Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
30. Para Bodyguard Papi!


__ADS_3

"Sayang! sayang! kamu di mana?" Nervan memanggil Crystal saat masuk ke dalam rumah.


"Cysa sedang keluar Van." Jawab Mami Nervan dari ruang keluarga.


"Keluar ke mana Mih? apa Cysa juga sedang meninggalkan Aku?" tanya Nervan dengan langkah gontai.


"Maksud Evan apa?" tanya Khawatir Mami Nervan yang melihat Nervan berjalan gontai.


Nervan tidak menjawab nya. Ia hanya duduk diam bersandar lesu di sofa.


"Tio .... ada apa ini?" tanya Mami Nervan pada Satrio.


Satrio nampak diam. Ia menelan kelu saliva nya. "A ....i-i ...." Satrio gagap mendadak.


"A-i a-i apa Tio! tolong bicara yang betul." pekik Mami Nervan. Lalu ia menjalankan kursi roda nya menghampiri Nervan.


Mami Nervan belum sembuh total ia belum dapat berjalan secara biasa. Maka dari itu ia menggunakan kursi roda.


"Itu Bude! Di-Diandra kembali." Jawab Satrio. "Diandra?" Mami Nervan pun nampak terkejut.


Nervan bersimpuh di lantai, ia merebahkan kepalanya pada pangkuan Mami nya.


"Sudah Van! kamu tidak boleh kalah dengan perasaan mu! saat ini ada Cysa yang sudah menjadi Istri mu. Cysa begitu baik, cantik, penyayang. Kurang apa Cysa, kamu jangan terperdaya perasaan masa lalu. Mau seribu Diandra menampakkan diri. Di mata Mami hanya ada Cysa seorang yang pantas menjadi menantu dan anak perempuan Mami." Mami Nervan faham apa yang sedang anak nya alami.


"Iya Mih. Tapi kemana Cysa, tidak Pernah ia pergi tanpa aku Mih?" tanya Nervan. "Dia gak lagi pergi meninggalkan aku kan?" tanya Nervan kembali.


"Hehe, tidak Van! Cysa sedang pergi dengan Tante mu, mereka sedang membeli kue untuk nanti sore syukuran. karena Mami sudah pulang dari rumah sakit." Mami Nervan menjelaskan.


"Yakin Mih, Cysa gak lagi ninggalin aku, kan?" Nervan merasa takut akan di tinggal Crystal.


"Yakin! ya sudah. Kamu istirahat saja sana, sebentar lagi juga Cysa pulang koq." Pinta Mami Nervan.


"Baiklah Mih! Tio, lebih baik kamu kembali ke pabrik. Mungkin saja Rendra butuh kamu." Ujar Nervan sembari berdiri.


"Baik Mas!" Satrio pun menuruti permintaan Nervan. Setelah berpamitan pada Mami Nervan, Satrio pun berlalu dari ruangan tersebut untuk pergi ke pabrik.


Nervan pun berpamitan pada Mami nya untuk naik ke kamar nya.


***


Di tempat lain.


Di sebuah pusat perbelanjaan. Crystal dan Tante Ningsih sedang be berbelanja untuk keperluan syukuran nanti malam.


"Tan! sepertinya sudah semua nih belanjaan nya," Ujar Crystal.


"Iya Nduk! tinggal beli kue! di pasar tradisional saja. Di sana lebih enak loh! kualitas nya juga tidak kalah dengan yang di dalam mall." Tante Ningsih mengajak Crystal ke pasar tradisional.


"Baiklah, tapi aku lapar Tan! makan dulu mungkin yah!" ungkap Crystal.


"Hihi .... baru mau ngajak makan, sudah di duluin. Baiklah makan saja dulu." Ucap Tante Ningsih.


"Ok deh! mari bayar ini dulu Tan!" Crystal dan Tante Ningsih pun menuju Kasir untuk membayar belanjaan mereka.


Setelah dari kasir dan membayar semua belanjaan. Maka mereka pun bergegas ke sebuah tempat makan yang masih berada di dalam mall.

