
Kata sah menggema di rumah keluarga Anton. Hari ini Abraham memutuskan untuk menikah dengan Salwa. Seperti janjinya, pria itu juga mengalirkan dana ke perusahaan mertuanya, setelah sebelumnya Papa Handi menghentikan aliran dana.
Abra tidak peduli berapa besar uang yang sudah dia keluarkan, asalkan pria itu bisa memiliki Salwa, itu sudah cukup. Hartanya juga tidak akan pernah habis jika hanya untuk hal sekecil itu. Abra juga sudah mengatakan pada Salwa, siapa dirinya sebenarnya dan apa pekerjaannya di luar negeri. Selain sebagai seorang pengusaha, dia juga ketua kelompok mafia.
Wanita itu tidak begitu terkejut karena dia bisa merasakan saat Abra menolongnya saat itu. Meskipun begitu, Salwa tidak keberatan, asalkan pria itu tidak membunuh orang dan berjalan di tempat yang benar. Abra berjanji dia akan menjalankan kelompoknya di jalan yang benar dan akan membela orang-orang yang pantas untuk dibela.
"Selamat, Bos. Akhirnya Anda menikah juga. Saya pikir Anda akan menjomblo seumur hidup," ucap Leo sambil bersalaman dengan Abra. Di belakang pria itu ada Lukas yang juga ingin mengucap selamat.
"Apakah kamu sudah bosan bekerja dengan saya?" tanya Abra dengan wajah dinginnya.
"Tenang, Bos. Jangan diambil hati kata-kataku tadi," sahut Leo yang kemudian beralih menatap Salwa. "Kakak ipar, Anda harus menolongku. Saat ini nyawaku sedang dalam bahaya," lanjut Leo yang berperan seperti seorang yang teraniaya, membuat Abra memutar bola matanya malas.
Salwa hanya tersenyum menanggapi. Dia tidak menyangka jika sang suami dan anak buahnya bisa bercanda juga. Wanita itu mengira kelompok mafia orangnya serius dan menyeramkan, tetapi tidak juga. Buktinya Lukas dan Leo orang yang suka bercanda.
"Kakak ipar, ini hadiah untukmu. Jangan lupa nanti malam dipakai, ya!" ucap Leo.
"Nanti malam? Memang hadiahnya apa?" tanya Salwa dengan menatap kado pemberian Leo.
"Ini adalah pakaian wajib bagi pengantin baru, jadi kakak ipar harus memakainya demi menyenangkan hati suami."
Salwa hanya terdiam sambil berpikir sejenak, pakaian apa yang dimaksud Leo. Setelah beberapa detik, akhirnya dia pun mengerti. Wanita itu hanya menunduk malu karena merasa dikerjai oleh mereka.
"Sudah, kamu tidak usah mendengarkan mereka. Mereka hanya para jomblo yang iri melihat pengantin baru," ucap Abra sambil memeluk pinggang sang istri.
"Siapa bilang kita jomblo?"
"Memang kamu punya pacar?"
"Ya ... tidaklah!" jawab Leo membuat semua orang tertawa.
"Sudahlah, Ayo kita pergi! Masih banyak orang yang ingin mengucapkan selamat pada mereka." Lukas menarik tangan adiknya, membuat Leo meronta karena masih ingin berbicara dengan Abra dan Salwa. Kakaknya sekarang malah menariknya.
__ADS_1
"Mereka sangat lucu. Aku kira di kelompok kalian, semua orang dingin dan kaku-kaku, tapi melihat Lukas dan Leo, sepertinya semua tersingkirkan begitu saja."
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Tidak semua orang yang ada di kelompok kita dingin dan kaku. Yah ... mungkin adalah beberapa."
"Hanya dengan melihat wajah kamu saja, aku sudah tahu kalau kelompok kalian kaku."
"Memang kenapa denganku? Apa aku terlihat begitu kaku?'
"Bukan kaku lagi, tapi sudah kering. Sekali-kali kamu harus bercanda seperti mereka."
"Kamu sekarang sudah berani memuji pria lain di depanku!"
Seketika Salwa menutup mulutnya. Abra memang tidak suka mendengar kekasihnya memuji pria lain. Setiap kali wanita itu membicarakan pria lain, pasti suaminya itu akan kesal.
