Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
49. Sindrom Couvade.


__ADS_3

Nervan menghela nafasnya dalam. Ia tersenyum lalu berbicara dengan pasti.


"Iya Sayang, kamu adalah Putri Luna yang sudah aku cari selama ini. Kamu ingat? ketika usiamu tujuh tahun, aku pergi darimu. Kamu marah karena kamu pikir kami pergi meninggalkanmu begitu saja. Akan tetapi...rumah kami di sabotase Ayah mu dan setelahnya kami diusir dari rumah kami sendiri." ujar Nervan dengan beberapa tetes air mata.


Crystal diam sejenak. Ia mengingat kejadian belasan tahun silam. Setelah bertemu Nervan untuk pertama kalinya saat ia hendak jatuh ke danau.


Tanpa mereka sadari ternyata, Ayah mereka saling mengenal, Ayah Crystal dan Ayah Nervan teman dari kecil ketika sama-sama tinggal di Jakarta. Bahkan ada sebuah ucapan antara Nenek dan Kakek Crystal serta Nervan, jika anak mereka berlawanan jenis, maka mereka akan menjodohkan dan menikahkan Anak-anak mereka ketika besar.


Setelah masuk SMA, Ayah Nervan dan Ayah Crystal berpisah. Karena mereka sama-sama harus pindah akibat penggusuran lahan.


Setelah mereka berpisah, maka mereka tidak tahu lagi kabar satu sama lain, karena mereka pindah ke kampung mereka masing-masing. Ayah Nervan dan keluarga kembali ke Semarang, sedangkan Ayah Crystal kembali ke Bandung.


Crystal dan Nervan bertemu di Bandung kala itu. Mereka tengah liburan saat bertemu Crystal, karena Mami Nervan berasal dari Bandung. Namun, siapa sangka di Bandung itu mereka di pertemukan kembali.


Ayah Nervan dan juga Ayah Crystal tidak menyadari jika rumah Mami dengan rumah Ayah Crystal masih tetanggaan di sebuah kompleks di area perbukitan tersebut.


Singkat cerita mereka bertemu tanpa di sengaja, tentu saja Luna kecil amat bahagia karena bertemu kembali dengan pangeran penyelamatnya. Nervan datang menepati janji, walaupun tidak menaiki kuda putih, itu yang ada di dalam pikiran Luna kecil.


Sampai usia Crystal tujuh tahun, kebersamaan yang manis itu mereka lewati. Hingga suatu hari Nervan dan Keluarga menghilang raib bak di telan bumi. Crystal kecewa, ia berpikir Nervan meninggalkannya. Crystal benci Nervan, itu yang Nervan tahu dari teman SMP-nya. Karena kala itu Nervan masih duduk di bangku SMP ketika mereka terusir dari rumah mereka sendiri.


"Mas?" tersirat tanya di wajah Crystal.


Nervan mengangguk. "Iya ini aku," ucapnya, air matanya mulai berjatuhan tanpa basa-basi, Crystal langsung memeluk Nervan.


"Pangeran pelindungku, Pangeran Penyelamatku. betulkah ini kamu?" Crystal tergugu dengan tangisan di dalam dekapan Nervan.


"Kamu jahat Mas! kamu jahat! mengapa kamu meninggalkan aku?"


"Bukan aku Sayang! orang tua kita berseteru. Bahkan kami terusir dari rumah kami sendiri."


"Kamu kemana saja Mas? bertahun lamanya, aku menantimu Kembali di danau tempat kita awal bertemu. Tapi kamu tidak pernah kembali."


"Kami pindah ke Semarang, aku melanjutkan SMA di sana, Papi berulang kali bangkit untuk membangun usaha. Berulang kali juga gagal. Kehidupan kami makin sulit. Akhirnya Papi menjual aset kami yang di Semarang, kembali ke Jakarta dan bekerja sama dengan orang Arab. Memulai kembali pabrik garmen yang sempat terbengkalai. Akhirnya setelah banyak perjuangan, usaha Papi bangkit. Aku melanjutkan studi ke Melbourne. Setelah lulus ya aku kembali ke Jakarta dan di angkat menjadi CEO di perusahaan Papi hingga sekarang." Tutur Nervan.


