Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
5. Terkejut


__ADS_3

"Romi, apa sebelumnya Ibra melakukan kesalahan pada tunangannya?" tanya Abra setelah mereka mengantar Salwa. Keduanya dalam perjalanan menuju perusahaan.


"Kesalahan apa, Tuan?"


"Aku bertanya padamu! Kenapa kamu malah balik bertanya? Ini urusan atasanmu, tapi aku harus terlibat di dalamnya dan yang lebih parah, aku harus meminta maaf atas sesuatu yang tidak kuketahui. Merepotkan saja," gerutu Abra.


"Maaf, Tuan. Saya juga tidak tahu apa yang sudah terjadi. Tuan Ibra selalu melarang saya untuk ikut bersama jika sedang bersama dengan Nona Salwa."


"Sebenarnya apa kegunaanmu sebagai asisten selama ini? Semua serba tidak tahu. Percuma saja aku membawamu ke mana-mana jika kamu sendiri tidak tahu apa yang dilakukan atasanmu sebelumnya."


Abra benar-benar kesal hari ini. Dia tampil seperti orang bod*oh di depan Salwa. Saudara kembarnya benar-benar merepotkan. Dari dulu, setiap kali pria itu ada di sekitar keluarga ini, selalu dirinya yang harus bekerja keras menutupi keburukan mereka. Sekarang pun Abra tidak tahu harus berbuat apa.


"Maaf, Tuan," ucap Romi dengan pelan.


Bukan hanya Abra yang terlihat seperti orang bodoh, Romi pun demikian. Dia dituntut mempelajari semua tentang Ibra, sementara majikannya itu sebelumnya tidak mengizinkannya tahu lebih dalam tentang kehidupan atasannya.


Abra menyandarkan tubuh dan memejamkan matanya. Di luar negeri meskipun dia kesusahan dalam hal apa pun, pria itu tidak akan pernah mengeluh karena tidak ada tempat baginya melakukan hal itu. Akan tetapi, saat di sini, setiap keadaan membuatnya mengeluh dan terlihat lemah.


"Romi, kita ke club saja. Kepalaku pusing."


"Tapi, Tuan, ini masih siang."


"Apa urusannya ini siang atau malam. Kalau mereka tidak mau buka, paksa saja. Jika tidak mau juga, tutup club itu selamanya," ucap Abra dengan kesal.


"Baik, Tuan." Romi memutar laju mobil menuju sebuah club terkenal di kota ini.


Mobil sudah terparkir tepat di depan club. Namun, ponsel Abra berdering, tertera nama papanya di sana. Tentu saja hal itu membuat pria itu mengumpat karena kesenangannya diganggu. Dia hanya ingin mendinginkan otaknya sejenak, tetapi rasanya seperti tidak ada waktu.


"Halo," ucap Abra setelah digesernya tombol hijau.

__ADS_1


"Kamu ada di mana? Bukankah pertemuan dengan Anton sudah selesai?"


"Iya, ini sedang di jalan."


"Cepatlah ke sini. Ada yang ingin kubicarakan."


"Iya, Pa." Abra memutuskan panggilan dan memijit keningnya. "Romi, kembali ke perusahaan," lanjutnya tanpa melihat ke arah asistennya.


"Hah! Sekarang, Tuan?"


"Kamu maunya kapan? Tahun depan? Kalau begitu pulanglah dan kembali tahun depan!"


"Ti—tidak, Tuan." Romi segera melajukan mobil kembali menuju perusahaan. Padahal tadi mereka sudah sampai, tetapi harus putar balik karena permintaan atasannya.


Beginilah nasib bawahan. Harus menerima dan melaksanakan apa pun perintah bos dengan baik. Jika tidak maka harus bersiap kehilangan pekerjaan. Romi sadar, andai saja dia bukan sahabat Ibra, mana mungkin bisa bekerja di perusahaan besar ini.


Tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di perusahaan. Abra segera turun, sementara Romi memarkirkan mobilnya. Setiap orang yang melewati bos perusahaan ini, selalu menunduk dan memberi salam.


"Ada apa, Pa?" tanya Abra begitu mendudukkan tubuhnya di sofa di seberang papanya.


"Apa kamu sudah mendapat petunjuk?"


