
"I-iya! perempuan itu sedang menyusuri wajahmu dengan bibir nya." Jawab Crystal dengan angkuh. Kini Crystal memilih untuk duduk di sisi tempat tidur.
Sedangkan Nervan masih menyandarkan tubuhnya pada kepala dipan.
"Aku atau dia? coba kamu ingat ingat kembali!" tanya Nervan. "Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan pergi dan menangis. Aku akan menghampiri wanita itu. Lalu ku tarik dan akan ku habisi." Ujar Nervan dengan tegas.
"Heuh, pede sekali Anda! kamu fikir, aku tidak berani? aku sangat ingin dan berani melakukan hal itu. Namun aku masih memikirkan nama baik mu. Itu kantor suamiku! jika aku bergaduh di sana, lalu .... bagaimana reputasi suami ku, di hadapan para pekerja nya?" tanya Crystal dengan nada sinis.
Untuk sesaat Nervan diam. Berfikir ulang tentang perkataan Crystal. "Betul juga! wanita tidak seperti pria yang selalu mengedepankan ego. Wanita selalu mendahulukan perasaan ketimbang emosi! agar merasa puas. Maka dari itu wanita selalu nampak lemah, namun sebetulnya mereka itu kuat." Gumam Nervan dalam hatinya.
"Ok! ma'afkan Aku sayang! walaupun aku tidak melakukan hal tersebut, namun aku mengakui salah, karena telah teledor dengan tertidur di sofa. Aku sedang menunggu mu membawakan makanan. Hari ini rasanya lelah dan mengantuk sekali. Kamu kan tahu, semalam kita berdua bergadang merawat Mami karena demam dan Papi tidak ada Karena sedang ke luar kota." Ujar Nervan mengingatkan tentang mereka yang bergadang merawat Mami nya.
Semalam Mami nya Nervan demam akibat alergi obat. Papi nya Nervan sedang ada hal mendesak di luar kota. Tante Ningsih dan Satrio sedang ke Bogor karena ada kerabat nya yang juga sakit.
Maka dari itu Nervan dan Crystal bergadang menemani Mami nya. Crystal sempat tertidur di pelukan Nervan namun Nervan tidak dapat tidur sebelum demam sang Mami reda. Pada pagi harinya, ia mencoba tidur dan baru satu jam tertidur,Rendra menelpon nya, mereka harus segera bertemu dengan Client.
Sepulang dari luar untuk bertemu Client. Nervan merasa amat mengantuk dan lelah, sembari menunggu Crystal membawakan makan siang, maka ia pun memutuskan untuk tidur di atas sofa, tujuan nya, jika Crystal tiba, maka tidak perlu naik ke atas untuk mencari nya.
Nervan beranjak dari duduknya dan mendekati Crystal, ia bermaksud merayu nya agar Crystal mau ia peluk.
"Menjauh Mas! aku belum sepenuhnya percaya padamu! karena tidak ada bukti. Banyak faktor mengapa aku sangsi terhadap pengakuan mu. Salah satu nya, kamu tidak mau melakukan hal intim dengan ku mungkin karena kamu memiliki wanita lain di luar sana, yang mungkin juga lebih menarik untuk di ajak tidur, ketimbang menggauli istri mu sendiri." teriak Crystal dengan berjalan mundur menuju ke arah dinding kaca besar tempat ia bersembunyi sebelum nya.
"Ahhahah! sayang! sepicik itu kah, fikiran mu? kamu kan tahu sendiri alasan ku, mengapa tidak juga melakukan hal itu. Alasan nya restu orang tua mu, belum aku dapatkan." Nervan tertawa berdiri menghadap ke arah Crystal, masih dengan tatapan hangat nya.
"Alasan!" hardik Crystal.
"Ok! kalau kamu menganggap ini sebuah alasan. Maka akan aku buktikan detik ini pun. Bahwa aku sangat tersiksa menahan hasrat kelelakian ku! Aku ini laki-laki normal sayang! namun hanya karena menanti sebuah restu, aku memilih menjadi manusia paling kolot di muka bumi ini. Heeuuh, kalau kau berfikir seperti itu. Maka aku akan melakukan nya dengan senang hati! bersiaplah, aku pastikan kamu akan berjalan dengan merangkak hingga satu minggu ke depan!" ucap Nervan dengan nada ancaman walaupun hanya sekilas.
Crystal yang mendengar ucapan Nervan. Ia semakin memundurkan tubuhnya hingga kini tubuh belakang nya membentur dinding. Berarti ia sudah tidak dapat lari kemana pun.
Nervan makin mendekati Crystal, ia melangkah dengan mantap, di sela langkah perlahan namun pasti nya. Nervan mulai menanggalkan pakaian nya satu persatu. Dari mulai ikat pinggang, kemeja, dan kini hanya celana panjang saja yang masih Nervan kenakan.
