
Crystal yang merasa penasaran pun menyudahi aktivitas me-makeup diri. Ia bergegas ke ruang tamu.
"Kak Zafier...!"
pekik kegirangan Crystal, saat dia melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam rumah mereka. Ya, itu zafier kakaknya.
Berbagai pertanyaan menggelayuti benak Crystal, koq bisa Kakaknya sepagi ini sudah ada di rumahnya? lalu tadi dia menelpon? dan kapan Kakaknya kembali ke Indonesia.
Crystal langsung memeluk Zafier, menumpahkan segala kerinduan pada Kakak satu-satunya itu. Zafier pun menyambut pelukan Crystal dengan tersenyum bahagia.
"Kak! apa kabar? kapan Kakak Pulang, loh tadi kakak kan menelpon. Lalu... saat ini Kakak sudah berada di rumah kami?"
"Sayang... beri kesempatan untuk Kak Zafier duduk doang, koq langsung di brondong pertanyaan begitu!" tegur lembut Nervan.
"Hehe ia Mas, maaf!" cengir Crystal masih bergelayut manja di lengan Zafier.
"Kakak baik Dek, kamu apa kabar? ini keponakan Kakak, sudah nampak besar ya?" tanya Zafier sembari mengelus perut buncit Crystal.
"Ia Kak! apalagi dipompa terus hampir setiap malam," tunjuk Crystal dengan dagu ke arah Nervan.
"Sayang!" protes manja Nervan karena malu, kok bisa Crystal se-vulgar itu terhadap Kakaknya.
"Ahahaha, maaf Van! biasa, dia memang begitu. Akan selalu terbuka hal apapun terhadapku!" Zafier mengerti akan keresahan di wajah Nercan saat Crystal membuka aib-nya.
"Ah iya Kak! oh ya, mari duduk," tawar Nervan.
"Terima kasih. Maaf ya, pagi-pagi sudah mengganggu kalian," ujar Zafier sembari duduk di sofa.
"Tidak mengapa Kak! kami senang koq Kak Zafier bertandang ke rumah kami." balas Nervan dengan ikut bergabung duduk di sofa.
"Kakak, kapan pulang ke Indonesia?"
tanya kristal
"Dari dua hari yang lalu Dek! akan tetapi rasanya Kakak lelah banget, makanya belum sempat menghampiri kamu. Tadi kakak menelpon, takutnya kamu enggak ada di rumah. Tapi Kakak menelpon sudah ada di depan pintu pagar, ya sudah masuk saja saat Kakak melihat masih ada mobil di dalam sini." terang Zafier.
"Oh seperti itu, Kak!" balas Crystal.
"Ia, kakak hanya ingin memberitahukan. Bahwa Papi sama Mami sedang dalam perjalanan pulang, mungkin sore ini mereka sampai di Indonesia," ujar Zafier.
"Papi dan Mami pulang Kak?" tanya Crystal nampak terkejut.
"Ia, Kakak yang memaksa mereka pulang. Keterlaluan sekali, mau sampai kapan keliling dunia seperti itu, anak sudah tidak dipedulikan lagi." ucap Zafier dengan menghela napasnya pelan.
"Cysa pun sedih Kak! ingin sekali menemui mereka. Namun, bagaimana? walaupun kami dapat menyusul mereka, akan tetapi mereka seperti hidup nomaden, sudah seperti orang yang tidak memiliki rumah ataupun anak. Sebetulnya apa yang mereka cari? aku tidak mengerti." ujar Cysa dengan nada kesedihan.
__ADS_1
"Sudahlah Dek, kakak hanya ingin menjaga kamu dari kemurkaan Papi nantinya, Kakak hanya ingin memberitahukan, agar kalian berdua siap dengan hal buruk apapun yang akan terjadi, setelah Papi kembali." Zafier memperingatkan Crystal dan Nervan.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung Nervan dan Crystal berpacu lebih cepat. Mendengar perkataan Zafier.
"Hal buruk apa kak?" tanya Nervan.
"Aku nggak bisa memprediksi! akan tetapi, mengingat orang tua kita pernah ada konflik sebelumnya dan nanti saat Papi tahu, kamu menikahi Putrinya, aku sudah tidak bisa jamin, rumah tangga kalian akan baik-baik saja."
"Maka dari itu, sekarang aku hanya ingin peringatkan, agar kalian siap dan jangan ter-provokasi dengan perlakuan Papi." Ujar Zafier kembali.
"Tetaplah menjadi diri kalian, pertahankan rumah tangga kalian, please! aku mohon Van, jaga Crystal, bahagiakan dia," ucap Zafier penuh dengan permohonan.
"Pasti Kak! Evan akan menjaga dan membahagiakan Cysa! Evan minta maaf untuk kelakuan Evan sebelumnya. Evan janji tidak akan pernah menyakiti Crystal lagi," janji Nervan.
"Terima kasih Van! aku tahu, kamu memang orang baik. Terlebih saat sekarang kamu pasti sudah tahu, bahwa kamu adalah pangeran penyelamatnya Putri Luna, ia kan Van?"
"Ia Kak! aku sudah tahu," jawab Nervan.
"Kalian tenang saja, kakak yang akan membantu menyatukan kalian kembali. Untuk saat ini Kakak bukan menakuti kalian, Kakak hanya ingin memperingatkan itu saja! agar kalian tidak terkejut nantinya. Cepat atau lambat, Papi pasti akan mengetahui siapa yang menjadi suami kamu Dek!"
"Loh sampai segitu serius Kak?" tanya Crystal dengan raut wajah khawatir.
"Yups!"
