Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
53. Bertemu Papa dan Mama


__ADS_3

“Kenapa Kakak melakukan itu? Bukankah Kakak paling mengenal bagaimana kepribadian bos Abra. Dia paling tidak suka dikhianati. Kenapa Kakak melakukannya?” tanya Leo yang sudah emosi. Padahal selama ini Lukas selalu memberi nasihat agar setia pada atasannya, terapi kini malah pria itu yang berkhianat.


“Karena aku tidak suka melihat bos lebih peduli pada wanita itu, daripada kelompok kita,” jawab Lukas tanpa menatap adiknya.


“Bos Abra sudah meninggalkan kelompok kita jauh lebih dulu sebelum mengenal Salwa. Dia kembali pada kita karena wanita itu. Seharusnya kakak menjaganya agar bos bisa selalu bersama kita, bukan malah ingin membunuhnya. Itu sama saja berperang dengan bos Abra. Untung saja dia tidak membunuhmu. Bagaimana kalau dia sampai melakukannya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku yakin bos tidak melakukannya karena teringat Salwa. Sebagai seorang suami, wajar saja jika bos lebih memilih istrinya daripada yang lain."


Lukas menundukkan kepalanya. Benar apa yang dikatakan Leo, seharusnya dia menjaga Salwa, bukan malah ingin melukainya, tetapi pria itu tidak suka melihat Abra yang terlihat lemah saat ada istrinya. Lukas takut jika atasannya itu malah akan membuat kelompoknya kalah.


Dia pergi meninggalkan apartemen tanpa memedulikan apa yang adiknya ucapkan. Pria itu ingin mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya saat ini. Lukas benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih. Tanpa sengaja, dia bertemu dengan Roni di depan apartemen.


“Lukas, kamu mau ke mana?” tanya Roni.


“Mau keluar sebentar, cari angin.”


“Angin kok dicari, nanti kamu masuk angin,” sahut Roni dengan bercanda. Namun, Lukas hanya menatap temannya itu. Dia yakin jika Abraham tidak mengatakan apa pun pada Roni karena kalau sampai pria yang ada di depannya ini tahu, pasti tidak akan menyapanya. Lukas sangat tahu betapa setianya Roni pada Abra.


“Kenapa kamu lihatin aku seperti itu? Kamu masih normal, kan?” tanya Roni sambil bergidik ngeri.


Lukas pun memukul kepala temannya itu dengan pelan. Bisa-bisanya Roni berpikir seperti itu, banyak wanita yang masih bisa dimanfaatkan, kenapa harus mencari benda yang sama.


“Ngaco.” Lukas segera meninggalkan temannya dan terus berjalan menuju lift.


Roni yang merasa tidak ada pekerjaan pun mengikuti Lukas. Dia juga ingin berbincang dengan temannya itu. Mereka terlalu sering membicarakan hal yang serius, hingga tidak ada waktu bersantai untuk bicara dari hati ke hati sebagai seorang teman.

__ADS_1


“Kenapa kamu ikutin aku? Aku lagi pengen sendiri,” ujar Lukas.


“Jangan terlalu sering sendiri. Nanti ditemenin setan, lebih baik aku yang temenin kamu. Aku juga nggak ada pekerjaan. Kamu bebas melakukan apa pun, aku tidak akan mengganggumu." Lift terbuka, kedua pria itu masuk dan untuk turun ke lantai bawah.


Sementara itu, Abra dan Salwa pergi menemui Papa Handi dan Mama Syakila. Mereka akan bertemu di restoran. Awalnya Salwa menolak untuk ikut sang suami, tetapi pria itu memaksanya karena tidak ingin pergi sendiri. Apalagi menghadapi orang-orang yang selama ini tidak peduli padanya.


Abra dan Salwa dibawa seorang pelayan masuk ke dalam ruangan private. Ternyata Papa Handi dan Mama Syakila sudah ada di sana. Kedua orang tua itu tersenyum melihat kedatangan anak dan menantunya. Namun, tidak dengan Abra, pria itu sama sekali tidak suka berada di lingkungan yang sama dengan mereka.


“Duduklah dulu, kalian mau pesan apa?” tanya Mama Syakila.


