
"Stop!"
Suara lantang seorang pria menghentikan pernikahan tersebut. Otomatis ucapan qobul dari Gibran pun terhenti. Itu adalah Zafier.
"Zafier ...." gumam Papi Harsyal, tatkala ia menoleh dan siapa yang ia lihat, sedang berdiri tegak di ambang pintu kamar hotel.
"Mau apa kamu?" tanya Papi Harsyal.
"Menghentikan pernikahan ini!" seru Zafier lantang dan segera berjalan
"Apa-apaan kamu?" bentak Papi Harsyal dengan berteriak di hadapan Zafier.
"Apa-apaan, kata Papi?" tanya balik Zafier, "Papi tuh yang apa-apaan? anak sudah memiliki suami, mau dinikahkan lagi. Tak berperasaan!" sentak Zafier, sudah tidak ada rasa hormat. Suasana tegang baru saja terjadi di kamar hotel tersebut.
"Bukan urusanmu!" tunjuk Papi pada Zafier.
"Tentu saja menjadi urusanku! aku berhak menyelamatkan adikku, dari kedzoliman Ayahnya sendiri." ujar Zafier.
Nervan melangkah maju, kini ia berdiri sejajar dengan Zafier, nampak angkuh. Crystal yang melihat suaminya sudah berada di tempat itu, ia begitu sumringah.
"Mas ... Mas Evan!" Crystal berlari dan menubruk tubuh Nervan, memeluknya erat.
"Sayang!" Nervan membalas pelukan Crystal. "kamu baik-baik saja kan? maafkan Mas, karena tidak menyelamatkan kamu dari kemarin. pergerakan ku terbatas, karena Papi mu memperketat penjagaan."
"Aku baik Mas! aku baik-baik saja. Tidak mengapa, yang terpenting saat ini kamu berhasil menggagalkan acara pernikahan konyol ini." Setelah mendongak sejenak menatap wajah Nervan, kini Crystal kembali memeluk suaminya.
Kemudian Crystal tergugu dalam isak tangis ringan, di dalam pelukan Nervan. Ia merasa lega, merasa terselamatkan, merasa bahagia, karena suaminya sudah ada di tempat itu, dan kini sedang memeluknya.
"Saya rasa pernikahan ini tidak sah! Adik saya ini sudah memiliki suami! dan suaminya tidak mengizinkan dia menikah kembali." Ucap lantang Zafier kemudian menunjuk ke arah penghulu dan yang diperkirakan sebagai para saksi.
"Bohong! dia hanya suami pura-pura." Papi Harsyal masih berusaha mematahkan omongan Zafier.
"Pernikahan mereka sah secara agama dan hukum. Walaupun adik saya menikah tanpa sepengetahuan Papi saya, karena waktu itu sedang luar negeri dan tidak kembali dalam waktu cukup lama. Maka semuanya sah mengacu pada undang-undang pernikahan wanita di atas 21 tahun boleh menikah tanpa sepengetahuan ayah, jika sang ayah tidak hadir, tidak ada ditempat dan berjauhan."
Dengan lantang, Zafier menjelaskan tentang pernikahan Crystal dan Nervan, sembari mengulurkan berkas pernikahan Crystal dan
Nervan ke arah para penghulu dan saksi.
Penghulu dan saksi serta beberapa orang lain yang ada di tempat itu ikut memeriksa keabsahan berkas-berkas pernikahan Crystal dan Nervan. Pada akhirnya mereka manggut-manggut, menandakan bahwa pernikahan itu memang betul-betul sah di mata hukum dan agama.
Beruntung setelah pernikahan dadakan pada malam itu, Nervan melalui Rendra segera mengurus legalitas surat-surat pernikahannya bersama Crystal. Ia telah memprediksi akan terjadi kekacauan di suatu hari nanti.
"Papi! sadar Pih! tolong terima pernikahan Cysa dan Nervan." Bujuk Zafier.
"Tidak! bagaimanapun Papi tidak merestui pernikahan itu dan Papi akan tetap menikahkan Crystal dengan Gibiran." Papi Harsyal masih pada pendiriannya.
