Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
38. Memaksa


__ADS_3

Cukup lama Leo berkutat dengan laptop. Namun, belum juga menunjukkan titik terang. Pantas saja Roni tidak bisa menyelesaikannya. Leo saja sampai kesusahan. Pria itu tidak hanya menggunakan satu laptop, tetapi dua. Beberapa kali dia sampai mengumpat karena terlalu kesal dengan musuhnya kali ini.


"Aku menemukannya!" seru Leo dengan bertepuk tangan. Dia senang akhirnya setelah dua jam, bisa menembus pertahanan mereka.


"Di mana tempatnya?" tanya Abra yang tidak sabar.


"Ada di daerah ini," tunjuk Leo pada layar laptopnya. Abra ingin pergi, tetapi dengan cepat Lukas menahannya.


"Bos, kita tidak bisa pergi sendiri. Saya yakin di sana mereka pasti memiliki banyak pengawal. Kita membutuhkan banyak orang. Kita juga belum tahu siapa mereka sebenarnya."


"Lalu bagaimana? Apa kita harus menunggu orang-orang kita untuk datang ke negara ini? Itu akan semakin lama dan sudah pasti Salwa akan semakin disakiti oleh mereka."


"Bos, berapa lama Anda tidak menggunakan otak, sampai lupa jika di sini juga ada anak buah kita," ucap Lukas yang membuat Abra menggaruk belakang kepalanya. Dia lupa Jika jaringan kelompoknya sudah ada di banyak negara. Termasuk tempat tinggalnya kini.


"Baiklah, sekarang kamu hubungi mereka. Kita bisa berkumpul di daerah sedikit jauh dari gedung itu."


"Tunggu sebentar." Lukas pun mengambil ponselnya dan menghubungi beberapa pemimpin di setiap daerah. Mereka dengan senang hati mau menolong. Meski ada beberapa yang masih bekerja, mereka rela menghentikan pekerjaannya dan membantu Abra. Bagi mereka kebersamaan adalah segalanya.


"Sudah selesai, Bos. Mereka bersedia membantu kita."


"Ya sudah, ayo, kita pergi! Kita akan tunggu mereka di sebelah timur gedung itu." Lukas, Abraham dan Leo pun pergi menuju tempat itu.


Dalam perjalanan Leo masih berkutat dengan laptopnya. Dia tidak ingin kehilangan jejak musuh. Pria itu ingin memastikan bahwa orang yang dicari bosnya ada di gedung itu. Leo menyiapkan sebuah kamera kecil berbentuk lebah yang tersambung dengan laptopnya. Nanti lebah itu akan menyusup ke dalam gedung.


Sudah lama dia tidak menggunakan kamera itu. Bersyukur bahwa kameranya masih baik-baik saja. Tidak berapa lama akhirnya sampai juga. Mereka mengamati gedung dari jauh. Leo pun mulai menjalankan aksinya dengan menyalakan kamera lebah dan akhirnya terbang menuju gedung.


*****

__ADS_1


"Kenapa makanannya masih utuh?" tanya pengawal dengan berteriak, saat melihat Lia keluar dengan membawa sepiring nasi yang masih utuh dan juga segelas jus.


"Dia menolak. Aku tidak bisa berbuat apa-apa," jawab Lia dengan menunduk. Dia takut kebohongannya akan terbongkar. Sebagai sesama wanita, Lia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Salwa.


"Ada apa ini?" tanya seorang pria yang baru datang bersama dengan kliennya.


"Perempuan itu menolak untuk makan, Bos," jawab pengawal tadi dengan menundukkan kepala.


Orang yang dipanggil bos itu hanya mengangguk sambil melihat piring dan gelas yang ada di tangan Lia kemudian, beralih menatap klien yang ada di sampingnya. "Tuan, wanita itu ada di dalam. Silakan jika Anda ingin bertemu dengannya."


Salwa yang berada di dalam merasa lega karena ada Lia. Dia yakin jika sampai memakan makanan itu, dirinya pasti tidak baik-baik saja. Apalagi mengingat dirinya saat ini sedang hamil. Wanita itu sangat takut terjadi sesuatu pada dirinya dan janinnya.


Tiba-tiba Salwa teringat Abra. Di mana pria itu? Apa dia mencarinya? Mudah-mudahan ada orang yang segera menolongnya. Salwa benar-benar takut berada di sini. Apalagi dia tidak tahu apa tujuan penculik membawanya ke sini dan siapa dalangnya.


Saat sedang asyik dengan lamunannya, pintu terbuka tampak seorang pria masuk ke dalam ruangan itu. Betapa terkejutnya Salwa melihat siapa pria itu. Orang yang tidak pernah dia kira sebelumnya.


