
"Rupanya ada tamu di rumah. Maaf saya terlambat, tadi jalanan sedikit macet," ucap Anton yang baru saja masuk ke dalam rumah. Terlihat Salwa dan juga Abra duduk di ruang tamu.
"Tidak apa-apa, Om. Saya juga belum lama," sahut Abra, padahal dia sudah menunggu sedari tadi. Anton pun duduk di sofa tunggal di samping Salwa. Dia mengamati wajah anak dan calon menantunya. Seperti ada sesuatu yang penting.
"Pasti ada sesuatu yang penting, yang ingin kamu bicarakan, sampai kamu datang ke sini," ucap Anton karena memang Ibra jarang sekali datang ke rumah, jika tidak ada sesuatu yang penting.
"Memang benar, Om. Saya ingin mengatakan sesuatu. Sebenarnya saya bukan Ibra, saya adalah Abraham, saudara kembarnya Ibra. Kedatangan saya ke sini selain ingin menjelaskan siapa saya sebenarnya, saya juga ingin melamar anak Om untuk menjadi istri saya."
Anton terkejut dengan apa yang Abra katakan. Selama ini tidak ada yang memberitahunya bahwa Ibra memiliki saudara kembar. Sekarang tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mengaku saudara kembar calon menantunya dan ingin menikah dengan putrinya. Padahal jelas-jelas kalau Salwa adalah tunangan Ibra.
"Apa kamu sedang bercanda?"
"Tidak, saya tidak bercanda. Apa yang saya katakan memang yang sebenarnya."
"Kenapa selama ini tidak ada yang mengatakan kalau Ibra memiliki saudara kembar? Kamu juga tidak pernah terlihat di keluarga mereka?" tanya Anton yang belum sepenuhnya percaya pada Abra.
"Saya tinggal di luar negeri. Mengenai alasan keluarga saya yang tidak pernah mengatakan keberadaan saya, hanya mereka yang bisa menjawabnya."
"Lalu bagaimana dengan keluarga kamu? Apa mereka tahu kalau kamu ingin menikah dengan Salwa? Secara Salwa adalah tunangan saudaramu."
"Saya sudah membicarakan hal ini dengan mereka dan mereka mengatakan tidak ada masalah."
"Kalau mereka tidak masalah, saya juga tidak masalah. Kamu tahu, kan, apa yang saya inginkan tentu, Om."
"Baiklah, sepertinya hanya itu saja, kan? Saya ingin membersihkan diri terlebih dahulu. Silakan berbincang dengan Salwa." Anton pun pergi menuju kamarnya, meninggalkan Abra dan Salwa.
"Aku senang semua sudah terlewati dengan mudah," ucap Salwa setelah Anton tidak terlihat. Awalnya wanita itu mengira akan ada drama di sini. Namun, ketakutannya tidak terbukti.
__ADS_1
"Iya, aku juga senang. Mudah-mudahan semuanya lancar sampai hari pernikahan kita."
"Amin." Keduanya berbincang sebentar sebelum akhirnya Abra pamit untuk pulang.
Di lain tempat, Ibra sedang mendatangi sebuah gudang kosong. Tempat itu tampak tidak terawat dan tidak berpenghuni. Siapa sangka jika di sana adalah markas preman terkenal. Dari mana pria itu tahu tempat ini.
Tentu saja jawabannya karena Ibra sering ke tempat itu. Setiap dia tidak menyukai sesuatu, pria itu pasti meminta bantuan Black untuk menyelesaikannya. Ibra juga tidak segan memberinya banyak uang jika pekerjaannya memuaskan.
"Bos besar datang juga! Sudah lama tidak berkunjung. Pasti ada sesuatu yang anda inginkan, bukan? Saya sudah sangat lama menunggu kedatangan Anda!" seru seorang laki-laki yang menjadi pimpinan di tempat itu.
Semua orang biasanya memanggil dia, Black. Ibra menatapnya datar dan langsung duduk begitu saja di depan pria itu. Bukan hal yang aneh bagi black melihat sikap Ibra. Dia juga tidak mempermasalahkan hal itu karena tidak penting baginya.