__ADS_1


"Mari duduk Tan! makanan di sini enak-enak loh Tan!" ucap Crystal mempersilakan Tante Ningsih duduk.


"Loh Nduk, Koq kamu tahu tempat makan ini, makanan nya enak-enak! bukankah kamu baru pulang dari luar negeri?" tanya Tante Ningsih.


"Mmmm .... maksud nya dulu tante! sebelum aku ke luar negeri. Aku kan pernah sekolah SMA di Jakarta dan aku sering loh ke mall ini. Nah inilah salah satu tempat makan favorit aku." Tutur Crystal, walaupun pada awal nya terlihat ragu.


"Oh seperti itu, baiklah! tante pesanan nya, sama dengan kamu saja deh! Tante kan belum tahu, menu makanan yang enak di sini apa." Ujar Tante Ningsih.


"Baiklah!" Crystal pun memanggil pelayan restoran. Lalu ia memesan beberapa hidangan, untuk makan siang mereka.


Saat sedang menunggu pesanan. Tiba-tiba saja, telepon Crystal berbunyi. "Mas Evan?" gumam Crystal, saat ia lihat siapa yang menelpon nya.


"Tan sebentar yah! aku terima telepon dulu dari Mas Evan!" ucap Crystal pada Tante Ningsih.


"Silakan Nduk!" tukas Tante Ningsih.


Crystal pun menerima telepon.


"Ya Mas? masih di kantor?" / Crystal.


"Aku sudah di rumah! sayang di mana?" / Nervan.


"Loh Mas, sudah pulang? tumben! ini masih siang juga."/ Crystal.


"Sayang di mana? please cepat pulang! aku butuh kamu." / Nervan.


"Kamu sakit Mas? koq terdengar tidak bersemangat?"/ Crystal.


"Aku butuh kamu! cepat pulang sayang!"/ Nervan.


"Baik Mas! setelah membeli kue, aku langsung pulang!"/ Crystal.


"Baik Mas!"/ Crystal.


Sambungan telepon pun berakhir. Pesanan makanan juga sudah tiba. Crystal serta Ningsih segera menyantap hidangan di meja.


"Mas Nervan kenapa ya Tan! koq aneh begitu." Crystal membuka percakapan di sela-sela makan nya.


"Aneh?" Tante Ningsih malah balik bertanya, ia tidak mengerti maksud dari perkataan Crystal.


"Itu loh Tan! siang begini Mas Evan, sudah pulang kantor! Lalu telepon Aku dan menyuruh aku cepat pulang! nada suara nya, sedang tidak bersemangat sekali." sedikit nada khawatir dari Crystal.


"Walah! Evan tuh manja loh Cysa! kalau dia begitu, sudah ndak aneh, Wis lah! Paling juga dia butuh perhatian dari kamu. Karena Mami nya, sekarang masih belum pulih betul, jadi manja-manjaan nya pindah deh ke kamu tuh, sebagai Istri nya. Tante wis hafal betul kelakuan suami mu. Dia itu sifatnya manja." Ujar Tante Ningsih.


"Seperti itu ya Tante! Baiklah, Cysa bawakan makanan saja untuk Mas Evan! siapa tahu mood nya kembali membaik."


"O ya bagus iku! kepiting lada hitam. Tongseng dan nasi kebuli! itu pavorit Evan." ucap Tante Ningsih.


"Terima kasih Tante! sudah memberitahu Cysa, apa makanan pavorit Mas Evan." ucap bahagia Crystal sembari merangkul Tante Ningsih.


"Sama-sama. Yo wis iki makan nya wes ente!"


"Baik Tante! biar aku bayar sekalian pesan makanan untuk Mas Evan." setelah Tante Ningsih mengangguk dengan tersenyum. Crystal membayar makanan nya, lalu memesan makanan untuk Nervan.


Akhir nya Setelah dari tempat makan, lalu mereka mengarah ke pasar tradisional. Maka Setelah semua barang yang dibutuhkan didapat, Crystal dan Ningsih pun bergegas untuk pulang.

