
“Andre, kita lewat sana saja, ya!” ucap Salwa sambil menunjuk arah yang dituju.
“Tapi, Nyonya. Itu ‘kan berlawanan arah dengan rumah sakit tempat Anda periksa,” sahut Andre. Dia merasa bingung, kenapa Salwa ingin lewat sana? Bukankah itu akan semakin memakan waktu.
“Aku ingin jalan-jalan sebentar.”
Mau tidak mau pria itu pun menurut saja. Dia tidak ingin Salwa curiga jika seseorang sudah menunggunya di rumah sakit. Begitu wanita itu memasuki mobil. Andre terus saja memainkan ponselnya, senyum terukir dari bibir Salwa. Ponsel Andre berdering, wanita itu berpura-pura tidak mendengar dan masih sibuk sendiri dengan telepon yang dia pakai.
“Ya, halo,” ucap Andre. Entah apa jawaban dari seberang, terlihat pria itu sedang sibuk mengalihkan perhatian.
“Iya, saya sedang mengantar Nyonya, dia ingin jalan-jalan sebentar.”
“....”
“Iya, tenang saja.” Andre melirik Salwa lewat kaca di atasnya kemudian menutup panggilan.
Salwa masih terdiam menunggu Andre berbicara. Dia ingin melihat sejauh mana mereka berbohong.
“Nyonya, di perempatan kita putar balik, ya? Kalau nunggu selanjutnya akan jauh.”
“Tidak perlu, Andre. Aku mau periksa di rumah sakit sebelah sana saja. Itu rumah sakitnya bagus, dokternya juga ganteng. Aku ingin periksa di sana.”
“Kenapa Anda tiba-tiba berpindah tempat periksa, Nyonya? Apa ada yang membuat Anda tidak nyaman? Apa ada yang salah dengan rumah sakit yang biasanya?”
“Tidak! Hanya saja aku pernah mendengar ibu-ibu di rumah sakit pernah mengatakan kalau dokter yang ada di sana itu bernama Ryan. Aku penasaran mau bertemu dengannya karena saat aku melihat foto di ponsel ibu-ibu itu, dia mirip sekali dengan sahabat lamaku, jadi aku ingin bertemu dengannya. Sekalian mau nostalgia, jarang-jarang bisa bertemu teman lama.”
Salwa tersenyum, mencoba untuk terlihat bahagia untuk memastikan bahwa dia sedang kasmaran.
“Kenapa mendadak sekali, Nyonya?” Andre terlihat gugup. Dia bingung harus berkata apa pada atasannya nanti jika seperti ini. Pasti pria itu nanti akan terkena masalah.
“Tidak, saya sudah merencanakannya dari kemarin. Makanya aku dandan seperti sekarang ini. Malu lah masa bertemu teman lama harus kucel. Aku sudah cantik, kan, Andre?"
__ADS_1
“I–iya, Nyonya,” jawab Andre dengan gugup.
Salwa tersenyum melihatnya dan kembali memainkan ponsel. Dia ingin menunggu apa yang akan dilakukan pria yang saat ini sudah menunggunya di rumah sakit. Biar saja, siapa suruh Abra tidak mau bertemu dengannya. Memang pria itu tidak merindukannya.
Salwa yang melihat Andre seperti akan menghubungi seseorang pun menegurnya. Dia tidak ingin Abra sampai di rumah sakit sebelum rencananya berjalan.
“Andre, kamu sedang nyetir tidak baik memainkan ponsel. Nanti kalau terjadi sesuatu pada kita bagaimana? Sebaiknya nanti saja kalau sudah sampai di tempat tujuan, baru kamu bisa memainkan ponselmu kembali.”
"Iya, maaf."
Andre pun meletakkan ponselnya. Dia tidak tahu bagaimana caranya menghubungi atasannya yang saat ini sudah pasti menunggu di rumah sakit. Pria itu pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan.
“Kamu tunggu di luar saja, ya, Andre. Saya mau ke dalam sendiri saja seperti biasanya.” Salwa pun turun dan memasuki rumah sakit seorang diri.
Dia yakin setelah ini Andre akan menghubungi Abra. Wanita itu berjalan menuju sebuah ruangan tempat dia membuat janji dengan temannya. Salwa memang sengaja datang ke sini untuk membuat suaminya cemburu. Dia ingin tahu seberapa besar cinta Abra untuknya.
