
"Lepas! Mas, mau apa?" Teriak Crystal ketika sudah berada di dalam mobil dan Nervan tanpa basa-basi langsung memeluknya. Crystal memberontak dengan tubuh bergetar dan juga mata yang mulai memerah siap menangis. Crystal terkejut ketika tiba-tiba saja Nervan memeluk Crystal sedikit kasar.
"Hanya ingin kamu, Sayang! maaf." Nervan melepaskan pelukannya perlahan. Ia begitu tidak sabaran, wajar saja Crystal memberontak dan ketakutan.
"Tio! kamu membodohi dan mempermainkan, Mbak? jahat kamu Tio." teriak Crystal pada Satrio, lalu ia menangis dengan sedikit keras. Melepas rasa terkejut dan ketakutannya.
Beberapa menit yang lalu, Satrio meminta izin kepada orang tua Nervan untuk mengajak Crystal keluar, dengan alasan makan bersama Ibunya di sebuah restoran. Satrio meminta tolong kepada Ibunya, agar mau bekerjasama untuk menelpon orang tua Nervan, agar lebih meyakinkan. Bahwa ia ingin mengajak Crystal makan di luar.
Karena begitu meyakinkan, maka Crystalpun menyetujui dan orang tua Nervan pun mengizinkan Crystal untuk pergi bersama Ningsih.
Akan tetapi, Crystal amat terkejut, ketika ia masuk ke dalam mobil, di sana ada Nervan yang langsung memeluknya tanpa permisi. Tentu saja Crystal marah, ia merasa di permainkan Nervan dan Satrio.
"Ma-maaf Mbak! sungguh Tio minta maaf. Aku hanya ingin membantu Mas Evan." jawab Satrio sembari menoleh dari balik kemudi, nampak Satrio takut dengan kembali pada posisi semula dan duduk dengan gesture tubuh kaku.
"Membantu apa? membuat dia menang atas kesalahannya?" sarkas Crystal. Satrio sudah menduga kejadiannya akan seperti ini.
"Astagfirullah, Sayang! Tio tidak salah. Kalaupun kamu mau marah, maka lampiaskan padaku. Karena aku yang menyuruh Tio membawa kamu keluar. Saat ini, aku butuh kamu Sayang!"
Crystal hanyalah diam, ia masih menangis dengan pandangan ia arahkan keluar jendela. Ia amat enggan menatap Nervan. Nervan memberi kode pada Satrio agar segera menjalankan mobilnya. Satrio pun menurut dengan menjalankan mobil itu secara perlahan namun pasti.
"Izinkan aku meminjam kamu, hanya untuk malam ini saja. Please!" ucap Nervan pelan.
"Tio meminta izin pada Papi dan Mami agar kamu bisa pergi denganku. Aku pinjam kamu dari Papi dan Mami, satu malam ini saja. Tolong, Sayang. Tidak akan aku bawa ke tempat sepi koq. Aku mau bawa kamu ke tempat Tante Ningsih, aku hanya butuh dekat dengan mu!" ucap Nervan kembali penuh permohonan.
"Mas Evan Sakit, Mbak! dari tiga hari yang lalu. Ia mual dan pusing, tidak mau makan juga. Katanya hanya tubuh Mbak Cysa yang dapat menyembuhkannya dengan pelukan Mbak Cysa." Satrio ikut bicara.
Crystal sedikit menoleh, melirik wajah Nervan. Ia hanya ingin memastikan, apakah betul suaminya itu sakit?
Nampak Wajah lelah Nervan, Wajah tampan itu, tidak semulus biasanya. Bulu-bulu di wajahnya nampak mulai tumbuh, sepertinya ia malas bercukur. Padahal Nervan paling menjaga penampilan terlebih di area wajah.
__ADS_1
"Mau ya?" tanya Nervan kembali. Crystal masih diam dengan menggeser duduknya lebih jauh dari Nervan. Kini tubuhnya sudah amat mepet ke pintu.
"Sayang..." panggil halus Nervan.
"Aku takut!" lirih Crystal.
"Takut apa? ada aku, Sayang. Ada Tio."
"Aku takut padamu!"
Deg!
Nervan begitu terkejut. Istri yang ia cintai, takut padanya. Perasaannya kini terasa di cengkram, Nervan merasa serba salah. Ingin rasanya menangis, ingin rasanya menyerah dengan menyuruh Satrio kembali. Akan tetapi egonya tidak kuasa melakukan itu.
"Hegm..." Nervan menutup mulutnya. Kepalanya kembali pusing, mual juga mendominasi. Nervan mengambil Kresek yang tadi sempat jatuh, ia segera membentang kresek itu. Akan tetapi tidak nyaman kalau harus mengeluarkan isi perutnya di dalam kresek.
