Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
8. Pergi berdua


__ADS_3

"Salwa, aku minta maaf soal semalam. Aku benar-benar di luar kendali. Banyak sekali pekerjaan hingga membuatku mudah emosi. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih, hingga membuat kamu terluka. Maafkan Aku," ucap Abra setelah mereka lama terdiam.


Salwa hanya diam sambil mengupas buah yang ada di tangannya. Sebenarnya dia sudah melupakan kejadian semalam, tetapi wanita itu ingin tahu sampai sejauh mana Ibra berusaha merayunya.


"Salwa, tolong maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf! Jangan diam saja."


"Tidak masalah, aku juga yang salah sudah mengganggu pekerjaan kamu. Aku janji mulai hari ini tidak akan mengganggumu lagi," sahut Salwa pada akhirnya.


Abraham mulai kelimpungan. Kalau Salwa sampai menjauhinya, bisa-bisa nanti papa dan mamanya akan marah. Apalagi kalau sampai Ibra sadar. Dia juga pasti akan jauh lebih marah dan semua orang akan menyalahkannya.


Dia bukannya takut dengan kemarahan mereka. Hanya saja Abra terlalu malas berurusan dengan keluarganya. Pria itu hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke kehidupan yang sebelumnya. Dia hanya ingin ketenangan dan itu sudah didapatkannya di sana.


Pria itu harus melakukan sesuatu agar wanita yang ada di depannya ini melunak dan kembali seperti sebelumnya. Abra berdiri dan berpindah duduk di samping Salwa. Dia meraih kedua tangan wanita itu yang tadinya mengupas buah.


"Salwa, aku mohon maaf. Tolong jangan seperti ini! Kamu boleh melakukan apa pun padaku, tapi jangan pernah menghindar dariku. Aku tidak bisa hidup tanpamu," ucap Abraham.


Sebenarnya pria itu sendiri mual mendengar apa yang keluar dari mulutnya. Baru kali ini dia merayu seorang wanita. Biasanya para wanitalah yang justru menggodanya. Sepertinya Abra terkena karma karena sudah menyakiti hati banyak wanita.


Salwa terdiam sejenak sambil menatap wajah Abra. Dia bisa merasakan perbedaan yang sangat besar, antara Ibra yang sekarang dan dulu. Kini dirinya yakin jika mereka memang orang yang berbeda, bukan amnesia atau sejenisnya. Namun, perbedaan itu justru membuat Salwa ingin memiliki Abra yang saat ini. Dia yakin pria yang ada di depannya bisa memberikan kebahagiaan.


Setelah berpikir sejenak, sepertinya Salwa harus melakukan sesuatu. Biarlah dia dibilang memanfaatkan keadaan. Wanita itu hanya ingin bahagia dengan caranya sendiri. Terserah jika orang lain tidak suka.


"Baiklah, aku akan memaafkanmu, tapi dengan syarat."


Abra mulai khawatir dengan apa yang akan Salwa katakan. Sebisa mungkin dia akan mengiyakannya. "Apa syaratnya?"


"Aku mau selama satu hari ini, kamu nemenin aku ke mana pun yang aku mau dan menuruti semua keinginanku."

__ADS_1


"Jangan hari ini, aku ada meeting penting. Lain kali saja."


"Aku tidak mau. Maunya hari ini, tapi terserah kamu saja. Aku juga tidak mau memaksamu. Silakan sana pergi bekerja! Jangan mengharapkan aku lagi," ucap Salwa yang pura-pura merajuk.


Abra mengusap wajahnya dengan kasar. Dia kesal karena Salwa seperti memanfaatkan kesalahannya, tapi sayangnya pria itu tidak bisa berbuat apa-apa. Sepertinya untuk hari ini Abra harus mengalah. Dia tidak punya pilihan lain.


"Baiklah, aku akan menemanimu, tapi hanya untuk satu hari ini saja," ucap Abra akhirnya.


Dia melakukan ini agar hubungan Ibra dan Salwa baik-baik saja. Abra menghubungi Romi dan mengatakan jika hari ini pria itu tidak akan ke kantor. Semua tugas sudah diserahkan kepada asistennya itu.