Jika setelah yang dilakukan Salwa ini, Abra masih bersembunyi, maka dia sendiri yang akan mendatangi pria itu untuk meminta berpisah. Wanita itu bertanya kepada beberapa perawat. Mereka pun menunjukkan di mana ruangan dokter Ryan, hingga sampailah dia di depan pintu sahabatnya itu.
Salwa mengetuk pintu beberapa kali, terdengar sahutan dari dalam untuk memintanya segera masuk. Terlihat seorang pria sedang fokus pada kertas yang ada di depannya.
“Oh, kamu, Salwa. Selamat pagi, duduklah dulu.”
“Terima kasih.”
“Aduh, aku sebenarnya takut saat kamu menghubungiku. Bagaimana nanti kalau suamimu marah padaku? Bisa-bisa aku kehilangan nyawa. Apalagi setelah mendengar ceritamu, semakin membuat bulu kudukku merinding. Sama papamu saja aku tidak berani sampai kita harus berteman secara sembunyi-sembunyi. Ini suamimu malah lebih parah.”
“Kamu tenang saja, aku tidak akan membiarkan kamu kehilangan nyawa begitu saja. Aku masih sangat memerlukan dirimu.”
“Awas saja kalau kamu sampai lepas tangan begitu saja. Aku masih ingin menikah, aku juga ingin tahu bagaimana rasanya surga dunia,” ucap Ryan membuat Salwa tertawa. sahabatnya ini memang sangat pandai untuk menghibur orang.
“Iya, kamu bisa memegang perkataanku.”
__ADS_1
“Jadi bagaimana sekarang? Kamu masih mau periksa?”
“Nggak lah, aku nggak mau periksa sama dokter mesum seperti kamu.”
"Jadi kamu ke sini hanya untuk duduk begitu saja. Setelah itu membuatku babak belur?" tanya Ryan dengan tidak percaya.
“Sudah, deh, kamu nggak usah terlalu berlebihan. Mereka nggak akan berani melakukan sesuatu padamu selagi ada aku.”
“Iya, terus saat kamu pulang, anak buah suamimu akan menyerangku. Aduh, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan wajah tampanku ini. Mereka pasti tidak akan melepaskanku begitu saja,” ucap Ryan yang memang sengaja dilebih-lebihkan, membuat Salwa memutar bola matanya malas.
“Sepertinya Mas Abra sebentar lagi akan sampai. Sebaiknya aku pergi.”
“Iya, kalau suamimu datang, kalau tidak?”
“Berarti dia harus benar-benar berpisah denganku. Aku tidak mungkin selamanya hidup dengan seorang pecundang. Ya sudah, aku pergi dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Aku harap kamu tidak datang lagi.”
“Kamu itu seorang dokter kandungan, kenapa harus seperti itu?”
“Kalau pasiennya orang lain, aku dengan senang hati menerima mereka. Kalau kamu, aku sangat malas.”
“Sudahlah, aku tidak mau membahas ini lagi, aku mau pulang. Semoga nanti kita bisa bertemu dan keadaanmu masih baik-baik saja.” Salwa pergi begitu saja sebelum temannya itu marah.
“Hei! kamu menyumpahiku!” teriak Dokter Ryan. Namun, tidak dihiraukan oleh Salwa.
Wanita itu berjalan dengan pelan menuju apotek. Dia harus berpura-pura untuk mengambil obat di sana untuk meyakinkan seseorang. Sebelumnya Ryan memang sudah memberinya resep untuk ditebus. Salwa menunggu dengan harap-harap cemas.
Dia takut jika sang suami benar-benar tidak datang, itu artinya dirinya tidaklah begitu penting bagi siapa pun. Papanya baru saja menjadi orang yang baik. Apakah sekarang wanita itu harus kehilangan suaminya? Mata Salwa berkaca-kaca, dia tidak sanggup jika harus melewati semuanya sendiri.
Namun, mempertahankan seseorang yang tidak ingin bersama itu sungguh menyakitkan untuknya. Sekuat tenaga dia berusaha untuk menegarkan hatinya. Salwa harus menjadi wanita yang kuat karena saat ini ada seseorang yang harus dijaga yaitu calon anaknya.
__ADS_1
.
.