"Mpp, Ti-ooo." gumam Nervan dengan menepuk bahu Satrio yang berada di depannya.
"Tahan sebentar Mas, aku cari tempat aman untuk menepi." ujar Satrio, ia mengamati sekitar, mencari tempat untuk menepikan mobilnya.
Akhirnya mobil menepi. Nervan keluar dari mobil setengah berlari, menuju sisi kiri mobil, ia membungkuk di dekat Ban mobil dan mengeluarkan seperti cairan, karena Nervan belum mengisi perutnya dengan makanan dari setadi.
Dengan sigap, Satrio mengikuti Nervan. Ia membawa tisu dan juga sebotol air mineral. Crystal mengamati mereka berdua dari dalam, melalui kaca mobil bagian depan. Nervan masih membungkuk dengan Satrio memijit bahu dan tengkuknya.
"Mas, betulkah kamu sakit?" gumam Crystal. Beberapa menit kemudian Nervan masuk kembali ke dalam mobil. Nampak wajahnya pucat dengan napas tersengal, ia bersandar lemah di bangkunya.
Satrio dengan telaten, membantu Nervan menyeka keringatnya dengan tisu dan juga membuka jas yang Nervan kenakan.
"Duduk di depan saja Mas! agar bisa rebahan. Kita ke rumah sakit ya?" tanya Satrio.
__ADS_1
Nervan menggeleng lemah. Satrio menghela napas frustrasi. Keberadaan Crystal seakan tidak berfungsi sama sekali. Nervan dan Satrio hanya sibuk berdua.
Crystal sedikit terenyuh dengan keadaan Nervan saat ini. Ternyata Nervan sakit betulan.
"Putar balik, Tio. Bawa Cysa Kembali ke rumah Papi." ucap Nervan pelan, dengan lelehan air mata mulai menyusuri pipinya. Namun, Crystal masih dapat mendengar.
Satrio hanya mengangguk. Lalu ia memastikan Nervan nyaman di tempatnya dan ia segera kembali pada bangku kemudi, menyalakan mesin mobil. Berjalan perlahan, ia mencari tempat untuk berputar arah, untuk kembali ke rumah orang tua Nervan.
Hati nurani sebagai istri, membuat Crystal berpikir ulang dengan keadaan suaminya yang tampak lemah. Crystal menelan kelu ludahnya, menghela napas sebanyak mungkin, ia berusaha menenangkan diri dan juga perasaannya.
Tanpa bicara, Crystal menggeser tubuhnya mendekati Nervan yang tengah memejamkan mata dengan posisi bersandar di sandaran bangkunya.
"Mas!" Crystal merasa canggung, suara yang keluar dari bibirnya hampir tidak terdengar.
Namun, Nervan peka akan suara istrinya, ia segera membuka matanya, lalu menoleh pelan ke arah Crystal. Nervan tersenyum lemah dan memejamkan matanya kembali.
Crystal tidak tahan dengan kondisi Nervan. Ia segera meraih Nervan ke dalam pelukannya. Membuat Nervan terkejut sekaligus senang.
"Tidak perlu kembali, aku ikut ke rumah Mamamu, Tio," ujar Crystal sembari mengelus kepala Nervan dengan lembut.
"Siap, Mbak!" jawab Satrio dengan nada sumringah. Lepas sudah beban Satrio yang dari setadi menghimpit syarafnya.
"Mas, tetap sadar. Ku mohon!" bisik Crystal, Nervan berusaha mengangguk di setengah lelapnya. Tetap saja setelah mengangguk terdengar dengkur halus teratur, menandakan bahwa Nervan terlelap sudah. Crystal hanya dapat menghela napasnya pelan. Memeluk erat tubuh kekar itu.
"Ceritakan padaku, apa yang terjadi dengan Mas Evan, Tio?" pinta Crystal.
"I-iya Mbak!" jawab Satrio, akhirnya ia menceritakan tentang Nervan yang aneh. Dari mulai meminta makanan yang aneh-aneh. Namun, tidak di makan karena mual. Nervan juga mengalami sakit kepala dan demam hanya di waktu-waktu tertentu.
Crystal kini mengerti. "Apakah Mas Nervan menggantikan aku ngidam? karena hanya di minggu pertama dan kedua aku merasa tersiksa seperti ini! setelah Mas Evan tidur dengan ku malam itu, aku malah tidak merasakan apapun lagi. Ku pikir sudah sembuh begitu saja, ternyata pindah ke Mas Nervan." batin Crystal, sebelah tangannya mengelus lembut perut yang masih rata tersebut.
__ADS_1
Tanpa terasa senyum mengembang di bibirnya, rasa damai dan bahagia menyelimuti hatinya. Nervan pun nampak tidur dengan tenang dalam pelukan Crystal.
Bersambung...