Awalnya Romi bertanya alasan Abra melalaikan tugasnya. Namun jawaban dari atasannya yang tegas membuat dia diam dan menuruti perintah Abra.


"Baiklah aku mau ganti baju dulu. Kamu harus ingat, aku hanya ingin berdua saja sama kamu. Aku tidak ingin nanti Romi atau siapa pun mengganggu acara kita."


Abra hanya mengangguk tanpa membalas ucapan Salwa. Wanita itu pun masuk ke dalam kamarnya untuk berganti baju dan bersiap akan pergi bersama dengan Abraham. Sementara pria itu yang masih di ruang makan, mengirim pesan pada bawahannya yang berada di luar negeri untuk tidak mengganggunya hari ini. Mereka pun mengerti dan tidak banyak bertanya.


Abra terpesona dengan penampilan tunangan saudaranya. Hari ini Salwa terlihat berbeda, lebih segar dan cantik natural. Tidak ada penampilan glamour dan mewah yang selama ini papanya ciptakan.


"Ayo, Mas!" ajak Salwa membuat Abra tergagap.


"Oh, i–iya."


Salwa berjalan lebih dulu, Abra mengikutinya.


Sampai depan rumah, terlihat sopir Abra masih berada di sana. Wanita itu pun mendekatinya dan meminta Pak Yanto agar segera pergi. Wanita itu mengatakan jika atasan pria itu akan pergi bersama dengan dirinya memakai mobil Salwa. Pak Yanto yang tidak punya pertanyaan pun mengiyakan saja, setelah melihat Abraham mengangguk.


"Mobilku ada di bagasi. Ini kamu keluarkan, ya! Kamu yang mengemudi hari ini." pinta Salwa dengan memberikan kunci mobil ke tangan Abra.

__ADS_1


"Kita memangnya mau ke mana?"


"Aku mau ke taman dulu, nanti siang kita pergi ke mall."


Abra pun mengambil mobil Salwa yang berada di bagasi dan segera meninggalkan rumah. Tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di taman bunga yang cukup besar di kota itu. Keduanya duduk di sebuah kursi sambil menikmati indahnya pemandangan yang ada di depan mereka. Salwa melingkarkan tangannya di lengan Abraham dan meletakkan kepala di bahu pria itu.


Abra sempat terkejut melihat apa yang dilakukan wanita itu. Entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdetak tidak karuan. Dia merasa ada sesuatu yang berbeda saat Salwa bersikap seperti itu. Pria itu merasa gugup. Diam-diam Abraham melirik tunangan saudaranya. Dia bisa melihat ada kesedihan di wajah itu, tetapi Salwa selalu mencoba untuk terlihat tegar.


"Apa kamu pernah jatuh cinta?" tanya Salwa tanpa melihat wajah Abra.


"Jatuh cinta? Bukankah aku sudah jatuh cinta sama kamu?" tanya Abra balik setelah berpikir sejensk.


Salwa tersenyum, ternyata tidak mudah membuat pria yang ada di depannya ini berkata jujur. dia sudah sangat yakin dengan apa yang dia rasakan. Bahwa pria ini bukanlah Ibra—tunangannya—melainkan orang lain. Akan tetapi, siapa dia? Itulah yang saat ini menjadi pertanyaan yang ada di kepalanya.


Dalam hati, Salwa sudah bertekad akan membuat pria ini jatuh cinta padanya karena dia sendiri sudah jatuh dalam pesonanya. Pria itu dan Ibra memiliki watak yang sangat berbeda. Entah mereka saudara atau bukan, bagi Salwa itu tidaklah penting.


"Maksudku sebelum bertemu denganku. Apa kamu pernah jatuh cinta?" Salwa mengulangi pertanyaannya.


"Tidak pernah."


"Benarkah? Kenapa? Apa tidak ada wanita cantik dan s*ksi yang mampu membuatmu jatuh cinta?"


Abra mendengus dan bertanya, "Kamu sepertinya sangat penasaran sekali dengan masa laluku?"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2