Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
14. Jauhi Salwa


__ADS_3

"Tumben-tumbenan kamu jalan sama Ibra semalaman? Sampai nggak pulang segala. Dulu aku memintamu untuk menjerat Ibra dengan menyerahkan keperawananmu, tetapi kamu menolaknya dengan berbagai macam alasan. Sekarang kamu malah menyerahkannya sendiri," cibir Anton saat melihat Salwa yang baru datang padahal pria itu sudah akan berangkat bekerja, tetapi putrinya malah baru pulang.


"Bukannya ini yang Papa mau?" sahut Salwa.


Dia malas untuk berdebat dengan papanya yang sudah pasti selalu memojokkannya. Lebih baik mengakui saja apa yang dituduhkannya meski dia tidak melakukan apa pun. Walaupun gadis itu mengatakan tidak juga pasti Anton tidak akan percaya. Secara Salwa semalaman tidak pulang dan dia bersama dengan seorang pria. Sudah pasti orang lain akan berpikir yang tidak tidak.


"Ya, baguslah, kalau kamu mengerti. Setidaknya sekarang ada satu senjata yang tidak bisa membuat Ibra pergi dari kamu." Anton segera pergi tanpa melanjutkan kata-katanya. Dia merasa bahagia karena Salwa sudah menuruti keinginannya.


Sementara gadis itu diam dengan menahan kekesalannya karena merasa dirinya tidak begitu berarti bagi seseorang ayah, yang seharusnya menjaga dirinya. Salwa sering merasa iri pada anak-anak lainnya yang bisa dengan mudah mendapatkan kasih sayang. Itu juga yang membuatnya ingin memiliki Abra. Dia yakin pria yang baru dikenalnya itu bisa memberinya kasih sayang yang belum pernah gadis itu rasakan.


"Baru pulang, Non?" sapa Bik Sumi.


"Iya, Bik."


"Mau sarapan dulu, Non? Biar Bibi siapin."


"Tidak usah, Bi, aku sudah makan bubur di jalan tadi sama Ab ... Ibra. Aku mau istirahat dulu." Salwa segera menuju kamarnya tanpa menunggu jawaban dari ART-nya.


Gadis itu merebahkan tubuhnya dan mengingat kebersamaannya dengan Abra. Dia merasa bahagia bersama dengan pria itu meskipun sikapnya dingin, tapi wanita itu bisa merasa aman di dekatnya. Salwa merasa ada kesamaan antara dirinya dan Abra


Sementara di seberang sana, Abra yang baru datang mendapat interogasi dari papanya. Pria paruh baya itu mendengar bahwa semalaman anak sulungnya pergi bersama dengan Salwa. Handi tidak ingin Abra jatuh cinta pada tunangan saudaranya karena Salwa hanya milik Ibra. Dia tidak ingin anaknya kecewa saat sadar dari komanya nanti.

__ADS_1


"Semalaman kamu ke mana saja?" tanya Handi yang duduk di ruang tamu bersama istrinya.


"Dari luar."


"Dari jalan-jalan dengan tunangan saudaramu?" tanya Handi membuat langkah Abra terhenti. "Sampai kapan pun, Salwa hanya milik Ibra jadi jangan pernah mencoba untuk menyentuhnya. Ingatlah kalau kamu hanya pengganti untuk sementara waktu, hingga Ibra terbangun."


Sakit hati? Tentu saja. Abra sampai mengepalkan tangannya saat mendengar tiap kata yang keluar dari bibir ayahnya. Sebegitu tidak berartinya kah dirinya di mata keluarga ini? Sudah banyak dia berkorban, tetapi tetap saja dirinya tidak dihargai.


"Kalau tidak ingin milik Ibra aku sentuh, jangan memintaku untuk menggantikannya. Kalian sendiri yang menghubungiku dan memintaku datang ke sini, tapi sekarang seolah-olah aku ingin merebut semuanya. Bagaimana kalau kita hentikan saja permainan ini sekarang juga. Aku juga tidak tertarik dengan siapa yang meracuni Ibra. Lebih baik dia tidak pernah sadar daripada menyusahkan orang lain."