Crystal dan Nervan kembali tergugu dalam tangisan. Pelukan keduanya makin erat. "Aku pernah dua kali ke tempat itu, aku pernah melihat mu sekali dan itu untuk terakhir kalinya. Maaf, aku terlalu pengecut untuk menemui mu." sambung Nervan lirih.


"Mas panggil aku Luna. Nama Putri Luna yang dulu sering kamu gaungkan dengan lembut dan indah."


"Pu-putri Luna. Lunaku!" ucap lembut Nervan.


"Mas...!"


"Pangeranku...!"


Crystal meralat kata-katanya, ia mendongak sejenak lalu ia kembali memeluk Nervan.


"Mas tahu dari mana kalau aku Luna?"


"Dari Papi ketika di Bogor."


"Aku melenyapkan Luna yang lembut saat aku mulai putus asa. Karena Pangeran ku tidak juga kembali. Maka aku harus melindungi diri sendiri. Aku Crystal aku Cysa yang kuat bukan Luna yang lemah. Dari situ aku mulai banyak berbuat nakal, Mas! itu bentuk pelarianku dari rasa kecewa. Namun, Mami dan Papi justru banyak mengurung ku dengan segala aturan." Tutur Crystal.

__ADS_1


"Kini aku sudah kembali. Aku akan menjagamu mulai saat ini. Ma'afkan aku Sayang!"


"Sudah Mas. Ini takdir, akan tetapi takdir jualah yang mempertemukan kita." ucap Crystal.


"Aku sempat beberapa kali ke rumah lama kita. Baik saat aku senggang atau saat aku meninjau pabrik Textile peninggalan Kakek. Akan tetapi...rumah itu selalu kosong."


"Setelah aku lulus Sekolah Dasar. Kami pindah ke Bogor, Mas!"


"Pantas saja rumah itu selalu nampak kosong. Bahkan saat aku ke Bandung tempo hari, aku kembali ke rumah itu. Aku menginap di rumah lamaku, makanya aku kehilangan signal karena di tempat itu hujan deras di barengi angin kencang, daerah tersebut mengalami kerusakan tower." sambung Nervan.


"Mas mencari aku?"


"Tentu, Sayang! ternyata yang aku cari berada di rumahku sendiri." Nervan mengekeh merasa lucu dipermainkan takdir.


"Kan kamu selalu bilang. Jika kita berjauhan tataplah langit gelap. Di dalam kegelapan ada satu atau dua bintang dan titik terang dari bintang itulah harapan, bahwa kami akan kembali bertemu. Aku sering melakukan itu dan aku percaya akan keajaiban Tuhan. Maka dari itu saat ini kita dapat bertemu kembali." ucap Crystal, Nervan mengangguk.


"Apakah kamu juga selalu memikirkan aku selama ini?" tanya Nervan.


"Iya Mas. Namun, sejak kehadiran Mas dalam hidup ku. Aku mulai bimbang, dengan mengharapkan bertemu kembali dengan pangeranku, atau mempertahankan kamu. Akan tetapi saat aku mengingat Pangeran ku yang keberadaannya entah di mana, maka aku makin menetapkan hati padamu." jawab Crystal.


"Terima kasih Luna ku, akhirnya kamu kembali dalam pelukan ku. Maafkan atas kesalahanku selama ini."


"Mas... aku sudah memaafkan mu, Pangeran penyelamat ku."


"Sayang, apakah kamu hamil? tanya Nervan. "Kata Rendra, keanehan yang terjadi padaku, bisa saja karena kamu hamil. Dan aku mengalami sindrom Couvade. Kamu yang hamil dan aku yang ngidam." sambungnya.


Crystal menatap Nervan dengan hangat. "Ya, aku hamil Mas, sudah mau dua bulan. Crystal berucap dengan pasti tanpa keraguan.


"Ia Mas... kamu akan menjadi Ayah, kamu akan memiliki Bayi."


"Ah..." Nervan diam sepersekian detik. Seakan ia tidak percaya.


"Mas...Mas," panggil Crystal.


"Sayang, terima kasih." Nervan kembali memeluk Crystal. Setelahnya ia mengelus lembut perut Crystal yang masih datar.