“Kamu mau pesan apa, Sayang?” tanya Abra pada istrinya.


“Apa saja, Mas. Terserah kamu,” jawab Salwa.


Pelayan mencatat pesanan dan segera meninggalkan ruangan itu. “Mohon ditunggu sebentar. Kami akan segera mengantarkannya.”


“Kamu apa kabar, Abra?” tanya Mama Syakila memulai pembicaraan. Suasana terasa sangat canggung, padahal mereka keluarga, tetapi terasa seperti orang asing.


“Baik, seperti yang Mama lihat saat ini. Aku selalu dalam keadaan baik-baik saja. Dari dulu juga seperti ini,” jawab Abra.


“Apa kalian tidak merencanakan untuk menggelar pesta pernikahan lagi? Mungkin yang lebih besar?”


Mama Syakila berusaha membuat anak dan menantunya merasa nyaman. Namun, dia salah. Perlakuannya justru semakin membuat Abra dan Salwa tidak nyaman.

__ADS_1


“Tidak perlu, yang kemarin saja sudah melelahkan. Padahal kami hanya mengundang sedikit orang. Untung saja ada beberapa yang tidak datang, jadi tidak perlu berlama-lama,” ucap Abra yang membuat Mama Syakila menundukkan kepala.


Dia merasa bersalah karena tidak bisa datang saat acara itu. Wanita itu terlalu fokus pada Ibra dan melupakan tanggung jawabnya pada anak yang lain. Kini dia tahu bagaimana rasanya diabaikan. Saat itu Mama Syakila pikir Abra anak yang kuat, pasti bisa melewati semuanya. Tanpa dia ketahui bagaimana berusaha ya putranya saat itu.


“Kamu sekarang bekerja di mana? Pasti tidak ada yang kamu kerjakan, kan? Bagaimana kalau kamu bekerja di perusahaan Papa seperti sebelumnya,” tawar Papa Handi.


“Maaf, Pa. Seperti yang pernah aku katakan, aku tidak tertarik dengan bekerja di perusahaan itu. Meskipun aku seorang pengangguran, aku bersyukur memiliki istri yang menerimaku apa adanya, jadi aku tidak perlu bekerja di kantor,” jawab Abra yang memang sengaja tidak ingin mengatakan jika dirinya juga punya usaha. Bahkan lebih besar dari milik orang tuanya.


“Kamu jangan seperti itu! Bagaimanapun Salwa juga pasti ingin seperti wanita lainnya yang pergi ke salon dan berbelanja.”


“Kalau mengenai itu, Papa tidak perlu khawatir. Aku tidak pernah melarang Salwa. Aku juga membebaskannya untuk melakukan apa yang dia sukai dan selama ini kami tidak kekurangan uang.”


“Sekarang Salwa masih memiliki tabungan, tetapi kamu tidak mungkin selamanya jadi pengangguran, kan? Jadi kalau kamu sudah memutuskan untuk bekerja kamu yang bisa menghubungi Papa,” ucap Papa Handi yang mengira jika selama ini anak dan menantunya hidup dari uang tabungan Salwa.


Abra sama sekali tidak keberatan dengan pemikiran Papa Handi. Lagi pula uangnya memang milik sang istri sepenuhnya. Dia hanya tahu bagaimana cara mencarinya. Tanpa tahu berapa yang dihasilkan.


“Tidak perlu, Pa. Kalau aku butuh pekerjaan juga ada orang yang sudah menawariku, jadi tidak perlu Papa menungguku. Lebih baik Papa pimpin perusahaan itu dengan baik. Aku dan Salwa juga sudah memutuskan akan tinggal di luar negeri, tempat di mana aku bisa dihargai dan dihormati.”


“Kamu dari dulu selalu saja keras kepala. Kamu baru berumah tangga, tetapi kamu sudah sombong dengan berkata tidak membutuhkan uang. Lihat saja nanti, kamu pasti akan kesusahan," ucap Papa Handi dengan emosi.


Abra sama sekali tidak terkejut dengan kata-kata Papanya. Dari dulu Papa Handi memang seperti itu, tidak pernah berubah. Pria itu pun tidak ambil pusing sikap papanya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2