"Aku sedang tidak memuji. Aku hanya mengatakan sejujurnya, tapi aku lebih suka kamu yang seperti ini dengan begitu tidak akan ada wanita yang akan mendekatimu."
"Jadi ceritanya kamu sedang posesif?"
"Ya, kalau kamu menganggapnya seperti itu, anggap saja iya," jawab Salwa sambil tersenyum membuat pria itu juga ikut tersenyum.
Acara akhirnya selesai juga. Abra memang sengaja tidak mengundang banyak orang. Tamu-tamu didominasi rekan kerja Anton. Kedua orang tua pria itu pun tidak kelihatan sama sekali. Baginya itu lebih baik daripada mereka datang dan membuat ulah.
"Apa kalian akan benar-benar pergi dan tinggal di luar negeri?" tanya Anton saat mereka sedang menikmati makan malam.
"Iya, Kami akan pergi setelah sidang Abra selesai. Kami akan menetap di sana. Kalau ada kesempatan, kami pasti akan berkunjung. Kalau berkenan juga, Om, bisa datang ke sana," jawab Abra.
"Kenapa kamu masih panggil saya Om? Sekarang kamu adalah menantu saya, jadi panggil saja Papa, sama seperti Salwa."
Abra mengangguk saja tanpa mengucapkan satu kata pun. Sebenarnya dia malas berbasa-basi dengan Anton. Dia seorang pria yang hanya mementingkan harta daripada putrinya sendiri. Akan tetapi, dia senang karena dia tidak perlu repot meminta restu kepada Anton.
Sedangkan Salwa memutar bola matanya malas. Dia sangat muak dengan papanya yang hanya mementingkan diri sendiri. Seandainya saja membalas dendam tidak berdosa, wanita itu pasti sudah melakukannya dari kemarin.
__ADS_1
Usai makan malam, Salwa mengajak sang suami ke kamar. Sudah saatnya mereka istirahat. Tubuh wanita itu pun terasa lelah karena pesta tadi siang. Meskipun hanya sebentar, tetapi cukup melelahkan. Bagaimana dengan orang lain yang mengadakan pesta sehari semalam? Salwa tidak bisa membayangkannya.
"Kamu lelah, Sayang?" tanya Abra pada sang istri.
"Lumayan, Mas."
"Panggil apa kamu tadi?"
"Mas. Boleh 'kan aku panggil kamu dengan sebutan itu?"
"Tentu saja boleh. Aku senang mendengarnya," sahut Abra dengan tersenyum. "Kamu mau aku pijiti?"
"Tidak usah, Mas. Kamu juga pasti lelah."
"Tidak apa-apa." Abra baru mulai memijat kaki istrinya. Namun, segera ditolak oleh Salwa. Wanita itu tahu jika sang suami juga sama lelahnya.
"Aku tidak apa-apa. Yuk, tidur saja! Aku ingin dipeluk sama kamu."
Abra masih berdiam diri, seperti enggan untuk tidur bersama dengan istrinya. Dia pria biasa yang punya n*fsu. Pria itu tidak yakin bisa mengendalikannya saat bersama dengan seorang wanita yang sudah sah untuknya.
"Kenapa, Mas? Apa kamu tidak mau tidur sama aku?" tanya Salwa dengan perasaan sedih.
"Bukannya tidak mau, tapi aku takut nanti khilaf. Tubuh kamu masih capek," jawab Abra pelan. Bahkan nyaris tidak terdengar.
Salwa tersenyum menanggapinya. Jika orang lain, pasti sudah memaksanya, tetapi Abraham sangat memperhatikan keadaan sang istri. Betapa beruntungnya dia memiliki suami sepertinya.
"Mas, meskipun aku capek, tapi aku tetap akan melayanimu jika kamu menginginkannya, jadi tidak perlu takut khilaf. Kita sudah sah suami istri," ujar Salwa.
"Aku hanya kasihan sama kamu. Kamu pasti lelah. Ya sudahlah, ayo, kita tidur!" Abraham merebahkan tubuhnya dan merentangkan sebelah tangan. Dia meminta Salwa tidur di sana. Wanita itu pun menuruti keinginan sang suami dan memeluk tubuh pria itu.
.
__ADS_1
.
.