Lama mereka berpelukan hingga kini keduanya saling berciuman, melepas rasa rindu dan juga kesedihan selama ini.


"Mas, boleh melakukannya Sayang?" tanya Nervan saat mereka sudah berada di atas tempat tidur dengan bergumul gairah.


"Jangan kasar!"


"Tidak, Mas tidak akan melakukan hal bejad itu lagi."


Crystal mengangguk dengan senyuman. Setelah merasa mendapatkan persetujuan Crystal. Nervan menjelajahi tubuh Crystal dengan apik dan lembut. Sebisa mungkin Nervan mengikis trauma yang Crystal alamai karena ulahnya beberapa waktu lalu.


Kini Crystal lupa akan traumanya, semua trauma terganti kebahagiaan. Kamar tersebut akhirnya di penuhi suara erotis dari keduanya, karena Dek Jhon dan Nduk Jhen sedang main perang perangan.


Hingga hampir pagi, Nervan menganiaya Crystal tanpa lelah. Akhirnya di penghujung ronde ke tujuh, Nervan dan Crystal menyerah.


"Terima kasih Sayang!" ucap Nervan dengan mata sayu dan suara yang hanya terdengar bergumam.

__ADS_1


"Kembali Kasih, Mas!" hal yang sama dengan Crystal. Mereka hanya menutupi tubuh dengan selimut tanpa berbusana akibat kelelahan.


"I Love you Putri Lunaku." bisik Nervan.


"Love you too Pangeran penyelamatku." gumam Crystal namun, Nervan masih dapat mendengar dengan jelas.


Hingga pagi menyapa. Kesibukan nampak di dalam rumah tersebut. Namun, Crystal yang biasanya sudah keluar dan bergabung untuk sarapan bersama Mami dan Papi, tidak kunjung terlihat.


Mami dan Papi merasa Khawatir, sudah berulang kali Art rumah tersebut mengetuk pintu kamar Crystal, akan tetapi tidak ada jawaban. Ini yang terakhir tetap sama. Kamar Crystal terdengar hening.


"Maaf Bu, Pak! saya sudah mengetuk berulang kali. Akan tetapi, tidak ada sahutan dari kamar Non Cysa." laporan sang Art.


"Loh, tidak seperti biasanya?" ujar Mami.


"Ada apa dengan Cysa Mih? atau dia sakit?" tanya Papi.


"Entahlah Pih. Mari lihat saja Pih, sopan tidak ya? kalau kita buka paksa kamar Cysa?" tanya Mami.


Papi nampak berpikir sejenak, rasa khawatir menggelayuti pikirannya. "Ada kunci cadangan kan Mih?"


"Ada Pih di laci kamar kita."


Mami berjalan menuju pintu kamar Crystal dengan menggunakan kruk penyangga ketiak di buntuti sang Art. Sedangkan Papi menuju kamar mereka untuk mengambil kunci cadangan.


Setelahnya Papi keluar dengan membawa kunci cadangan. "Mih siapa yang buka?"


"Papi saja."


"Oke." Papi mulai membuka kunci namun, keras saat di putar. "Waah susah Mih!"


"Duh bagaimana ini?"


Cklek!


Tampa sengaja Papi menekan handle pintu. "Astaghfirullah, ternyata tidak di kunci Mih."


"Humm, Cysa teledor. Ya sudah, cepat periksa keadaan di dalam, Pih." pinta Mami.


"Baik Mih!"


Perlahan Papi membuka pintu kamar Crystal. Lalu ia membukanya lebar-lebar agar Mami dapat melihat ke dalam.


"Namun, ... Astaghfirullah'aladzim."


Ketiga orang yang berdiri di ambang pintu pun serempak ber-Istighfar melihat pemandangan di atas kasur, dua insan tengah terlelap dengan selimut menutupi sebagian tubuh atas Nervan, sedangkan Crystal tersembunyi di dalam pelukan Nervan dengan bagian pundak yang terlihat karena tidak tertutup selimut.


"Nervan... Crystal!"


Suara Papi menggema di dalam kamar. Hingga kedua insan yang sedang berpelukan dalam lelap dan berpolos ria itu bangun dengan terkejut.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2