Crystal nampak berpikir. Ia saling menatap dengan Nervan. Seolah dalam hatinya masing-masing bicara 'apa yang harus kita lakukan?'
"Yang pasti, Papi akan tahu siapa yang menjadi mertua mu! walaupun mereka sudah melupakan konflik masa lalu, akan tetapi... tetap saja Papi sepertinya masih menyimpan dendam terhadap Om Aarlic." terang Zafier, yang di maksud Om Aarlic itu adalah Papi Nervan yaitu Aarlic Skyner.
"Baiklah, terima kasih Kak! Kakak sudah banyak menolong kami." ucap Nervan.
"Aku akan melakukan hal terbaik untuk Adik kesayangank ku. So... jika kamu menyakitinya kembali, siap-siap saja mendapatkan kesulitan dariku!" ucap Zafier pelan namun, penuh penekanan dengan tatapan tajam ke arah Nervan.
Nervan tersenyum getir, dengan menelan kasar Saliva-nya. "Kakak, Koq jadi ngancam Mas Evan sih?" protes Crystal.
"Bukan ngancam Dek! hanyalah memberi peringatan, agar suamimu tidak membuat kesalahan lagi. Ngerti Adikku, Sayang...?" tanya Zafier dengan mengacak gemas rambut Crystal.
"Iya deh!" balas Crystal dengan cemberut, ia belum terima jika Kakaknya selalu menyempatkan ancaman di saat mereka mengobrol.
Zafier mengekeh menyaksikan sang Adik merajuk, baginya Crystal masih adik kecilnya, walupun saat ini sudah mau memiliki anak kecil.
__ADS_1
"Sudah Sayang," bujuk Nervan dengan senyuman yang membuat Crystal mengiyakan. "Mas Evan faham koq," sambungnya.
"Baiklah! Mas, aku tadi sedang sarapan, Mas sudah makan? Kalau belum, mari sarapan bersama ku sekalian," ajak Nervan menormalkan suasana.
"Kebetulan nih aku belum makan, boleh Van." Zafier menerima ajakan Nervan dengan antusias. Nervan pun mengangguk dengan senang.
Akhirnya kakak ipar dan adik ipar itu menuju ruang makan dan Nervan menjelaskan, bahwa Crystal tidak dapat makan bersama mereka, karena timbulnya ras mual jika melihat makanan di pagi hari.
Beruntung Crystal masih mau menyiapkan makanan walaupun dengan mual yang ia tahan.
***
hari-hari berlalu dengan kebahagiaan untuk Crystal dan Nervan. Terlebih kehadiran sang Kakak yang kerap kali menemani mereka. Setidaknya kebahagiaan Crystal kembali, setelah sebelumnya kehilangan semua itu dari orang tuanya.
Semakin hari perut Crystal semakin membesar. Orang tua Crystal pun menurut Zafier memang sudah pulang ke kediamannya. Akan tetapi, sebisa mungkin Zafier masih menyembunyikan Crystal, sembari mencari cara untuk mempertemukan mereka tanpa membuat Ayah-nya marah.
Hari ini Nervan tidak ke kantor, ia sudah mulai menemani Crystal di rumah. Rendra dan Rendy yang akan menghampirinya untuk masalah pekerjaan.
"Sayang, nanti malam Kak Zafier mau ngajak kita makan malam di luar, sama Papi dan Mami Mas Evan juga, katanya merayakan ulang tahun dia." ucap Crystal saat ia sedang ber-manjaan dengan Nervan di sofa ruang televisi.
"O yah! lalu bagaimana dengan orang tua mu? apakah mereka akan ikut serta?" tanya Nervan, tangan kanannya sibuk mengelus perut buncit Crystal.
"Kurang tahu Mas, sepertinya tidak! menurut Kak Zafier, ia belum menemukan cara yang terbaik untuk mempertemukan kita dengan Papi dan Mami, mungkin ia khawatir Mas, Papi akan langsung memisahkan kita, begitu tahu siapa yang menjadi suami aku." jawab Crystal.
"Maafkan aku sayang!"
"Mas...tidak perlu minta maaf. Ini bukan kesalahan mu, kita menikah itu karena takdir. Hanya saja, takdirnya begitu unik! tidak seperti kebanyakan pengantin, melamar di hadapan orang tuanya, lalu menikah disaksikan kedua orang tuanya. Akan tetapi, aku senang koq! mendapatkan suami sebaik kamu," puji Crystal.
Nervan hanya tersenyum bahagia namun, dia tidak mau terlarut oleh sanjungan Crystal. Maka dari itu, Nervan berusaha mencairkan suasana, dengan menjahili Crystal.
"Kalau sudah begini, bisa dikatakan baik, atau tidak Sayang?" tanya Nervan saat tangannya yang sedang mengelus perut Crystal malah beralih ke bawah perut Crystal.
"Aw! Mas..." pekik Crystal karena terkejut.
Nervan hanya tersenyum jahil. Setelahnya Nervan menjahili Crystal dengan menaikkan kadar asmara mereka. Yaitu kembali menyatukan Dek Jhon dan Nduk Jhen.
Namun, di saat suasana mulai panas. Nervan dan Crystal yang sedang asik dengan suasana erotis mereka. Terganggu oleh suara bel dan ketukan pintu berkali-kali di luar rumah.
"Arrrgg.... pasti Upin, Ipin dan Apin! gak ngerti sikon." geram Nervan.
"Aahaahahah, Mas lucu!" Crystal malah tertawa, melihat wajah memerah sang suami. Antara menahan amarah karena merasa terganggu dan menahan Ambyar-nya Dek Jhon yang sudah mau sampai di tujuan. Namun, harus istirahat karena terpaksa.
Bersambung...
Bersambung...
__ADS_1