
Papi Harsyal menelpon Nervan, memakai telpon kantor. Setelah beberapa kali berdering, akhirnya Nervan menerima panggilan tersebut.
"Van ... ini Papi! di sini sedang ada mertua mu, ia mencari keberadaan Crystal yang katanya di bawa pergi oleh mu!" ujar Papi Aarlic.
"Oh begitu Pih! mana mungkin." suara Nervan dan langsung menyangkalnya.
"Kamu di mana sekarang?" tanya Papi Aarlic.
"Seperti yang Papi tahu, kemarin Evan pergi ke mana." suara Nervan.
"Baik! jangan bohongi Papi!" seru Papi Aarlic dengan nada mengancam.
"Mana berani Papi, Sayang!" suara Nervan terdengar menggemaskan.
Sambungan telepon pun berakhir. Papi Aarlic menghampiri Papi Harsyal. "Kamu dengar sendiri kan, Syal?" tadi telepon di loud speaker oleh Papi Aarlic, agar Papi Harsyal mendengar percakapan antara dirinya dan Nervan.
"Jawaban anak mu terdengar meragukan!" seru Papi Harsyal dengan ketus.
"Ayolah Syal, coba tanyakan pada anakmu. Mungkin zafier yang tahu Cysa kemana. Tidak mungkin lah anak ku, berbohong." Papi Aarlic mencoba meyakinkan Papi Harsyal.
"kita lihat saja, siapa di sini yang berbohong! jika terbukti anak mu membawa lari anak ku, dia akan tahu akibatnya!" Dengus Papi Harsyal.
"Sudahlah Syal! anak-anak kita saling mencintai. Cobalah menerimanya. Aku minta maaf, atas kesalahan di masa lalu, tolong maafkan aku! maafkan keluargaku. mohon terima anak ku sebagai menantu mu." Papi Aarlic mengiba.
"Jangan harap!" Papi Harsyal berdiri dari duduknya, lalu ia berbalik dan berjalan menuju pintu.
"Syal minum dulu lah, kita ngobrol sebentar," pinta Papi Aarlic.
"Tak sudi, aku mengobrol sama kamu, pembunuh!" ucap Papi Harsyal terdengar nada kebencian.
Papi Aarlic menegang di tempatnya, berdiri mematung tanpa ekspresi, ketika Papi Harsyal mencetuskan kata 'pembunuh' untuknya.
"Ma-maksud kamu apa, Syal? siapa yang kamu sebut pembunuh? aku tidak merasa membunuh siapapun!"
"Ayahku yang kau bunuh! walaupun tidak secara langsung." Tuduhan itu meluncur begitu saja dari Papi Harsyal.
"Syal! tolong jangan perlakukan aku seperti ini. Mari bicara baik-baik, aku kan sudah pernah menjelaskan semuanya. Bahwa aku pun habis-habisan waktu itu. Aku telah mengembalikan seluruh kerugian mu. Bahkan aku masuk bui atas tuduhan yang tidak ku lakukan."
Papi Aarlic berusaha mengambil simpati Papi Harsyal. Dan memang begitu kenyataannya.
"Aku tidak percaya lagi terhadap mu! apapun itu." Papi Harsyal betul-betul keluar dari ruangan tersebut.
Papi Aarlic berusaha mengejar. Namun, para orang Papi Harsyal menahannya. Akhirnya Papi Aarlic hanya mampu diam dengan dada bergemuruh karena rasa bersalah.
Dahulu saat mereka masih sama-sama akrab dan merintis usaha bersama ketika tinggal di Bandung. Semua berjalan baik. Bahkan Crystal kecil begitu lengket dengan Nervan, layaknya Adik dan Kakak. Walaupun Crystal menganggap bahwa Nervan adalah Pangeran penyelamatnya.