Crystal yang melihat kelakuan Nervan. Ia berusaha menutupi tubuh nya dengan gorden yang mudah ia jangkau. Kini tubuh Crystal berbalut gorden, hanya wajah nya saja yang terlihat.
Nervan sudah berada di hadapan Crystal. "Mas!" gumam Crystal. Tubuh nya sedikit bergetar, ia menelan kasar saliva nya. 'Tamat' riwayat kesucian nya kali ini, itu benak Crystal.
Tidak ada celah untuk Crystal menghindar. Nervan sudah menghimpit nya ke dinding. Tangan kekar nya menaikan dagu Crystal. Tanpa bicara ia tatap lekat manik mata Crystal.
"Mas mau apa?" pertanyaan Crystal terdengar bodoh.
__ADS_1
"Sesuai keinginan mu, Istri ku! menghabisi tubuh mu, dengan jutaan hasrat yang ku pendam," jawab Nervan terdengar mengerikan.
"Ti-tidak saat ini juga ma-maksudnya Mas!" Crystal bicara dengan terbata dan ia berusaha menghindari tatapan tajamnya Nervan dengan memalingkan wajahnya.
Apes! kesalahan fatal bagi Crystal, kini pipinya sudah Nervan kuasai dengan bibir nya. Tangan Nervan menyibak gorden yang membalut tubuh Crystal. Setelah gorden tersibak dan ia singkirkan, Kini tangan Crystal sudah ia bawa agar meraba bagian dada nya yang terbuka.
"Mas. Jangan!" pinta Crystal dengan suara yang mulai bergetar.
"Maaf! kali ini, Aku tidak akan dapat menghentikan nya sayang!" gumam Nervan di sela sela cumbuan nya yang sudah berpindah ke leher Crystal.
Crystal menahan gejolak di dalam dirinya yang sebetulnya ingin sekali membalas perlakuan Nervan.
Nervan yang merasa sudah naik pitam. Ia menarik lembut dagu Crystal agar wajah mereka saling berhadapan.
Cup! tanpa persetujuan Crystal, bibirnya langsung di kecup Nervan dan kini Nervan makin mendalaminya dengan hembusan nafas yang sudah tidak beraturan.
Crystal masih memiliki keinginan untuk menolak. Bukan begini caranya, walaupun mereka harus saling melengkapi untuk menjadi kesatuan utuh.
"Bergerak sayang! balas aku!" bukankah ini yang kamu inginkan?" tanya Nervan. Ia berhenti sejenak karena Crystal tidak merespon apapun dari pergerakan nya.
"Tidak seperti ini Mas!"
"Tidak dalam keadaan sedang menahan amarah." Ujar Crystal
"Bukan kah hasil nya akan sama saja? Aku tidak mau mengulur waktu lagi. Saat ini atau di waktu yang lain. Bagiku akan sama!"
Nervan tidak bicara lagi. Ia makin merangsek tubuh Crystal dengan tubuh nya. Hingga bagian belakang Crystal menempel sempurna di dinding. Lalu Nervan menarik kedua tangan Crystal agar merangkul lehernya.
Setelah di rasa posisi nya pas, dengan cepat, Nervan kembali mencumbui Crystal dengan lembut namun menuntut. Hingga satu kali desahan tertahan meluncur dari mulut Crystal. Nervan tersenyum di sela cumbuan nya ketika telinganya menangkap desahan Crystal.
Dengan satu kali hentak. Crystal sudah di dalam gendongan Nervan dan kini Nervan sudah melangkah menuju tempat tidur dengan bibirnya yang tidak lepas memagut paksa bibir Crystal.
Brugh!
Tubuh Crystal ia lempar keatas kasur. Dengan cekatan Nervan menarik rok tutu panjang yang Crystal kenakan. "Aw! Mas! jangan kasar," pekik Crystal.
Nervan tidak bicara. Ia segera menanggalkan celana nya. Nampak lah dek Jhon yang sudah mulai mengembang sempurna di balik underwear yang terlihat mulai sesak nafas.
"Let's make you happy!" ucap Nervan dengan seringai mengerikan dan ia mulai menenggelamkan diri pada tubuh Crystal. Membuka paksa pakaian Crystal dan kini Nervan sudah kembali mencumbui Crystal dan membuat perasaan Crystal luruh ikut larut dalam pergolakan asmara siang itu.
__ADS_1
Tubuh keduanya sudah sama sama polos. Nervan makin menjadi dalam menguasai tubuh Crystal. Tidak ada lagi keraguan dalam menjamah tubuh Crystal. Tidak seperti sebelumnya yang selalu memikirkan kata 'restu' yang pada akhirnya akan membuat Nervan menyerah sebelum ia melakukan hal lebih jauh.
