Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
25. Hamil


__ADS_3

Hari ini keadaan fisik Salwa tidak baik-baik saja. Dia merasakan ini sejak satu minggu yang lalu. Tubuhnya benar-benar tidak bertenaga. Melakukan apa pun serba malas. Biasanya wanita itu selalu aktif meski hanya berada di dalam rumah.


"Non, apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit? Mungkin nanti bisa dikasih sama dokter vitamin untuk menambah nafsu makan. Sudah dua hari, Non Salwa, sama sekali nggak makan, cuma ngemil aja," ucap Bik Sumi yang khawatir pada anak majikannya itu


"Nggak usah, Bik. Aku baik-baik saja," sahut Salwa dengan tersenyum.


"Tapi, Non, Bibi semakin khawatir lihat Non Salwa lemas seperti ini. Sebenarnya Non Salwa sakit apa? Kok, tiba-tiba kayak masuk angin begini. Kalau masuk angin, habis dikerokin sudah baikan, tapi ini masih tetap saja."


Salwa pun memikirkan perkataan Bik Sumi. Dia juga merasa aneh dengan tubuhnya. Tidak biasanya seperti ini. Tiba-tiba wanita itu teringat sesuatu, bahwa bulan ini Salwa tidak datang bulan.


Tubuhnya gemetar memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Jantungnya berdetak lebih cepat dan tak beraturan. Napas pun seolah tercekat di tenggorokan. Wajah yang tadinya pucat semakin bertambah pias.


Tanpa sadar tangannya mengusap perut datarnya. Untung saja yang dilakukannya berada di bawah selimut jadi, Bik Sumi tidak melihat. Memikirkan ada kehidupan di sana membuat dadanya semakin sesak. Bagaimana dia akan menjalani kehidupan ini nanti?


Hidup Salwa bagai burung dalam sangkar. Sekarang ada kehidupan lain dalam perutnya. Membayangkan kehidupan anaknya yang akan sama seperti dirinya membuat hati wanita itu teriris. Salwa tidak sanggup membayangkan hal itu.


Tiba-tiba pikirannya berkelana. Perasaan wanita itu bercampur aduk. Bukan dia tidak senang dengan kehadiran seorang bayi, tetapi kenapa harus datang di saat yang tidak tepat. Semuanya terjadi karena kecelakaan. Dirinya juga belum menikah. Apa kata orang nanti? Pasti akan banyak cemoohan yang datang padanya dan anaknya kelak.


Air mata menetes membasahi pipi Salwa dan tentu saja, membuat Bik Sumi khawatir pada anak majikannya. Padahal sedari tadi keadaannya baik-baik saja.


"Non Salwa, kenapa menangis? Apa kata-kata Bibi menyakiti, Non? Maafkan Bibi, ya! Bibi cuma mengkhawatirkan non Salwa."


Salwa yang melihat Bik Sumi merasa bersalah pun segera mengusap air matanya dan mencoba untuk tersenyum. "Saya tidak apa-apa, Bik. Cuma lagi kangen saja sama mama," jawab Salwa berbohong.


"Oalah, saya kira kenapa. Lebih baik, Non Salwa, banyak berdoa untuk nyonya agar beliau di tempatkan di surganya Allah."

__ADS_1


"Amin," sahut Salwa. "Apa Papa sudah berangkat, Bik?"


"Sudah, baru saja. Tadi Tuan tanya kenapa Non Salwa tidak sarapan? Saya bilang saja kalau Non Salwa sedang sakit."


"Oh, jadi Papa sudah tahu kalau aku sedang sakit, tapi kenapa dia tidak melihat keadaanku? Apa aku tidak begitu penting baginya?"


"Bukan begitu, Non, Tuan bilang ada pekerjaan yang harus segera dia selesaikan," jawab Bik Sumi berbohong.


Nyatanya Anton memang tidak peduli pada keadaan Salwa. Dia hanya meminta untuk menghubungi dokter keluarga jika terjadi sesuatu.


"Ya sudah, Bik. Terima kasih, aku ingin istirahat."


"Iya, Non. Saya mau balik ke dapur. Buburnya jangan lupa dimakan."


"Terima kasih sudah perhatian sama saya, Bik."


Sementara itu, di kamar Salwa kembali menangis. Dia tidak tahu harus melakukan apa pada dirinya. Seandainya Abraham menerimanya, wanita itu akan senang dengan kehadiran bayi ini. Terlepas bagaimana dia bisa ada di perutnya, tetapi pria itu sudah menolak untuk bersama.


Satu bulan ini pun Abra tidak menghubunginya, apalagi bertanya tentang kabarnya. Salwa mencoba bangun dari tidurnya. Dia ingin mencuci wajah dan pergi jalan-jalan. Wanita itu sudah bosan berada di kamar dan ingin keluar untuk menghirup udara segar.


Sementara itu, di luar rumah. Abra sedang duduk di mobilnya. Dia melihat ke arah rumah Salwa. Sudah satu bulan pria itu tidak melihat wanita itu. Rasa rindunya benar-benar menghilangkan akal sehat.


Abra berpikir mungkin dengan melihat saja rasa rindu itu akan hilang. Namun, sejak pagi tadi, pria itu sama sekali tidak melihat keberadaan Salwa. Bahkan kemarin juga dia tidak melihat wanita itu padahal dirinya sudah berhenti di depan rumah seharian. Entahlah, apa ini yang disebut gila karena cinta.


Abraham memukul kepalanya, bisa-bisanya dia mengawasi rumah orang dan berharap pemilik rumah akan keluar. Lebih baik dirinya pergi ke kantor saja, banyak pekerjaan yang sudah menunggunya. Mobil yang dikendarainya akan melaju. Namun, sebuah teriakan dari Bik Sumi membuat pria itu mematikan mesin mobil dan berlari mendekati Bik Sumi yang meminta tolong.

__ADS_1


"Bibi, ada apa?" tanya Abra.


"Den Abra!" Bik Sumi mencoba mengatur napasnya. "Untung saja Aden di sini. Itu ... itu Non Salwa pingsan di kamarnya," lanjut wanita paruh baya itu dengan napas yang masih ngos-ngosan.


"Pingsan?" Abra segera berlari menuju ke dalam rumah. Namun, sayangnya dia tidak tahu di mana kamar wanita itu.


"Bik, kamarnya ada di mana?" tanya Abra.


"Kamarnya ada di lantai atas. Kamar nomor dua."


Abraham melanjutkan langkahnya dengan berlari, mencari keberadaan Salwa. Pintu kamar terbuka, dia segera masuk dan melihat wanita itu tergeletak di samping ranjang. Segera pria itu mengangkat dan membawanya ke rumah sakit. Abra benar-benar khawatir terjadi sesuatu pada Salwa.


Terlihat bibir yang biasanya berwarna pink menggoda kini terlihat kusam. Wajahnya pun terlihat pucat, tidak secerah biasanya. Pria itu membawa Salwa ke rumah sakit dengan menaiki mobilnya. Perjalanan cukup menyita waktu karena banyaknya kendaraan berlalu lalang.


Berkali-kali Abraham menekan klakson agar para pengendara lainnya memberi jalan. Namun, tidak ada yang mengerti. Mau tidak mau dia harus bersabar. Tidak berapa lama akhirnya mobil yang dikendarai pria itu telah sampai di depan klinik. Terpaksa Abra membawa Salwa ke sana karena kalau ke rumah sakit masih memerlukan waktu. Sementara keadaan wanita itu sudah membuatnya khawatir.


Seorang dokter sedang memeriksa keadaan Salwa sementara Abra, yang di depan pintu sudah dibuat khawatir. Pria itu tidak sabar menunggu dokter keluar. Dia mondar-mandir di depan pintu. Membuat beberapa perawat yang ada di sana melihat ke arahnya. Mereka mengira Abra adalah suaminya.


Tidak berapa lama, seorang dokter keluar sambil tersenyum. Abra pun segera mendekat. Dia tidak sabar mendengar kata dokter mengenai keadaan Salwa. Apalagi jika mengingat keadaan wanita itu yang pucat.


"Dok, bagaimana keadaannya?"


"Ibu baik-baik saja. Ada kemungkinan beliau hamil. Sebaiknya kita menunggu beliau sadar dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2