Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
50. Operasi


__ADS_3

Apa kamu tidak melihat, di sekitar sini banyak sekali CCTV. Kamu bisa hancur setelah ini. Semua bisa dibicarakan baik-baik," ucap Abra yang masih mencoba membujuk saudaranya.


"Aku tidak peduli. Asalkan bisa menghabisi kalian berdua, aku bisa tenang," sahut Ibra.


"Ibra, tolong jangan seperti ini. Kita bersaudara."


"Diam! Aku bukan saudaramu! Kamu adalah penghalangku. Setelah kamu meninggalkan dunia ini, barulah aku bisa hidup dengan tenang."


Ibra tertawa setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya. Tawa yang begitu menyeramkan. Namun, tidak menggetarkan langkah Abra untuk mendekati saudaranya. Dia mencoba untuk bisa membuka hati Ibra, tetapi hal yang tidak disangka dilakukan saudaranya.


Ibra mengambil pistol yang berada di saku dan mengarahkannya ke arah Abra. Seketika membuat Salwa terpekik karena terkejut sekaligus takut. Dia tidak menyangka jika Ibra bisa membawa benda seperti itu. Wanita itu bahkan menarik baju belakang Abra agar suaminya tidak berjalan mendekat.


"Kenapa? Takut? Ke mana keberanianmu yang selama ini? Hanya karena sebuah benda seperti ini saja, kamu sudah menciut. Ke mana Abra yang pemberani dan tidak takut akan apa pun itu. Bukankah ini mainanmu juga?" tanya Ibra. Namun, Abraham sama sekali tidak terpengaruh.


Pria itu masih tetap berdiri di tempatnya untuk melindungi sang istri dari benda berbahaya itu. Biar dia saja yang mendapat sasaran peluru, asalkan istrinya baik-baik saja. Di sekitar, polisi semakin banyak. Mereka pun ditangkap satu persatu.


"Saudara Ibra, sebaiknya Anda menyerah. Kalau tidak, kami terpaksa menembak Anda," ucap seorang polisi sambil mengarahkan senapannya ke arah Ibra. Namun, Ibra sama sekali tidak bergetar. Dia malah menarik pelatuknya, hingga terdengar suara tembakan yang menggema di bandara itu.


"Mas Abraa!" teriak Salwa yang begitu nyaring hingga membuat beberapa orang tidak bergerak. Terutama mereka yang mengenal Abra.


Salwa yang berada di belakang Abra segera memeluk sang suami. Darah keluar dari dada pria itu, tubuhnya seketika tidak bertenaga dalam pelukan istrinya. Salwa menangis meraung, melihat keadaan Abra. Pria itu membuka mata dan tersenyum pada sang istri.

__ADS_1


Dia ingin terlihat baik-baik saja agar wanita itu tidak khawatir. Namun, justru semakin membuat hati Salwa teriris melihatnya. Lebih baik Abra mengeluh daripada terlihat baik-baik saja, tetapi hanya kepalsuan.


Polisi pun dengan terpaksa menembak tangan Ibra. Namun, pria itu masih tetap menembakkan sekali lagi ke dada saudaranya. Hingga akhirnya tubuh Abra luruh bersama sang istri. Seseorang menembak Ibra dari belakangnya, hingga membuat pria itu tumbang.


Semua orang melihat ke arah orang penembak, ternyata Lukas yang berada di sana. Polisi pun segera menangkap Ibra. Namun, saat memeriksa denyut nadinya, ternyata pria itu sudah tidak bernyawa. Polisi juga membawa Lukas. Sengaja atau tidak, dia juga termasuk pelaku penembakan.


Sementara itu, Salwa memeluk sang suami, dia menangis histeris melihat keadaan Abra. Pria itu sama sekali tidak bergerak. Roni segera mendekat dan mengangkat atasannya itu dan membawa ke dalam mobil. Pria itu membawa Abra segera menuju rumah sakit.


"Sayang, kamu harus baik-baik saja. Jangan tinggalkan aku. Hanya kamu yang aku miliki sekarang. Jika kamu juga meninggalkanku, bagaimana keadaanku nanti, jadi jangan tinggalkan aku." Salwa terisak sambil memeluk sang suami.


