu dan janinnya seorang diri, menghadapi masalah yang akan datang atau malah akan memintanya menggugurkan bayi ini.


Jika Abraham menolak bertanggung jawab, wanita itu tidak akan masalah. Dirinya juga selalu hidup susah, tidak masalah jika ditambah sedikit lagi. Sebagai seorang ibu, Salwa akan melakukan apa pun demi kebahagiaan anaknya.


"Bagaimana kalau aku antar ke dokter kandungan?" tawar Abra karena Salwa hanya diam saja setelah dia menjelaskan keadaan wanita itu.

__ADS_1


"Tidak perlu. Bukankah sebelumnya kamu bilang akan melepaskan aku? Jadi tidak perlu terlalu perhatian padaku. Aku takut akan bergantung padamu dan tidak bisa lepas darimu. Biarkan aku menjalani semuanya sendiri. Aku tidak ingin berhutang apa pun pada orang lain."


"Salwa, bagaimanapun dia juga anakku. Aku akui kalau kemarin aku melakukan kesalahan, tapi tolong biarkan aku bertanggung jawab pada kamu dan anak kita."


"Lalu, bagaimana kamu akan menghadapi Ibra dan keluargamu?"


"Biar itu menjadi urusan nanti. Yang penting saat ini kamu dan anak kita baik-baik saja jadi, sebaiknya kita periksa dulu. Mengenai langkah apa yang akan kita lakukan nanti, itu kita bicarakan setelah semuanya jelas karena dokter juga belum bisa memastikan, apakah benar kamu hamil atau tidak."


"Kalau memang ternyata aku tidak hamil bagaimana?" tanya Salwa dengan menatap wajah Abra. Pria yang sudah sangat dia rindukan.


"Salwa, kamu telah mengambil separuh hatiku. Aku sudah memutuskan, bahwa aku akan mempertahankan kamu. Jika pun keluargaku nanti tidak setuju, aku tidak peduli. Yang penting aku bisa bersamamu menjadi keluarga. Sadar atau tidak, hatiku sudah terpaut padamu dengan atau tanpa anak itu."


Mata Salwa berkaca-kaca. Dia tidak menyangka bisa mendengar kata-kata itu dari bibir Abra. Padahal sebelumnya pria itu sudah menolak untuk membawa pergi dirinya, tetapi kini Abraham malah menyatakan cinta padanya. Wanita itu takut jika ini hanya kebahagiaan semu.


"Kamu melakukan ini benar benar bukan karena anak ini, kan?" tanya Salwa dengan nada bergetar. Dia hampir saja menangis. Namun, wanita itu mencoba menahannya.


Abra menggenggam sebelah tangan Salwa, mencoba meyakinkan wanita itu. "Tidak, seperti yang aku katakan tadi. Kamu sudah mengambil separuh hatiku sebelumnya, jadi ada atau tidaknya anak itu, tidak ada pengaruhnya terhadap perasaanku padamu. Aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu, Salwa."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2