"Belum, Pa. Belum satu hari aku bekerja, tapi Papa sudah bertanya. Bahkan Papa yang sudah satu bulan saja tidak menemukan apa pun," ujar Abra kesal.


"Itulah gunamu berada di sini. Aku harap kamu segera mendapat petunjuk dan menangkap pelakunya. Mamamu setiap hari menangis, aku tidak tega melihatnya."


Handi segera pergi setelah berkata demikian. Hati Abra terluka, memikirkan dirinya sendiri. Apa selama ini Mama dan papanya pernah memikirkan dirinya? Apa Syakila pernah menangisi kepergiannya dari rumah? Apa Handi khawatir saat dia tidak ada kabar?


Abra tertawa miris, memikirkan nasibnya yang tidak pernah diharapkan di rumah ini. Bisa saja dia tidak peduli dan kembali ke kehidupan lamanya, tetapi pria itu tidak tega melihat mamanya yang menangis dan melihat saudara kembarnya yang terbaring lemah.

__ADS_1


Pria itu merasa kehidupan ini tidak adil untuknya. Selama ini dia selalu susah dan saudara kembarnya bahagia. Tidak adakah kebahagiaan untuknya meski sedikit saja? Abra juga ingin merasakannya juga.


Tidak mau terlarut dengan kesedihan, Abra berkutat dengan ponselnya, memeriksa pekerjaannya yang berada di luar negeri. Dia tidak lepas tangan begitu saja dengan bisnis yang dimilikinya. Pria itu sudah membangunnya dari nol, tidak akan Abra biarkan sesuatu mengguncangnya.


"Selamat siang, Pak?" sapa Sisca setelah masuk dan mengunci pintu ruangan atasannya.


"Siang," balas Abra sambil memperhatikan Sisca dengan saksama. Dia merasa aneh saat melihat wanita itu mengunci pintu dari dalam.


Sisca berjalan dengan pelan dan dibuat seer*tis mungkin untuk menggoda atasannya. Dia duduk begitu saja di pangkuan Abra membuat atasan itu cukup terkejut, tetapi pura-pura biasa saja. Pria itu ingin tahu sejauh mana yang bisa diakukannya atau memang sudah sering seperti ini dulu dengan Ibra.


"Sudah sebulan Anda tidak datang. Saya sungguh merindukan Anda."


Abra masih berdiam di tempat. Dia takut penyamarannya akan terbongkar jika melakukan dan berkata sesuatu. Sisca pun langsung saja ******* bibir pria itu dan menempelkan dadanya ke tubuh atasannya. Abra yang terbawa permainan Sisca, mulai membalas apa yang dilakukan wanita itu.


Suasana ruangan kerja semakin memanas. Sisca mulai menanggalkan pakaiannya, hal itu membuat Abra sadar dan melepaskan ciumannya. Dia memang ingin tahu sejauh mana asistennya ini bersikap, tetapi bukan berarti dia harus melakukan hubungan terlarang.


"Kenapa, Tuan. Anda ingin langsung saja? Baiklah aku akan mengambilkannya untuk Anda." Sisca berjalan ke salah satu rak buku dan alangkah terkejutnya Abra, melihat ada lemari yang terbuka di sana. Wanita itu mengambil sesuatu dan menutupnya kembali.


Ternyata yang diambil adalah alat kontrasepsi pria. Sisca menyerahkannya pada Abra dan kembali duduk di pangkuannya. Pria itu masih tidak percaya dengan apa yang dilihat, tetapi wanita itu kembali melancarkan aksinya dengan ******* bibir Abra.


Akal sehat pria itu kembali dan menyudahi kegiatan mereka. Dia perlu berpikir tentang apa yang dilakukan asistennya. Abra juga perlu menginterogasi Romi tentang kelakuan teman kerjanya itu.


"Aku masih banyak pekerjaan. Lain kali saja," tolak Abra dengan halus. Dia tidak ingin misinya gagal.


Meski kecewa, Sisca tetap menurutinya. Diambil kembali kemeja yang sudah dilempar tadi dan memakainya. Wanita itu tidak ingin kehilangan tambang emasnya jadi, dia perlu berhati-hati. Sisca bisa mendapat uang banyak dengan sekali main dengan atasannya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2