
Abraham mondar-mandir di depan ruang UGD, tempat di mana Salwa diperiksa. Dia sangat khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada kekasih dan calon anaknya. Apalagi melihat begitu banyak darah yang keluar dari inti tubuh wanita itu. Membuat berbagai pikiran buruk ada di kepala Abra.
Dia tidak sanggup kehilangan salah satu diantara mereka. Pria itu berharap Tuhan masih berbaik hati padanya dan menyelamatkan kedua orang yang berarti untuknya saat ini. Abra sudah menghubungi Anton dan mengatakan jika sudah menemukan Salwa. Namun, tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Bagaimana keadaan Salwa?" tanya Anton yang baru saja datang bersama dengan Syakila dan Handi. Kedua orang itu tadi dikabari oleh Anton karena sebelumnya mereka pernah menghubungi calon besannya itu. mereka menanyakan kebenaran kehilangan Salwa. Handi dan Syakila juga meminta Anton untuk menghubungi mereka saat Salwa sudah ditemukan.
Itulah kenapa kedua orang tua Ibra ada di sini. Mereka ingin melihat keadaan Salwa dan juga ingin tahu apakah benar wanita itu diculik? Apa penculiknya memang benar Ibra? Sejujurnya mereka sangat khawatir tentang hal itu.
"Masih di dalam. Dokter masih memeriksanya," jawab Abra yang kemudian beralih menatap kedua orang tuanya. "Aku tidak akan pernah memaafkan Ibra jika terjadi sesuatu pada Salwa dan calon anakku."
Ketiga orang itu tercengang mendengar apa yang Abra katakan. Ternyata benar Ibra adalah dalang dari penculikan ini. Awalnya mereka berusaha berpikir positif, bahwa Salwa benar-benar diculik orang lain bukan Ibra. Akan tetapi, kenyataan hari ini membuat mereka tidak berdaya.
"Kenapa kamu malah menyalahkan Ibra saja? Tidakkah kamu berpikir Ibra melakukan semua ini juga karena kamu yang sudah merebut tunangannya. Sebelumnya sudah aku peringatkan, jangan menaruh hati pada Salwa karena dia adalah tunangan Ibra, tapi kamu sama sekali tidak menghiraukannya," sahut Handi.
Pria itu tidak terima Abra menyalahkan Ibra. Meskipun tahu jika putranya melakukan kesalahan, tetapi sebagai ayah dia ingin membelanya. Ibra adalah kebanggaan keluarga, pria itu tidak ingin putranya mengalami kesulitan.
"Itu bukan alasan untuk menculik Salwa dan membuatnya dalam bahaya. Apa yang kalian lakukan pada Ibra, itu sama saja menjerumuskannya. Sudah jelas-jelas dia bersalah, tapi kalian malah membelanya. Tidakkah kalian berpikir bahwa orang lain juga ingin bahagia. Aku dan Salwa saling mencintai. Apa salahnya jika Ibra mengalah padaku untuk kali ini saja. Selama ini aku juga selalu mengalah padanya."
"Apa maksudmu dengan mengalah pada Ibra? Selama ini justru aku selalu melihat Ibra yang mengalah padamu. Kenapa kamu malah memutarbalikkan fakta?"
"Kalian tanya saja pada anak kesayangan itu. Apa yang selama ini dia lakukan padaku."
__ADS_1
"Sudahlah, tidak usah berdebat di sini. Semuanya juga sudah lewat. Sebaiknya kita berdoa saja agar Salwa baik-baik saja," pungkas Anton yang sudah jenuh dengan perdebatan mereka. Tidak berapa lama dokter akhirnya keluar.
"Keluarga Nona Salwa?" tanya Dokter. Ketiga orang tersebut pun mendekatinya
"Saya ayahnya, Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Anton.
"Nona Salwa baik-baik saja. Namun, kami tidak bisa menyelamatkan janinnya. Janin tersebut sudah meninggal saat Non Salwa sampai jadi, kami tadi terpaksa mengeluarkannya."
Bagai tersambar petir di siang hari, Abra tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Kenyataan yang tidak ingin dia dengar, kini harus terjadi pada kekasihnya. Bagaimana nanti dia harus menjelaskan kepada Salwa? Wanita itu pasti akan terluka meski dia tidak pernah menginginkan kehamilan ini, tetapi dia sangat menyayangi calon anaknya. Terlepas bagaimana dia bisa hadir di dalam perutnya.
Apalagi beberapa hari yang lalu, Salwa sudah merencanakan banyak hal untuk calon anaknya. Abra juga sudah menyusun rencana pernikahan mereka. Dia tidak ingin calon anaknya tidak memiliki nama ayah di dalam akta kelahiran. Semua sudah tersusun dengan baik. Namun, sekarang semuanya hancur seketika. Pria itu tidak yakin Salwa bisa menerima semua ini.
"Dokter tidak sedang berbohong, kan?" tanya Abra yang ingin memastikan apa yang dia dengar.
Abraham memejamkan matanya, berusaha mengusir rasa sedih yang dia rasakan. Tangannya mengepal dengan kuat, menahan amarah terhadap saudara kembarnya. Ini semua terjadi karena Ibra. Pria itu yang sudah mengambil kebahagiaan yang dia rasakan. Abra tidak akan melepaskannya begitu saja.
"Lalu bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Anton.
"Nona Salwa baik-baik saja. Sekarang masih dalam pengaruh obat bius. Perawat akan memindahkannya ke ruang rawat."
Anton menganggukkan kepala mengerti. Sejujurnya sebagai seorang calon kakek, dia sedih mendengar berita itu. Akan tetapi, baginya itu lebih baik. Pria itu tidak yakin dengan Abra maupun Ibra mungkin dengan begini, Anton masih bisa mengatur Salwa dengan seseorang yang lebih menjanjikan kehidupannya.
__ADS_1
Ponsel Papa Handi berdering. Tertera nomor tidak dikenal. Pria itu segera mengangkatnya. "Halo."
"Selamat siang, apa benar ini dengan Tuan Handi?" tanya orang yang berada di seberang.
"Iya, benar. Ada apa, ya? Siapa ini?" tanya Handi balik dengan wajah kebingungan.
"Kami dari pihak kepolisian. Kami mendapatkan laporan jika Tuan Ibra terlibat kasus penculikan atas nama Nona Salwa dan saat ini, Tuan Ibra sedang kami tahan di kantor polisi. Kami memohon kesediaan keluarga untuk datang."
"Apa? Di tahan?" tanya Handi yang terkejut dengan apa yang dia dengar.
"Benar, Pak. Bisakah Anda datang?"
"Baik, Pak. Saya akan segera ke sana," sahut Handi yang segera menutup panggilan kemudian menatap Abra. "Kamu melaporkan Ibra ke kantor polisi?"
"Memang dia bersalah jadi, dia harus mempertanggungjawabkan kesalahannya. Kalau bisa, aku lebih memilih menghabisinya dengan tanganku sendiri," jawab Ibra tanpa menatap kedua orang tuanya.
Sekarang dia benar-benar marah dengan keadaan dan juga saudara kembarnya. Ibra seperti seorang laki-laki yang pengecut yang hanya berani menindas wanita. Tadinya Lukas ingin menghukum Ibra dengan tenaganya sendiri, tanpa melibatkan kepolisian. Akan tetapi, Abra tidak tega melihatnya.
Pria itu pun meminta Lukas membawa Ibra ke kantor polisi. Biarlah pihak berwajib yang menghukumnya. Sebelumnya Lukas sudah mengancam pihak kepolisian agar tidak membebaskan Ibra.
Tanpa banyak kata Papa Handi dan Mama Syakila pun pergi meninggalkan Rumah sakit menuju kantor polisi. Mereka ingin tahu bagaimana keadaan putra yang selalu mereka banggakan itu. Ibra terbiasa hidup dengan kemewahan sudah pasti tidak nyaman berada di tempat seperti itu. Apalagi pria itu baru sembuh.
__ADS_1
Papa Handi juga menghubungi pengacara keluarga untuk membantu agar membebaskan Ibra. Sepanjang perjalanan ke kantor polisi, Mama Syakila terus saja menangis. Dia sedih bukan karena keadaan Ibra saja, tetapi juga sedih saat melihat betapa hancurnya perasaan Abra mengetahui keadaan Salwa. Apalagi dia juga kehilangan calon anak mereka.
Sebagai seorang ibu, Mama Syakila merasa tidak berguna karena tidak bisa melakukan apa pun untuk putranya. Handi yang berada di sampingnya mengira, jika sang istri sedih karena Ibra karena itu dia hanya diam saja. Baru kali ini anak kesayangannya melakukan kesalahan yang fatal.