"Aku ada pekerjaan untukmu dan aku harap kamu bisa melakukannya tanpa meninggalkan jejak," ucap Ibra.
"Sepertinya kali ini sangat serius. Berapa imbalan yang aku dapatkan karena aku yakin ini bukan pekerjaan yang main-main."
"Kamu bisa menuliskan berapa pun yang kamu inginkan," ucap Ibra sambil meletakkan cek kosong di depan Black.
Abra pun menjelaskan apa yang diinginkannya pada black. Pria itu mendengarkannya dengan saksama. Dia tidak ingin terlewat sedikit pun mengenai apa yang Ibra katakan.
"Sepertinya sangat mudah. Hanya menangani seorang wanita, bukan? Tidak masalah untukku."
"Baguslah kalau begitu dan ingat kata-kataku tadi. Jangan sampai meninggalkan jejak apa pun. Aku ingin dia utuh tanpa tergores sedikit pun."
"Tentu saja, jangan khawatir soal itu. Akan saya laksanakan seperti yang Anda inginkan."
"Baiklah, itu saja yang ingin aku katakan. Kalau kamu sudah berhasil, segera hubungi aku."
__ADS_1
Ibra pun pergi begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari orang yang ada di depannya. Sudah lama Black tidak mendapatkan pekerjaan dari Ibra. Pria itu adalah seorang preman yang terkenal di kota ini. Semua pekerjaan yang dikerjakannya, tidak ada yang gagal karena itu Ibra sangat percaya padanya. Meskipun dia harus mengeluarkan banyak uang untuk membayarnya, tidak masalah. Asalkan apa yang dia inginkan bisa terwujud.
*****
Akhir-akhir ini Salwa merasa ada seseorang yang mengikutinya, setiap kali dia pergi ke mana pun. Untung saja Papa Anton mengirim seorang bodyguard yang merangkap sopir untuknya. Lagi pula Pak Heri juga orang baik dan selalu menjaga Salwa.
"Pak, saya mau ke toilet sebentar. Papa, tunggu sebentar di sini."
Saat ini keduanya sedang ada di supermarket. Mereka sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari karena barang di rumah sudah habis. Salwa yang memutuskan pergi sendiri dengan diantar oleh Pak Heri yang menunggu sedikit jauh dari toilet. Dia tidak ingin kehilangan jejak majikannya itu. Namun, hingga tiga puluh menit pesawat tak kunjung keluar.
Heri khawatir terjadi sesuatu pada majikannya. Pria itu pun segera masuk toilet wanita. Terserah aja jika dia dikatakan mesum atau apa. Yang jelas saat ini Pak Heri harus memastikan bahwa majikannya masih di sana. Namun, sayang pria itu tidak menemukan keberadaan Salwa.
Dia memutuskan untuk pergi ke ruang CCTV. Pak Heri sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada majikannya. Apakah Salwa pergi sendiri atau ada seseorang yang menculiknya. Satu persatu kamera dia lihat, hingga ada salah satu kamera yang menangkap seseorang membawa Salwa pergi.
Pak Heri pun menghubungi majikannya. Dia mengatakan semua yang terjadi pada hari ini. Papa Anton marah besar pada sopirnya itu yang sudah teledor membiarkan Salwa pergi sendiri. Pria itu mematikan sambungan telepon kemudian menghubungi Abra dan mengatakan seperti yang Heri katakan. Dia berharap putrinya segera ditemukan.
Abra ingin menghubungi polisi. Namun, dia lebih dulu mendapat pesan singkat jika ingin Salwa selamat, sebaiknya tidak melibatkan pihak berwajib. Pria itu pun terpaksa menurutinya. Abra akan mencarinya dengan cara lain. Dia melakukan panggilan lagi dengan seseorang.
"Roni, batalkan kepulanganmu. Aku ada pekerjaan lagi. Aku harap kamu menyelesaikannya dengan cepat."
"Saya akan usahakan, Tuan," sahut Roni yang berada di seberang.
"Aku akan ke apartemen. Jika urusanmu selesai. Datanglah ke sana."
Abra segera memutuskan sambungan telepon dan pergi.
.
__ADS_1
.
.