__ADS_1
"Pih, please! jangan egois. Papi tidak tahu saja, Papi itu sudah menjadi sasaran empuk target penipuan mereka, pikiran papi ke mana sih ini?" tanya Zafier kembali, ia menatap Papinya tanpa segan. Namun, lembut.
"Ini semua bukti, kalau mereka sudah menipu Papi dan mencurangi Papi di belakang, setelah pernikahan ini berlangsung, mereka akan menguasai Papi dan menjadikan Papi mesin penghasil uang. silakan Papi lihat!" ujar Zafier sembari menyodorkan berkas-berkas yang ia bawa dari tadi.
"Jangan mengada-ngada kamu." Papi Harsyal malah menunjuk Zafier dengan geram. Ia tidak mau meraih kertas-kertas itu.
"Baik! kalau Papi sudah tidak percaya padaku lagi. Maka Papi siap-siap kehilangan kami semua, silakan Papi hidup sendiri, hingga akhir hayat Papi." ancam Zafier.
"Jangan sembarangan kamu! dengan manuduh kami, telah berbuat curang dan menipu ayah kamu." kali ini Gibran mulai maju, ia mencari tameng untuk dirinya demi menyelamatkan namanya dan tentu menyelamatkan pernikahan dengan Crystal demi menguasai Papi Harsyal.
"Apa yang sembarangan? bukti sudah ada di tanganku! siap-siap kamu berurusan dengan hukum setelah ini." ucap Zafier dengan berani.
"Aku tidak takut! Aku tidak salah. Kesalahan ku tidak menikahi adik mu dari kemarin-kemarin, biar tahu rasa kamu!" balas Gibran dengan percaya diri.
"Hahahaha, dibayar berapa kamu sama Papi? hinggak kamu mau menikahi adik saya, yang jelas-jelas sudah punya anak dan suami. Kecuali memang kamu mempermainkan Papi, dengan permainan licik mu."
"Aku mencintai Crystal, maka dari itu, aku mau menikahinya! tidak peduli dia memiliki anak dan memiliki suami atau tidak. Aku tidak peduli. Camkan itu!" lantang Gibran.
"Hesh, bulshit! itu karena harta Papi dan Cysa yang kau incar." cibir Zafier.
"Diam!" sepertinya Papi Harsyal mulai pusing melihat pertengkaran putranya dengan sang calon menantu. Papi Harsyal meraih berkas-berkas dari tangan Zafier dengan kasar. Lalu ia membukanya dan memeriksa isi dari berkas-berkas tersebut.
Cukup lama Papi memeriksa satu persatu berkas-berkas dalam dokumen tersebut, kemudian dahinya mengkerut seperti ada yang sedang di pikirkan dan terakhir matanya terbelalak seperti ada yang membuatnya terkejut.
"Apa ini?" Papi Harsyal membalikan tubuhnya menghadap ke arah Gibran, lalu ia melemparkan dokumen itu ke tubuhnya.
Tentu saja, Zafier merasa menang, sepertinya Papinya sudah paham dengan isi dokumen tersebut.
"Ma-maksud Om apa?" Gibran tergagap, lalu ia mengambil dokumen yang sudah berserakan di lantai.
Orang tua Gibran mulai mendekat dengan wajah panik. Nervan dan Zafier saling pandang, mereka tersenyum di ujung bibir, sepertinya ini tanda keberhasilan untuk mereka.
"Tidak perlu bertanya lagi, bajingan! kau pasti sudah tahu, walaupun kau tidak melihat isi berkas tersebut." teriak Papi Harsyal.
Isi dokumen yang diserahkan zafir pada Papi Harsyal adalah, sebuah surat pengalihan kekuasaan perusahaan yang di Swiss. Pengalihan beberapa saham atas nama Crystal menjadi atas nama Gibran. Itu berarti dia tinggal ongkang-ongkang kaki dan mendapatkan uang. sedangkan yang bekerja keras adalah Papi Harsyal.