Perjalanan terasa sangat lama, padahal jarak dari bandara dan rumah sakit tidak begitu jauh. Roni benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada atasannya. Dia sampai seperti sekarang ini juga karena bantuan Abra. Dulu pria itu hidup terlunta-lunta di jalanan, tapi dengan bantuan Abra, dia bisa hidup dengan tenang dan nyaman seperti sekarang.


Salwa tidak diperbolehkan untuk masuk. Dia menunggu di depan bersama dengan Roni. wanita itu terlihat sangat gelisah. Beberapa kali berjalan dan duduk untuk mengurangi kegelisahannya. Keduanya menunggu hingga dua jam. Namun, operasi yang dijalani Abra tak kunjung selesai.


Hal itu tentu saja membuat Salwa semakin khawatir jika terjadi sesuatu pada sang suami. Baru saja mereka berbahagia karena akhirnya bisa menikah, tetapi cobaan masih menunggunya.


"Nyonya, ini silakan diminum dulu," ucap Roni sambil menyerahkan sebotol minuman pada Salwa.


"Terima kasih, Pak Roni," jawab Salwa sambil menerima minuman tersebut. Namun, wanita itu tidak meminumnya. Dia hanya menggenggam dan meremas untuk menghilangkan kegugupannya.


"Nyonya, tolong minumlah, Anda pasti saat ini sedang gugup. Itu akan meredakan sedikit kegugupan Anda."

__ADS_1


"Ah, iya." Salwa hanya bisa menurut saja. Entahlah pikirannya saat ini sedang tidak berada pada tempatnya. Semua hanya tertuju pada pria yang saat ini terbaring di ranjang operasi. Entah bagaimana keadaannya kini. Wanita itu berharap semua baik-baik saja.


"Anda jangan khawatir. Bos Abra pasti baik-baik saja. Dia bahkan pernah melewati keadaan yang lebih parah daripada ini, tapi lihatlah dia baik-baik saja," ucap Roni berusaha menenangkan Salwa, tetapi tetap saja dia khawatir.


"Sejak kapan kamu mengenal Abra?" tanya Salwa.


"Sudah sangat lama. Kami dulu hidup di jalanan berdua, makan pun dari sisa-sisa orang yang sudah terbuang, tapi kami tidak pernah mengeluh. Kami selalu bersyukur asalkan kami bisa makan dan selalu bersama. Aku harap juga kali ini seperti itu. Bos Abra tidak akan meninggalkanku," ucap Roni yang tanpa sadar sudah meneteskan air mata. Segera pria itu mengusapnya karena tidak ingin orang lain tahu. Namun, Salwa lebih dulu mengetahuinya.


Wanita itu bersyukur, Abra memiliki orang sebaik Roni. Tidak semua orang terdekat kita selalu tulus dan baik sama kita. Kebanyakan dari mereka ada maksud tersembunyi. Apalagi jika kita memiliki kekuatan dan kekuasaan, pasti banyak orang berbondong-bondong ingin mengambil hati kita.


Sudah lima jam, sejak Abraham memasuki ruang operasi. Akhirnya lampu yang berada di atas pintu padam. Itu pertanda bahwa operasi telah selesai. Salwa dan Roni menunggu dokter keluar untuk menyampaikan keadaan Abraham. Keduanya berharap pria itu baik-baik saja. Akhirnya yang ditunggu keluar juga, dokter diikuti dua orang perawat di belakangnya.


"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Salwa yang sudah tidak sabar.


"Alhamdulillah, operasi berjalan lancar, tapi kami harus tetap menunggu hasil operasi tadi. Semoga saja tidak ada komplikasi yang berarti," jawab dokter. "Baiklah, saya permisi."


Dokter tersebut meninggalkan Salwa dan Roni yang masih menunggu perawat memindahkan Abra. Meski keduanya belum tahu keadaan pria itu, tapi setidaknya operasinya lancar.


.


.

__ADS_1


__ADS_2