Mencintai Tunangan Saudaraku

Mencintai Tunangan Saudaraku
42. Mengunjungi Salwa


__ADS_3

Abra merasakan tangan Salwa yang bergerak. Dia segera menekan tombol yang ada di atas ranjang untuk memanggil perawat. Ada kelegaan di dadanya melihat ada pergerakan dari sang kekasih.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Abra dengan pelan. Takut jika mengganggu istirahat Salwa. Padahal wanita itu sudah ingin bangun.


Salwa membuka mata dan mengedarkan pandangan ke sekeliling yang terasa asing. Wanita itu mencoba mengingat apa saja yang sudah terjadi. Seketika dia teringat sesuatu yang membuatnya takut. Salwa meraba perutnya. Ada rasa sakit di sana dan itu cukup membuatnya tahu apa yang terjadi.


"Anak kita tidak apa-apa, kan?" tanya Salwa sambil menatap Abraham yang ada di sampingnya. Pria itu tidak bisa menjawab. Dia bingung harus berkata apa. "Kenapa kamu diam? Jawab! Anak kita tidak apa-apa, kan?"


"Maaf karena aku terlambat menolongmu. Aku sungguh-sungguh menyesal," jawab Abraham yang cukup mengejutkan bagi Salwa.


Wanita itu sangat tahu arti dari kata-kata yang kekasihnya ucapkan. Dia sangat sedih mendengarnya. Air mata menetes begitu deras dari sudut matanya. Abraham merasa semakin bersalah. Pria itu menggenggam erat telapak tangan Salwa.


Berkali-kali Abra mengucapkan kata maaf, yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Salwa karena wanita itu juga sama terlukanya. Seorang dokter masuk ke dalam ruangan diikuti oleh dua orang perawat. Dokter tersebut memeriksa keadaan Salwa meski tahu kondisi mental pasiennya sedang tidak baik-baik saja.


"Apa, Nona, masih merasa sakit?" tanya Dokter yang hanya dijawab gelengan oleh Salwa. Bukan tubuhnya yang sakit, tetapi hatinya. Dia tahu tidak ada yang bisa mengembalikannya.


"Baiklah, sepertinya semua baik. Nanti jangan lupa diminum obatnya. Saya tinggal dulu." Dokter tersebut keluar bersama perawat.


"Maafkan aku yang terlambat menyelamatkanmu," ucap Abra lagi.


"Semua sudah terjadi. Mungkin ini memang takdir yang Tuhan berikan kepadaku. Ini lebih baik daripada dia harus terlahir dan dicap sebagai anak haram. Kalaupun nanti dia lahir juga, nasabnya tidak sama kamu. Aku tidak ingin melihat wajah putriku sedih, saat dia menikah, ayahnya tidak bisa menjadi wali. Jadi mungkin ini lebih baik untuk jalan hidupnya," ucap Salwa dengan tersenyum. Namun, air mata tetap saja mengalir.


Sebelumnya Salwa dan Abra sudah melakukan USG dan hasilnya, anak mereka perempuan. Hal itu tentu saja membuat keduanya begitu bahagia. Namun, ada kekhawatiran mengenai masa depannya karena tidak memiliki wali. Sekarang Tuhan lebih menyayanginya jadi, mereka tidak boleh terlalu bersedih.


"Iya, kamu bener. Meskipun secara hukum dia adalah putriku, tapi secara agama aku sama sekali tidak ada hak untuk menjadi walinya. Meskipun ini jalan menyakitkan, mudah-mudahan ini yang terbaik untuk Putri kita."


Salwa kembali menangis. Air matanya terus saja mengalir dan semakin deras. "Sekarang lebih baik kamu sarapan dulu. Ayo, aku suapi!" seru Abra sambil menyendokkan makanan ke depan mulut Salwa. Awalnya wanita itu selalu menolak. Namun, akhirnya wanita itu mengalah dan mau disuapi oleh Abra.


****

__ADS_1


"Kak, kenapa bos Abra menyerahkan pelaku ke kantor polisi? Kenapa tidak mengatasinya sendiri? Aku sangat yakin dengan cara seperti itu mereka akan jera dan tidak lagi melakukan kejahatan," ujar Leo.


"Kamu lupa siapa bos kamu saat ini? Dia sudah tobat dari dulu karena setiap kali datang juga dia tidak pernah melakukan kejahatan."


"Wanita memang bisa merubah orang menjadi baik. Ada pula yang sebaliknya, malah menjadi lebih jahat," gumam Leo.


"Menurutmu, Bos Abra dalam kriteria mana? Baik atau jahat?" tanya Lukas.