Suatu hari takdir harus berubah. Hanya dalam kurun waktu dua bulan, semua lenyap. Harta Papi Harsyal dan persahabatan mereka harus kandas akibat penipuan. Semua berawal dari seorang Investor dari negara sakura yang di bawa oleh Papi Aarlic.
Pada awalnya semua berjalan baik dan lancar. Akan tetapi makin ke sini orang itu pintar berkelit lidah dan merayu. Agar mereka masuk ke jaringan bisnis internasional dan harus menanam modal awal.
__ADS_1
Papi Harsyal dan Papi Aarlic percaya. Hingga mereka mempertaruhkan segala harta, karena tergiur akan keuntungan investasi bisnis tersebut. Akan tetapi, setelah semua harusnya berjalan baik. Mereka kehilangan investor tersebut tanpa jejak. Dan berita buruknya, semua modal investasi pun ikut raib tanpa bukti.
Dari sejak itu perusahaan gulung tikar, Papi Harsyal mengalami kebangkrutan dari berbagai bidang. Akibat hutang yang menumpuk. Pada akhirnya mereka terpisah. Bahkan Papi Aarlic sempat masuk bui atas tuduhan penipuan yang tidak ia lakukan. Karena ia pun sesungguhnya tertipu.
Pada akhirnya Papi Aarlic tetap bertanggung jawab dengan mengembalikan jumlah uang yang telah di gondol penipu dengan cara menutupi hutang Papi Harsyal, demi persahabatan. Akan tetapi di saat yang bersamaan. Ayah dari Papi Harsyal meninggal dunia dan Papi Aarlic serta keluarga tidak tahu penyebabnya, selain dari sebab sakit.
Hingga beberapa waktu kemudian mereka terusir dari rumahnya sendiri, karena Papi Harsyal yang merasa berhak atas rumah itu, mengambil hak atas rumah itu dengan alasan hendak di sewakan.
Pada akhirnya mereka kembali ke kampung halaman Ibu dari Papi Aarlic yaitu di Semarang. Karena Ayah dari Papi Aarlic adalah orang Singapura.
Dari situ pula semua berakhir. Bahkan persahabatan Nervan, Crystal dan Zafier pun harus berakhir. Akan tetapi, beberapa tahun lalu, entah bagaimana caranya. Nervan bisa kembali memiliki rumah yang di Bandung dengan cara membelinya.
Yang Papi Aarlic tahu, rumah itu sudah pindah kepemilikan dari Papi Harsyal, jadi Nervan bisa dengan mudah membelinya. Banyak kenangan indah di sana bagi Nervan. Salah satunya adalah tentang Crystal dan sebagai Putri Luna kala itu.
Kini Papi Aarlic mengerti, sepertinya Papi Harsyal mengira dia-lah di balik kematian Ayahnya. Maka dari itu Papi Harsyal begitu membencinya. Hingga saat ini.
Di kediaman Nervan,
"Mas, tadi siapa yang menelpon?" tanya Crystal saat Nervan baru kembali dari toilet.
"Papi ku, Sayang! katanya Papi mu sedang ada di kantornya. Mencari keberadaan mu," jawab Nervan.
"Ya ampun, Mas! jangan-jangan Papi membuat keributan di sana." pekik Crystal karena terkejut.
"Tidak tahu, Sayang! semoga saja tidak." Nervan kembali ke tempat tidur dan memeluk Crystal, mereka kembali melanjutkan tidur siangnya.
Sudah hampir lima belas hari, Crystal tidak berjejak bagi Papi Harsyal. Bahkan Zafier tidak di ketahui keberadaannya. Padahal Zafier berada di apartemen sang Tunangan. Mereka sudah mulai mempersiapkan pernikahan.
Siang ini Zafier dan Verline berkunjung ke rumah Nervan. Mereka hendak merundingkan acara pernikahan. Karena Zafier dan Verline sudah mentok ide, padahal sudah ada WO. Akan tetapi ada beberapa hal yang harus mereka kerjakan sendiri.
