Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
17. Unboxing.


__ADS_3

"Mmm .... akh Anak kecil kepo!" seru Nervan dengan wajah yang memerah karena malu, ia menyembunyikannya dengan membalikkan tubuhnya.


"Habiskan makanan mu, Aku mandi dulu! sekalian Aku siapkan air hangat untukmu!" ucap dingin Nervan sembari berlalu begitu saja dari ruang makan.


Crystal masih belum mengerti perubahan sikap Nervan yang susah untuk ditebak.


Selang beberapa saat kemudian, ketika Crystal sedang berpikir tentang Nervan dan melanjutkan makannya, terdengar deru mesin motor dan sepertinya motor besar, suaranya berasal dari halaman depan.


"Motor siapa?" ucap Crystal pada dirinya.


"Assalamu'alaikum Mamas'e Evan! Aku datang nih, membawakan titipan dari Mbok'e Mah," ucap seorang laki-laki dari arah luar dengan suara keras nya.


Pintu depan memang terbuka, karena Nervan tadi lupa menutupnya. "Siapa?" tanya Crystal dengan suaranya yang ia buat kearas.


Tak berapa lama, nampak lah siapa yang baru saja tiba. Wajah Khas itu dan tentu saja bayang-bayang bau khas nya menyeruak tiba-tiba pada hidung Crystal seperti sudah menjadi sebuah fobia baginya.


Uwheek .... uwheek .... tiba-tiba saja Crystal merasa mual yang teramat. Ketika ia melihat wajah yang tidak asing baginya.


Iwang! ya Iwang baru saja masuk dari pintu depan, suaranya yang khas terdengar menggema di ruangan rumah Nervan.


Crystal yang tiba-tiba melihat Iwang masuk pun teringat akan bau khas keringat Iwang sehingga ia merasa mual.


Uwheek .... Uwheek .... Crystal langsung pergi ke arah wastafel, saat perutnya sedang mengeluarkan isi dari dalam.


Iwang yang sudah masuk ruang santai sembari memanggil Nervan, dan ketika mendengar suara orang mual dari arah dapur pun menoleh.


Iwang melihat Crystal sedang menghadapi wastafel dan mual mual di sana. "Lho Mbak'e cantik nopo toh? suarane mual-mual begitu!" gumam


Iwang lalu ia menghampiri Crystal.


"Mbak'e cantik ono opo? Mbak'e cantik sakit yah?" tanya polos Iwang pada Crystal sembari meletakkan tentengannya di bangku dan kini ia sudah berada di belakang Crystal.


"Uwheek .... uwheek .... to-long men- uwheek .... ja-uh!" ucap lemah Crystal.


Iwang hanya mengerutkan dahi nya. "Mbak'e cantik hendak Iwang bantu pijati tengkuk nya?" tawar Iwang dengan kelakuan polosnya, tanpa mengerti sebetulnya pemicu Crystal mual-mual itu adalah dirinya.


"Gak perlu!" jawab Crystal sembari mengatur nafasnya dan kini sedang terengah- engah karena lelah sehabis mengeluarkan isi perutnya.


"Tidak apa-apa, Iwang Kalau sakit dan juga mual! suka di pijati pundak nya oleh si Mbok'e, nanti rasanya lebih baik!" masih dengan polosnya Iwang.


Bukan kurang ajar! namun itu sebuah bentuk tawaran sebagai kepedulian Iwang, niatan membantu meringankan beban majikan nya yang sedang mual, itulah maksud Iwang.


Crystal kembali mual, setelah ia mendengar kata-kata Iwang, bau khas dari ketiak Iwang mampir kembali di hidung Crystal.


Padahal kali ini bau badan Iwang tidak seperti waktu itu. Namun wangi khas nya seakan sudah tertanam di dalam penciuman Crystal.


Iwang pun makin mendekat, niatnya ingin memijat pundak Crystal membantunya agar lebih baik tidak ingin ia urungkan.


"Wang! nagapain lo?" tiba-tiba saja Nervan muncul dan baru saja turun dari lantai atas setelah mandi.

__ADS_1


Nervan melihat Iwang yang sedang menjulurkan tangannya hendak meraih bahu Crystal. Ada rasa ketidak sukaan dari Nervan melihat Crystal hendak disentuh laki-laki lain, walaupun itu Iwang dan dengan niatan yang baik.


"Eh Mamas'e Evan! iki toh, Aku handak membantu memijati Mbak'e cantik! kasihan dari tadi mual!" Jawab jujur dan terdengar polos dari Iwang.


"Ouuhhh! tolong ambilkan minyak angin saja di laci dekat televisi. Biar gue yang mijat!" pinta Nervan.


"Enak saja lo Wang, hendak sentuh Cysa! gue yang suami nya saja belum pakai acara sentuh-sentuhan! eh sudah ding semalam, itu juga nyolong, hihi," batin Nervan.


"Baik Mamas'e!" Iwang pun segera melaksanakan permintaan Nervan.


"Saat nya acting!" batin Nervan Kembali. "Sayang! kamu kenapa?" tanya Nervan yang di sambut mimik tidak mengerti dari wajah Crystal.


"Kamu kesamabet mas? pakai kata-kata sayang segala .... uwheek!" tanya Crystal setelah Nervan berhasil menyentuh bahunya dengan sebelah tangan.


"Enak saja kesambet! Acting tahu!" gerutu Nervan.


"Acting apa sih Mas?" Crystal tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Nervan.


"Oke! mungkin kamu belum paham! karena aku belum menjelaskannya secara detail! namun untuk kali ini, kamu harus mengikuti alur yang ku buat! di sini ada Iwang, kalau kita tidak bersikap mesra di depannya! bisa saja dia lapor pada Mami." ujar Nervan


Nervan mengatakan itu dengan tidak ada rasa bersalah seolah tanpa beban perasaan apapun, berbeda dengan Crystal, kata-kata Nervan begitu mengiris relung hatinya.