"Mas lepas! kamu sedang emosi, aku gak mau melakukan nya dalam keadaan kamu sedang tidak berfikir jernih." Crystal masih berusaha berontak.
"Diam! kamu nikmati saja, aku akan mengabulkan apa yang kamu inginkan selama ini. Kecurigaan kamu terhadap ku sangat berlebihan. Walaupun Aku tidak menyentuh mu, bukan berarti aku tidur dengan perempuan lain di luar sana!" hardik Nervan dengan sarkas.
"Mana aku tahu! yang pasti, aku melihat mu sedang di cumbu wanita lain." Teriak Crystal tidak kalah sarkas.
"Aaarrggghh! kamu betul betul menguji iman dan kesabaran ku!"
Nervan kembali mengecup bibir Crystal dengan kasar. Ia tersinggung dengan kata kata Crystal. Nervan menyusuri tubuh Crystal dengan sedikit brutal. Nervan mencumbu bagian dada Crystal dengan tidak sabaran, hingga Crystal di buat meringis berkali kali.
"Ya Rabb! aku memang menginginkan ini terjadi. Namun tidak dengan cara kasar. Aku merasa seperti jalang di perlakuan nya saat ini. Tolong hentikan ini Ya Allah. Karena setelah ini selesai, Aku yakin sebuah penyesalan yang akan Mas Nervan dapat. Untuk saat ini ia sedang emosi. Tolong ya Allah, Hentikan suami ku."
Ratap Crystal dalam batinnya. Ia sedang menahan gejolak hasrat nya. Crystal dilema, karena perlakuan Nervan agak kasar, maka hati kecil nya menolak tindakan Nervan walaupun ia menginginkan nya.
Kini saatnya Nervan untuk mewujudkan keinginan nya yang seringkali ia tahan. Bercumbu dengan Crystal hampir tiap malam mereka lakukan. Namun aneh nya, Nervan akan langsung berhenti saat puncak hasrat nya menggebu. 'Restu' satu kata yang selalu membuat keberanian nya hilang seketika.
Namun kali ini, karena ia sedang emosi. Maka Nervan tidak memiliki keinginan untuk berhenti. "Mas sakit!" ucap lirih Crystal. Ketika Nervan sedang berusaha hendak menyatukan dek Jhon dan Nduk Jhen dan keduanya saling berbenturan. Air mata Crystal mulai meleleh. Antara mulai sakit pada daerah inti nya dan sakit dalam hatinya mendapatkan perlakuan kasar dari suami nya.
Rasa sakit itu kian berpadu dengan keraguan. Di sela perasaan yang tak keruan, batin Crystal bergolak dengan doa doa yang ia panjatkan agar Allah menghentikan niatan Nervan.
Hingga ....
Ting nong .... Ting nong .... Ting nong .... Ting nong... Ting nong....
Suara berisik bel rumah yang di tekan berkali kali membuyarkan konsentrasi Nervan dalam usahanya menjebol pertahanan kesucian Crystal.
"Aaarrggghh, shit! pasti Upin Ipin sama Apin," Pekik Nervan. Di sela umpatannya, Crystal mendengar Nervan sedang berkelakar. padahal bagi Nervan itu ucapan serius.
Seketika Nervan melupakan aktifitas nya. Suara bel mengganggu sekali. Hingga keinginan hasrat yang sedang memuncak pun buyar seketika. Walaupun masih berhasrat penuh, namun Nervan memilih beranjak dari tubuh Crystal. Dengan cepat ia mengenakan kembali pakaiannya.
Setelah rapi. Nervan menatap iba Crystal yang terkulai lemah tanpa berniat menutupi dirinya yang masih polos. Di beberapa bagian tubuh Crystal nampak memerah karena ulah nya. Air mata Crystal di sudut mata mengalir begitu saja.
"Maafkan Mas!" ucap nya lembut, Nervan mengangkat bagian atas tubuh Crystal lalu memeluk nya.
"Maaf kan Mas, ya sayang! Mas Khilaf. Sekarang kenakan kembali pakaian mu! Mas tunggu di bawah. Seperti nya Rendra, Rendy dan Tio membawa hasil rekaman Cctv." Ucap Nervan dengan mengecup lembut pelipis Crystal."
Crystal hanyalah mengangguk. Jantung nya masih berdetak sangat kuat. Ia sedang berusaha menyetabilkan nafas agar dirinya tenang. Crystal bersyukur Nervan dapat berhenti menganiaya dirinya dengan hasratnya. Suara bel sebagai penolong nya. Tentu atas izin Allah, sebagai balasan dari doa doa nya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung ....