Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
31. Mencari jalan keluar


__ADS_3

"Tuan, aku sudah menemukan penawar untuk saudara Anda," ucap Roni yang berada di seberang panggilan telepon.


"Benarkah? Kamu tunggu sebentar, aku akan ke sana."


Abra memutus sambungan telepon dan segera berlari keluar ruangannya. Dia sudah tidak peduli dengan urusan pekerjaan. Ada yang lebih penting daripada itu. Ini adalah masa depannya. Tidak mungkin pria itu selamanya terperangkap menjadi sosok Ibra. Dia juga ingin bebas dan menjadi diri sendiri.


"Siska, kamu batalkan jadwal saya hari ini. Saya ada keperluan penting." Abra segera pergi tanpa menunggu jawaban dari asistennya itu.


Siska menatap punggung atasannya dengan heran. Tidak biasanya pria itu membatalkan janji begitu saja. Apa yang begitu penting sampai membuatnya pergi? Apa ini mengenai wanita lain yang sudah membuat Ibra berubah? Berbagai pertanyaan ada di otaknya yang hanya bisa dipendamnya.


Sementara itu, Abraham mengendarai mobilnya dengan tidak sabar. Dia ingin segera sampai di apartemen dan bertemu dengan Roni. Pria itu ingin memastikan kebenaran yang didengarnya tadi. Ada rasa senang di dalam hatinya. Namun, ada juga perasaan was-was, bagaimana nanti jika Ibra menjadi penghalang bagi hubungannya dengan Salwa?


Sepertinya dia harus benar-benar memikirkan semuanya dengan matang. Abra tidak ingin salah jalan dan membuat semuanya jadi kacau. Pria itu tidak ingin kehilangan Salwa dan calon anaknya. Dia juga perlu berbicara dengan kekasih hatinya mengenai hal ini nanti. Setelah beberapa menit, akhirnya priia itu sampai juga di apartemen dan segera memasuki unit apartemen miliknya.


"Bagaimana, Roni? Apa kamu sudah benar-benar menemukan penawarnya?" tanya Abra.


"Sudah, Tuan. Ini obat penawarnya. Ini dijamin akurat. Anda cukup memberi dua tetes pada minuman saudara Anda dua kali sehari," jawab Roni sambil menyerahkan sebotol kecil cairan buatannya.


"Kalau begitu kamu bisa kembali ke tempat tinggalmu atau kamu mau liburan dulu, itu terserah padamu. Bayaranmu akan aku transfer ke rekening."


"Terima kasih, Tuan. Jika Anda perlu sesuatu jangan sungkan untuk menghubungi saya lagi."


"Tentu, terima kasih. Saya pergi dulu." Abra segera pergi meninggalkan apartemen. Dalam perjalanan, dia menghubungi Salwa dan membuat janji dengan wanita itu. Dia perlu saran dari kekasihnya mengenai jalan apa yang akan diambil.


"Halo, assalamualaikum," ucap Salwa yang berada di seberang.


"Waalaikumsalam. Sayang, kamu ada di mana? Bisakah kita bertemu sekarang?" tanya Abra yang tidak ingin berbasa-basi.


"Aku ada di rumah, tapi di rumah tidak ada sopir aku tidak bisa keluar."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku akan jemput kamu. Kita keluar, ada yang perlu aku bicarakan sama kamu."


Salwa menyernyitkan keningnya. Dia merasa ada sesuatu yang sangat penting yang membuat kekasihnya itu berbicara dengan serius. Tiba-tiba saja perasaannya tidak enak. Wanita itu merasa ada sesuatu yang besar akan terjadi.


"Ada masalah apa?" tanya Salwa yang sudah tidak sabar.


"Nanti saja, saat kita ketemu. Aku juga perlu mendiskusikan sesuatu denganmu."


"Baiklah, kamu datang saja. Aku akan bersiap dulu."


"Dalam lima belas menit lagi aku akan sampai."


"Iya, aku tunggu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Abra pun menutup panggilan dan segera melajukan mobil menuju tempat tinggal kekasihnya.


Pria itu tahu jika saudara kembarnya bukan pria yang baik, tetapi bukan berarti Abra juga harus menyakiti perasaannya. Apalagi ada orang tua yang juga harus dia jaga perasaannya. Mama Syakila dan Papa Handi sudah sangat percaya padanya, tetapi dia sudah menghancurkan kepercayaan itu dengan menaruh hati kepada Salwa. Bahkan sampai membuat wanita itu hamil.


Lima belas menit kemudian, akhirnya Abra sampai juga di rumah Salwa. Wanita itu sudah menunggu di teras sambil tersenyum. Entah itu hanya perasaan Abra saja atau tidak. Kekasihnya terlihat sangat cantik mungkin aura ibu hamil.


"Kamu sudah siap, Sayang?" tanya Abra.


"Sudah. Aku tadi juga sudah bilang ke papa. Dia tidak ada masalah selama perginya sama kamu."


"Baiklah, ayo, kita pergi!"


Abra membukakan pintu untuk sang kekasih. Dia pun mengitari mobil dan duduk di balik kemudi. Mereka menuju restoran ternama


dan memilih ruang privat untuk berbicara. Pria itu tidak ingin ada orang lain yang mendengar pembicaraan keduanya. Keduanya memesan makanan untuk sebelum berbicara.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa, sih? Kamu dari tadi membuatku penasaran saja," tanya Salwa, yang sudah tidak sabar mendengar apa yang terjadi pada kekasihnya itu.


"Aku sudah mendapatkan obat penawar untuk Ibra, tapi aku bingung harus menyerahkannya pada papa atau tidak," jawab Abra. "Sebenarnya aku ingin membuat penawaran dengan papa untuk menukar kamu dengan obat ini."


"Maksud kamu?" tanya Salwa yang tidak mengerti maksud dari kekasihnya itu. Apa maksudnya menukar dirinya dengan obat ini? Apa dirinya tidak begitu berharga sampai harus disamakan dengan obat itu?


"Aku akan memberikan obat ini pada papa asal papa mau melepaskan kamu untuk bisa bersama denganku. Jujur dalam hati aku masih ragu. Kamu mau tahu benar bagaimana keluargaku. Mereka tidak akan melepaskan kamu dengan begitu mudah. Apalagi Ibra mencintaimu."


Salwa menganggukkan kepala. Dia mulai mengerti apa maksud kekasihnya. Entahlah antara senang dan sedih. Senang karena dirinya bisa bersama dengan Abraham. Sedih karena dirinya tidak begitu berharga, hingga diartikan sama seperti obat itu.


Bukan maksudnya untuk menyalahkan Abraham, tetapi memang hanya itu jalan satu-satunya bagi mereka. Perut Salwa semakin membesar. Anak itu juga perlu pengakuan dari ayahnya dengan cara menikahi sang ibu. Abra tidak ingin saat bayi itu lahir, tidak ada namanya di akte kelahiran.


"Aku juga tidak tahu itu jalan yang benar atau tidak, tapi setidaknya kita sudah berusaha. Mudah-mudahan Om Handi bisa mengerti," ujar Salwa.


"Kalau papa kamu bagaimana?"


"Kalau papa, aku rasa selama Om Handi tidak mencabut kucuran dana ke perusahaan, itu tidak ada masalah dengan siapa pun Aku akan menikah."


"Jadi kamu setuju dengan rencanaku?" tanya Abra sambil menatap kekasihnya.


Salwa mengangguk. "Karena memang hanya itu, kan, jalan yang ada. Kita juga tidak mungkin membiarkan Ibra terbaring di atas ranjang selamanya. Meskipun kamu tidak pernah diperlakukan secara adil oleh keluargamu, tetapi aku tahu kalau kamu punya hati yang tulus. Itu juga yang membuat aku jatuh cinta padamu dan aku harap kamu tidak akan pernah berubah."


"Aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian. Apa pun jalan yang akan kita hadapi, selama kita selalu bersama, aku pasti akan kuat," ujar Abra sambil menggenggam telapak tangan kekasihnya. Dia sedikit lega bisa berbicara dengan wanita itu. Meskipun masih ada rasa sedikit khawatir mengenai hubungan mereka kelak.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2