Maka dari itu Crystal hanya mendengus kesal, untuk menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. Namun bagaimana lagi ia harus mengikuti alur cerita dari Nervan yang kini sudah merangkap sebagai sutradara dalam pernikahan mereka.


"Ok!"


"Iya,"jawab ketus Crystal.


"Terimakasih Wang!" Nervan meraih botol minyak angin tersebut. Lalu ia memapah Crystal duduk di sofa ruang televisi.


"Mas, tolong Mas Iwang nya di suruh menjauh sedikit, Aku tidak tahan! rasanya mual terus kalau lihat wajah nya! Maaf Mas," pinta Crystal dengan suara yang pelan.


"Wang! tolong agak menjauh sedikit, radius satu meter dari Cysa!" pinta Nervan.


"Loh koq begitu! aku kan hendak mebantu Mamas'e dan Mbak'e cantik, toh!" ucap polosnya Iwang tanpa merasa bersalah karena memang ia tidak merasa bersalah apapun.


"Mas! mmppff ....!" seru pelan Crystal sembari menahan mual nya.


"Hemmm, iya sayang! nih kamu hirup sedikit minyak angin nya agar hidungnya segar." Nervan yang mengerti Crystal kembali mual, maka ia sodorkan minyak angin pada hidung Crystal agar ia menghirup nya.


"Baik Mas!" Crystal pun menutup matanya, lalu ia menghirup wangi minyak angin tersebut secara perlahan


"Mamas'e nikah baru satu malam, koq Mbak'e cantik sudah hamil? Mamas'e unboxing duluan yah?" celetuk ringan Iwang dengan polosnya.


Hingga membuat Nervan terperanjat dan berfikir maksud kata-kata Iwang, begitupun dengan Crystal yang terkejut bukan main dengan pertanyaan Iwang.


"Enak saja lo! Unboxing, di pikir barang! asal lo tahu yah, istri gue ini ...." ucap Nervan melirik ke arah Crystal, ia bingung mau melanjutkan dengan kata-kata seperti apa.


"Maksud gue! Istri gue belum terjamah sedikit pun sebelum kita menikah." akhirnya Nervan melanjutkan kata-katanya sembari menatap tajam Crystal.

__ADS_1


"Ouh maaf Mamas'e, atas kelancangan dari pertanyaan Iwang," Iwang pun merasa tidak enak dan akhiran meminta maaf.


Crystal hanya tertunduk malu sembari melihat ke arah lain. Ia tidak ingin melihat wajah Iwang.


"Ya sudah, lo balik ke rumah Mami gih! bawaan lo tadi mana? semua pesanan gue di bawa kan?" tanya Nervan pada Iwang, sembari berdiri dari hadapan Crystal dan berjalan menuju kursi makan tempat Iwang meletakkan barang bawaannya.


"Tenang komplit semua Mamas'e! bahkan Mbok'e Mah, membawakan makanan untuk kalian," jawab Iwang sembari mengikuti langkah Nervan.


Nervan pun memeriksa barang bawaan Iwang. Tas milk Crystal, obat-obatan yang Nervan butuhkan untuk Crystal, serta makanan terdapat di dalamnya.


"Baiklah! semua yang gue pesan tidak ada yang tertinggal, gue mau membantu Cysa mandi, lo balik ke rumah Mami gih! nanti lo di butuhkan di sana," pinta Nervan.


"Baik Mamas'e! waaah mandi bersama ya, kapan ya Iwang mandi bersama Istri Iwang," ucap Iwang sembari senyum senyum sendiri, matanya seperti sedang membayangkan sesuatu.


"Huuuh .... sana cuci isi kepala lo pakai sabun!" dengus Nervan sembari menyenggol Iwang.


"Walah .... di pikir isi kepala Iwang iki baju opo!" seru Iwang sembari tertawa.


"Sana pulang, cengar-cengir! Sayang mari aku bantu naik ke atas," setelah mengusir Iwang pulang, Nervan menghampiri Crystal.


"Mbak'e cantik! Iwang pulang yah," pamit Iwang pada Crystal.


"Silakan Mas Iwang," ucap Crystal sembari membuang muka dan menutupi hidung serta mulutnya menggunakan telapak tangan.


"Tutup pintu nya Wang!" Pinta Nervan setelah Iwang meloyor ke arah pintu depan.


"Siiip Mamas'e Evan!" ucap Iwang, dan terdengar ia menutup pintu lalu tidak berapa lama tedengar suara motor dan lalu menjauh, pertanda Iwang sudah berlalu dari tempat itu.


Posisi Nervan masih berjongkok di hadapan Crystal yang sedang duduk, kini tatapan canggung dari mereka berdua beradu dan saling menatap dengan intens.


"Mas!"


"Kamu cantik Cys!" gumam Nervan, tatapan nya tidak lepas dari wajah Crystal.


Crystal mengerutkan dahi, tidak paham dengan Nervan yang memuji dirinya.


"Hehe, Mas juga tampan!" puji balik Crystal dengan tersenyum.


Nervan memajukan wajahnya, makin maju dan makin mendekat, seperti nya tujuan nya pada bibir Crystal.


"Mas!"


"Cys!"


"M-mas!"


Crystal merasa gugup, ia pikir Nervan akan mencium nya, maka dari itu, demi untuk menghilangkan rasa gugupnya, Crystal memejamkan mata.


Nervan tersenyum ketika melihat Crystal memejamkan mata, debaran jantung mereka seakan sedang berlomba.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2