Tanpa sepengetahuan Zafier. Mereka telah di buntuti para orang Papi Harsyal dari dua hari yang lalu. kesalahan Zafier, tiga hari yang lalu masuk ke kantor dan salah satu orang Papi Harsyal, melihatnya. Pada akhirnya Papi Harsyal, memerintahkan orangnya untuk mengikuti Zafier.
Zafier dan Verline di sambut baik oleh Nervan dan Cryrstal saat sudah sampai rumah Nervan. Mereka terlibat obrolan santai di ruang keluarga. Hingga beberapa saat kemudian teriakan lantang seseorang mengusik ketenangan mereka.
"Nervan, keluar kamu! kembalikan Crystal padaku!"
"Papi, Van!" pekik Zafier.
"Astagfirullah ...." ucap mereka serempak. Hingga terdengar kembali suara teriakan Papi Harsyal.
"Koq Papi bisa tahu ya, kami di sini?" tanya Nervan. Crystal memeluknya erat karena ketakutan.
"Mungkin ada yang membuntuti kami Van, saat menuju tempat ini," balas Zafier.
"Aku harus menghadapi Papi." Nervan berdiri dengan Crystal masih memeluknya.
"Aku ikut, Mas!" pinta Crystal.
"Tidak perlu, Sayang! kamu di sini saja."
__ADS_1
"Mas ...."
Teriakan Papi Harsyal Kembali mengejutkan empat orang yang berada di dalam rumah. Akhirnya Nervan keluar bersama Crystal yang memeluk lengannya. Begitu pun dengan Zafier dan Verline. Mereka ikut serta.
Nervan, Crystal, Zafier dan Verline sudah berhadapan dengan Papi Harsyal. "Oh, rupanya bersembunyi di sini!"
"Anak kurang ajar kau Fier!" tunjuk Papi Harsyal saat melihat Zafier yang juga ikut keluar dari rumah tersebut.
"Bukan begitu Pih ...." Zafier mencoba menjelaskannya.
"Diam! aku tidak peduli lagi padamu! Cysa mari pulang! bisa-bisanya kamu meninggalkan calon suamimu."
"Tidak mau! Cysa mau sama Mas Evan!"
"Pulang!"
"Tidak!"
Papi Harsyal mencoba menarik Crystal dengan kasar. Crystal berusaha mempertahankan diri.
Kali ini Nervan sudah kehilangan kesabaran. Ia tidak bisa begini terus, Crystal harus mampu ia perjuangkan.
"Cukup Om! Crystal istri saya dan kami akan tetap bersama." ucap lantang Nervan.
"Tapi dia anak ku dan aku tidak merestui pernikahan kalian!" teriak Papi Harsyal kembali dan ia mencoba meraih Crystal akan tetapi Nervan berusaha menghalangi.
"Kembalikan Putriku!"
"Tidak!"
"Kembalikan!"
"Tidak akan!"
Hingga momen merebut dan mempertahankan Crystal pun terjadi. Pada akhirnya Nervan dan Papi Harsyal terlibat baku hantam.
Wuzzz!
Bugh!
Papi Harsyal meninju Nervan dan Nervan bisa mengelak. Nervan dan papih Harsyal saling memukul pada akhirnya dan kini perkelahian itu sudah terjadi. hingga Nervan tersungkur karena tendangan Papi Harsyal dan Papi Harsyal yang melihat Nervan terjatuh, ia berusaha menarik Crystal dengan kasar. Namun,
Brak!
"Akh perut ku ...." Crystal jatuh di lantai carport rumah itu. Kini ia nampak meringis dengan memegangi perutnya.
"Sayang!" pekik Nervan.
"Ya ampun, Dek!" Zafier dan Verline terkejut. Mereka panik melihat darah segar keluar dan mulai merembes pada dress yang Crystal kenakan.
__ADS_1
Bersambung ...