"Aku hanya ingin kamu. Dari dulu kamu hanya milikku dan selamanya akan jadi milikku."


Salwa merasa Ibra memiliki tujuan lain. Apalagi melihat mimik wajah pria itu yang seperti memiliki niat buruk. Dia melihat Ibra membawa makanan yang dibawa Lia keluar tadi. Seketika tubuhnya gemetar. Wanita itu takut pada pria yang ada di depannya melakukan sesuatu.


"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku? Bukankah sebelumnya kamu sudah rela melepaskan aku?" tanya Salwa gemetar.


"Kamu pasti sangat mengenalku. Tidak semudah itu melepaskan kamu. Apalagi untuk saudara yang tidak berguna." Ibra tertawa meremehkan.


Dari dulu dia tidak pernah suka dengan Abra. Saudaranya itu selalu memiliki apa yang tidak dapat dia miliki. Itulah kenapa Ibra selalu berusaha mengambil hati kedua orang tuanya dan menjelekkan Abra. Pria itu berusaha keras agar bisa membuat papa dan mamanya bangga.


Ibra berjalan mendekati Salwa dan duduk di samping wanita itu. Tempat di mana tadi Lia duduk. Dia menatap wajah cantik mantan kekasihnya itu dengan saksama. Ada rasa tidak tega dalam hatinya melakukan ini. Akan tetapi, rasa benci pada saudara kembarnya telah mengalahkan rasa kasihan.

__ADS_1


"Aku dengar dari pelayan, kamu belum makan. Kamu pasti sudah lapar karena itu aku datang ingin menyuapimu," ucap Ibra sambil mengaduk nasi yang dibawanya.


"Tidak! Aku tidak mau makan. Aku hanya ingin keluar. Tolong bebaskan aku! Aku mohon!"


"Jangan seperti itu, dong, Sayang! Aku tidak suka wajahmu sedih seperti ini. Aku jadi ikutan sedih melihatnya. Kamu tahu, kan, betapa cintanya aku sama kamu," ucap Ibra dengan suara sedih yang dibuat-buat.


Pria itu mengusap wajah Salwa dengan pelan. Setetes air mata membasahi pipi wanita itu. Dia benar-benar takut melihat Ibra seperti ini. Pria itu tidak terlihat seperti biasanya. Ibra mencoba menyuapi Salwa. Namun, wanita itu menolak dan terus saja menutup mulutnya.


Ibra mencoba membujuk wanita itu dengan berbagai cara, tetapi Salwa tetap menolak. Dia masih teringat dengan apa yang Lia katakan jika makanan itu sudah dicampur dengan sesuatu. Ibra yang kesal akhirnya memaksa salah wanita itu, hingga membuat Salwa membuka mulutnya dan memasukkan sesendok nasi secara paksa.


Sekuat tenaga, Salwa menyemburkan makanan itu. Dia yakin jika makanan itu bisa menyakiti janinnya. Ibra semakin kesal. Pria itu pun meraih gelas yang berisi jus dan meminumkannya pada Salwa secara paksa.


Wanita itu terus saja meronta-ronta. Namun, Ibra sudah gelap mata. Dia tidak mempedulikan teriakan Salwa. Meski wajah mantan kekasihnya itu sudah dipenuhi air mata. Pria itu hanya ingin tujuannya tercapai yaitu menghilangkan penghalangnya yaitu, janin yang ada di perut Salwa.


Jika janin itu hilang, Ibra yakin saudara kembarnya akan melepaskan Salwa dan dia bisa memiliki wanita itu kembali. Hanya itu yang mengikat mereka karena Ibra tidak percaya akan cinta. Dirinya tidak ingin miliknya menjadi milik Abra. Selamanya dia tidak akan rela melepas mantan kekasihnya itu jika untuk saudara kembarnya.


Seandainya saja Salwa lebih memilih pria lain, Ibra tidak akan sekeras ini untuk mendapatkannya lagi. Dia juga bisa mendapatkan wanita lain di luar sana yang lebih baik dan cantik dari Salwa. Akan tetapi, karena wanita itu lebih memilih Abra, maka inilah jalan yang akhirnya dia ambil.


"Ha ha ha ha ...."


Ibra tertawa saat dirinya berhasil meminumkan minuman tadi ke Salwa. Wanita itu terbatuk. Dia berusaha mengeluarkan apa yang tertelan. Namun, usahanya sia-sia. Tidak ada sedikit pun yang keluar dari mulutnya. Salwa mulai merasakan sesuatu di perutnya. Dia tahu dirinya sudah tidak baik-baik saja.


"Ibra, tolong aku!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2