__ADS_1


"Sudah semua kan Tan?" tanya Crystal, saat sedang menaruh barang barang di bagasi mobil.


"Sudah Nduk! mari pulang." Balas Tante Ningsih sembari membantu Crystal menutup pintu bagasi mobil.


Saat mereka tengah asyik berbincang dan hendak masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba saja beberapa orang berbadan kekar dan berpakaian kemeja serba hitam, menghampiri Crystal.


"Nona Crystal!"


Sapa salah satu dari enam pria tersebut. Crystal yang hendak masuk ke bangku kemudi pun menoleh. "Para Bodyguard Papi!"


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung Crystal berpacu lebih cepat dari sebelumnya.


"Maaf! seperti nya Anda salah orang." ucap angkuh Crystal.


"Tidak mungkin! Anda Nona Crystal Lunara Ryzer. Saya tahu itu! silakan ikut kami Nona!" ucap pria lain nya.


"Cysa, siapa mereka?" tanya Tante Ningsih dengan tidak mengerti.


"Aku tidak tahu tante!" jawab Crystal.


"Nona! bekerjasamalah dengan kami. Jangan sampai, kami melakukan pemaksaan untuk membawa Anda pulang!" Pinta pria yang lainnya.


"Saya sudah katakan! Anda-anda ini salah orang!" ucap sarkas Crystal. " Tante, cepat masuk mobil! jangan pedulikan orang-orang ini." pekik Crystal kepada Ningsih lebih seperti memerintah nya. Ningsih pun menuruti nya.


"Nona! tolong jangan buat kami melakukan kekerasan atau hal lain untuk membawamu Kembali ke rumah. Papi Anda berharap saat kembali dari luar negeri, Anda sudah berada di rumah Nona." ucap lantang laki-laki lain nya lagi.


Ternyata mereka adalah para bodyguard yang Papi Nervan utus untuk mencari Crystal.


Masuk ke dalam pusat perbelanjaan adalah kesalahan untuk Crystal. karena para bodyguard Papi nya, menyebar di beberapa titik pusat perbelanjaan dan tempat hangout lain nya. sepertinya mereka memang sudah mengikuti Crystal dari tadi. Dari sejak Crystal menginjakkan kaki di pusat pembelajaran tersebut.


"Saya tidak akan pulang! hingga Papi saya sendiri yang menemukan saya dan membawa saya pulang! tolong katakan itu pada beliau." ucap lantang Crystal dengan mimik wajah yang angkuh.


"Tidak bisa Nona! Baik! kalau begitu kami akan melakukan cara yang pernah kami lakukan kepada Nona sebelum nya. Untuk membawa Nona kembali ke rumah." ucapan Bodyguard yang pertama bicara.


"Hei! satu langkah lagi kalian maju! aku pastikan, kalian akan pulang dengan cara merangkak!" ancam Crystal dengan berani. Bayangan nya akan pembiusan itu berputar di kepala nya.


"Tolong bekerjasama lah dengan Kami, Nona! kami hanya menjalankan tugas dari Ayah Anda!" ucap Bodyguard lain nya.


"Cuih! karena uang! berapa Papi ku membayar kalian? aku akan membayar lebih dari yang Papi kasih!" ucap lantang dan geram Crystal.


"Ini bukan masalah bayaran kami Nona! namun loyalitas kami sebagai pekerja Ayah Anda." jawab si Bodyguard lain nya lagi.


"Heh! loyalitas. Hebat juga yah Kalian, dapat sebegitu tunduk nya kepada Papi." Cibir Crystal.


"Cepat! kalian bawa paksa saja Nona ini! sepertinya kita tidak dapat bernegosiasi lagi." perintah sang Bodyguard yang sepertinya memang ketua nya dari para Bodyguard itu.


"Tidak! hentikan langkah kalian! jangan kurang ajar kalian, Aku tidak mau pulang!" Pekik Crystal saat mereka mencoba meraih nya.


"Tante tolong!"

__ADS_1


"Cysa!" pekik Tante Ningsih.


Bersambung ....


__ADS_2