"Ya, tentu baik, dong! Orang bodoh juga tahu hal itu, dasar." Leo yang merasa kesel dengan pertanyaan kakaknya itu. Dia segera pergi keluar. Pria itu akan mengajak Roni keluar.


"Begitu saja, sudah ngambek," cibir Lukas. Namun, Leo tidak menghiraukan ucapan kakaknya dan terus saja berjalan keluar.


Dia juga ingin jalan-jalan menikmati pemandangan kota ini. Sudah beberapa hari pria itu di sini, setiap hari hanya terkurung di apartemen. Leo ingin bersenang-senang sebelum kembali ke tempat asal untuk melanjutkan misi selanjutnya. Sementara itu, Lukas yang ada di apartemen mendapat panggilan dari anak buahnya. Segera pria itu menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya.


"Bos, saya ingin melaporkan sesuatu," ucap pria yang berada di seberang.


"Katakan saja."


"Lalu apa masalahnya?"


"Ibra meminta Tuan Handi agar melenyapkan bukti-bukti yang akan memberatkannya nanti dipersidangan."


"Kamu sudah mengamankan semuanya, kan?"


"Sudah, Bos. Saya juga mengirimkan kopiannya ke kantor polisi agar segera ditindak lanjuti."


"Baguslah kalau begitu. Terus awasi keluarga mereka. Jangan sampai terlewat informasi sedikitpun, aku tidak ingin gara-gara Ibra berulah membuat susah semuanya."


"Tentu, Bos. Saya akan terus mengawasi mereka."

__ADS_1


"Baguslah."


Lukas segera mematikan ponselnya. Padahal ini masalah yang sepele, tetapi mereka perlu berhati-hati untuk melakukan semuanya karena ini berkaitan dengan seseorang yang sangat berarti bagi atasan mereka. Pria itu akan memastikan Ibra mendekam di penjara. Setelah itu, dia akan menagih janji Abra.


****


Abra dan Salwa sedang berbincang santai, tiba-tiba pintu diketuk seseorang dan kedua orang itu pun masuk. Siapa lagi kalau bukan Papa Handi dan Mama Syakila. Abra yang melihat kedua orang tuanya datang pun hanya mendengus. Dia yakin pasti mereka punya tujuan tersembunyi.


Pria itu berharap tidak ada hubungannya dengan Ibra. Kalau sampai itu terjadi, Abra tidak akan pernah membebaskan Ibra. Meskipun mereka saudara kembar. Dia sudah bertekad akan membekukan hatinya saat mendengar apa pun yang kedua orangtuanya katakan.


"Apa kabar, Salwa? Bagaimana keadaanmu?" tanya Mama Syakila sambil meletakkan parcel buah di meja samping ranjang.


"Baik, Tante," jawab Salwa dengan tersenyum paksa. Sebenarnya dia tidak suka dengan kedatangan kedua orang tua Ibra. Hatinya masih terlalu sakit, tetapi wanita itu tidak mungkin mengusir mereka.


"Om harap kamu selalu baik-baik saja. Sebenarnya kami ke sini ada yang ingin dibicarakan," sahut Papa Handi.


Abra yang sedari tadi diam pun menoleh ke arah papanya. Dia mulai jaga-jaga dengan apa yang akan Papa Handi katakan. Sampai kapan pun pria itu akan menuntut saudara kembarnya.


"Karena sekarang Salwa sudah baik-baik saja, Om harap kalian mencabut tuntutan atas Ibra."


Salwa sangat terkejut. Begitupun dengan Abra meski sebelumnya pria itu sudah menduga, tetapi dia tetap terkejut juga. Apalagi papanya mengatakan hal itu seperti masalah yang Abra alami bukanlah sesuatu yang penting. Padahal Salwa sudah kehilangan calon anaknya dan itu juga termasuk cucu dari Handi, tetapi pria itu seolah tidak merasa sedih sedikit pun.


"Iya, Salwa, kasihan Ibra. Dia sudah terbiasa hidup tercukupi, sekarang harus menderita. Tolong kasihani dia," tambah Mama Syakila.


"Apa Mama sadar dengan apa yang Mama katakan baru saja? Mama juga seorang wanita, kan? Bagaimana perasaan seorang wanita saat kehilangan calon anaknya? Apa Mama tidak merasakan perasaan itu? Anak Mama hanya di penjara, sewaktu-waktu bisa keluar. Sedangkan anak Salwa sudah meninggal dan tidak akan bisa kembali lagi," tanya Abra dengan menahan kegeraman dalam dirinya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2