"Abra!" teriak Handi menggelegar hingga membuat Syakila terkejut dan mencoba menenangkan sang suami. "Jaga kata-katamu. Ibra adalah masa depan keluarga ini. Dia yang sudah menjadi pemimpin di perusahaan dan membuat besar perusahaan kita," lanjut Handi masih dengan berteriak.


"Memangnya kamu tahu apa tentang bisnis? Hidupmu di luar negeri hanya bersenang-senang," cibir Handi.


"Aku bersenang-senang juga dengan hasil keringatku sendiri. Aku tidak mengemis satu rupiah pun pada kalian. Aku datang ke sini karena ingin membalas jasa pada mama yang sudah melahirkanku di dunia ini. Setelah drama ini selesai, anggap saja aku tidak memiliki hubungan darah dengan kalian."


Abra segera berjalan menuju kamarnya yang ada di ruang tamu. Pria itu memang sudah memutuskan untuk tidur di ruang tamu saja dari kemarin. Dia tidak mau tidur di kamar saudaranya itu. Yang hanya akan membuatnya semakin sakit hati karena perbedaan mereka di keluarga ini.


Teriakan sang mama agar Abra menghentikan langkahnya pun, tidak dia dengar. Baginya itu tidaklah begitu penting karena dia ingin semuanya cepat selesai. Pria itu menghubungi bawahannya yang ada di luar negeri. Abra meminta untuk dikirimkan detektif mereka yang pasti sangat handal.


"Pa, apa kita tidak keterlaluan pada Abra? Dia juga punya kehidupan sendiri," ujar Syakila pada sang suami setelah Abra tidak terlihat.

__ADS_1


"Keterlaluan yang mana? Sudahlah, Ma. Jangan dibahas lagi. Kita juga perlu mengingatkannya. Apa Mama mau, saat Ibra bangun nanti dia kecewa pada kita karena membiarkan saudaranya mendekati Salwa? Mama tahu, kan, betapa cintanya Ibra pada Salwa?"


"Tapi, kan, kita yang meminta Abra untuk menggantikan posisi Ibra. Secara tidak langsung juga dia pasti akan berhubungan dengan Salwa. Kita juga tidak memberi tahu Salwa karena tidak ingin dia tahu yang sebenarnya."


"Tetap saja Abra harus menjaga jarak. Ibra saja selalu menjaga Salwa dan tidak pernah melakukan hal yang tidak-tidak! Abra malah membawanya bermalam. Sudahlah, Ma. Tidak perlu dibahas lagi. Yang penting kita sudah mengingatkannya. Jika dia tidak bisa diingatkan dengan cara baik-baik, maka jangan salahkan Papa jika melakukan hal yang tidak pernah dia pikirkan," ujar Handi dengan sorot mata yang tidak bisa dibaca tentu saja hal itu membuat Syakila khawatir.


"Jangan sampai kamu menyakitinya. Dia anak kita juga. Mama tidak akan rela jika Papa menyakitinya."


"Mama tenang saja, Papa tahu apa yang akan Papa lakukan. Sekarang Papa mau pergi kerja dulu jangan terlalu banyak berpikir jaga kesehatan Mama."


Handi pergi setelah mencium kening sang istri. Syakila hanya bisa menghela napas panjang. Dia tidak tahu bagaimana harus menyelesaikan masalah yang menimpa keluarganya kini. Semuanya terasa semakin rumit.


Salah satu anaknya telah berbaring di atas ranjang selama satu bulan lebih. Sementara yang lainnya selalu dalam tekanan. Wanita itu tahu jika Abra juga tidak melakukan hal itu. Syakila tidak punya pilihan lain selain memohon pada Abraham, dia tahu putra sulungnya sangat menyayanginya karena itu Handi ingin memanfaatkan hal itu.


Awalnya Syakila menolak, tetapi dengan bujuk rayu Handi, wanita itu pun bersedia menghubungi Abra.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2