Nanti di Swiss sepertinya Gibran akan menikmati hasil menipu Papi dengan menggunakan Crystal sebagai tameng penghasilan berikutnya, karena semua aset perusahaan dan pribadi di Swiss atas nama Crystal. Sedangkan Zafier memiliki aset kepemilikan yang di Jakarta dan di Jepang.
Akan tetapi Zafier memberikan seperempat kepemilikannya yang di Jakarta kepada Crystal. Baik dalam bentuk aset bergerak atau tidak, maupun saham perusahaan.
"Ini salah paham. Ini pasti fitnah!" orang tua Gibran membela sang putra.
"Diam kalian. Aku tahu, ini semua juga perbuatan kalian. Dasar sampah! satu keluarga sudah bersekongkol untuk menipuku!" teriak Papi.
"Om! ini tidak seperti yang Om lihat! pasti Zafier telah membuat dokumen palsu yang membuat Seolah-olah saya menipu Om!" Ujar Gibran mencoba membalikan fakta.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Putra Saya mengada-ngada hanya untuk menjatuhkan kamu? cuih, saya tahu Putra saya sejahat apapun Saya dan sebejad apapaun dia, maka kami tidak akan pernah melakukan hal kotor untuk menjatuhkan orang lain dengan bukti palsu. karena saya mendidiknya dari kecil hingga saat ini untuk tidak berbuat curang." Papi Harsyal nampak emosi.
"Ma-maksud saya ...."
"Cukup! menyerah saja, akui perbuatan kalian. Saya sudah muak dengan kalian. Kalian telah menghianati kepercayaan dari saya."
Bugh ...
Bugh ...
Karena emosi dan Gibran terlalu berbelit-belit. Akhirnya Papi Harsyal melayangkan pukulan ke wajah Gibran.
"Pih, Papi cukup! biarkan pihak berwajib yang menanganinya jangan kotori tangan Papi dengan menyentuh orang itu walaupun memukul," bujuk Zafier pada akhirnya.
Posisi Crystal, saat Papinya memukul Gibran, ia membenamkan wajahnya di dada Nervan. Gibran terhuyung kebelakang, sembari memegangi wajahnya yang di bogem Papi Harsyal, lalu ayah Gibran menangkapnya.
"Hei jangan aneh-aneh Anda!
Putra saya tidak memiliki salah apapun!" pekik lantang ayahnya Gibran.
"Lalu apa isi dari berkas-berkas itu? dan siapa yang melakukannya? itu tanda tangan siapa? bukankah itu tanda tangan kalian?" sentak Papa Harsyal.
"Kalian sudah membodohi Aku. Meminta tanda tangan ku dengan alasan berkas-berkas pernikahan. Brengsek kalian!" tandas Papi Harsyal.
Bugh...
Bugh ...
Bugh ...
Kali ini Papi Harsyal melayangkan bogemnya kepada ayahnya Gibran. Ibunya Gibiran berteriak memohon agar Papi Harsyal menghentikan pukulannya.
Nervan dan Zafier melengkungkan senyumnya dengan penuh kemenangan, sambil saling melirik.
"Pih sudah Pih!" Zafier menenangkan sang Papi.
Nervan segera menghubungi orangnya, is mempersilahkan para polisi yang sudah datang di lantai bawah, untuk menaiki lantai tiga menuju kamar hotel tersebut.
Tidak berapa lama, polisi berdatangan dan langsung meringkus Gibran serta orang tuanya, karena mereka terlibat di dalam melakukan penipuan terhadap Papi Harsyal.
"Lepas, saya tidak bersalah." Gibran dan orang tuanya berusaha melepaskan diri dari polisi.
"Tenang saudara, kalian bisa menjelaskannya di kantor. Sekarang ikut kami, jangan memberontak!" tegas polisi tersebut.
Akhirnya Gibran dan orang tuanya digelandang oleh Polisi dibawa ke kantor Polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut dari laporan Zafier tadi.
__ADS_1
Bersambung ...