
Iya, Sayang! kamu ke kamar dulu ya, kalau tamunya Upin dan Ipin, aku akan menyusul mu, untuk main kilat. Dek Jhon masih penasaran nih belum berlabuh pada Nduk Jhen.
"Genit!" Crystal mencubit perut Nervan, itu menghadirkan tawa Nervan. Akhirnya Crystal dan Nervan berpisah di persimpangan antar kamar dan ruang tamu.
Crystal ke dalam kamar. Sedangkan Nervan ke arah pintu untuk melihat Siapa yang datang.
Nervan segera membuka pintu. "Astagfirullah... kalian, dasar Upin, Ipin, Apin. Mengganggu saja!" protes Nervan.
Rendra, Rendy dan Satrio sedang berdiri di depan pintu dengan senyum manis yang mereka buat-buat dalam menyambut kedatangan Nervan.
"Ah Bos luknut, bikin gue meleleh nih kepanasan. Ngapain lu di dalam? lama sekali bukain pintunya, bukan dari tadi!" sungut Rendra seperti biasanya.
"Hed, bawahan abnormal akhlak! bos di omelin. Lu datangnya pada waktu yang kurang tepat! ganggu, tahu gak?"
"Gak! gue gak tahu dan gak merasa ganggu. Karena ini jam kerja, lu gak lihat tuh..." tunjuk Rendra ke arah Rendy dan Satrio yang membawa setumpuk map untuk ditandatangan dan diperiksa oleh Nervan.
"Hehe... baiklah... kalau begitu gue yang salah! masuk kalian," pintan Nervan pada akhirnya, dengan mengekeh.
"Ia nih Mas Eva, lama sekali pintunya, sudah gitu protes lagi!" kali ini Satrio yang mengomel.
"Berisik! masuk sana." ucap Nervan, Rendy dan Satrio pun masuk ke dalam rumah Nervan. Mereka sudah tahu harus kemana, yaitu langsung menuju ke ruangan kerjanya Nervan.
Sedangkan Rendra ditahan oleh Nervan. Ia merangkul bahunya Rendra. "Ren, eh lu kendaliin si Ipin sama si Apin. Untuk beberapa menit kedepan jangan ada yang gangguin gue. Terserah lu mau pada berbuat apa, asal jangan mengganggu gue, lagi nanggung nih, sebentar lagi!" bisik Nervan dengan serius.
"Nanggung ngapain sih, lu Van?" tanya polos Rendra.
"Ada deeh, kepo aja lu Upin! udah sana, gue ke kamar bentar." ucap Nervan dengan menepuk bahu Rendra.
Rendra mendekap mulutnya, "Huek!" Rendra pura-pura jijik. Kali ini ia mengerti dengan ucapan Nervan. Tentu saja ia mengerti dengan perkataan Nervan, bagaimanapun ia sudah menikah. "Mesum lu Van!"
"Biar! mesum sama pasangan halal gue ini."
"Ck...ck... dah sana! gue khawatir sama Pipit lu itu, nanti terbang di sini." ledek Rendra.
"Enak aja Pipit! Elang tahu." ucap Nervan dengan tertawa dan segera berjalan ke arah kamarnya, lalu ia masuk ke dalam kamar tersebut.
Rendra hanya mampu geleng-geleng kepala, tidak mengerti kelakuan bucin bosnya! betul, salah berdoa sepertinya.
Nervan telah di dalam kamar. Ia melihat Crystal sedang duduk di sofa. "Siapa yang datang, Mas?"
__ADS_1
"Biasa Upin, Ipin dan Apin. Lanjut kilat yuk sayang! setelah ini, aku harus bekerja. Sepertinya, mereka membawa beberapa tumpuk berkas." Nervan menghampiri Crystal lalu membawanya ke tempat tidur.
"Mas, nanti lelah."
"Tidak, Sayang! malah aku akan tambah semangat! kamu setelah ini istirahat ya," ucap Nervan.
"Oke Mas!"
Nervan memulai kembali apa yang tadi tertunda. Kini ia kembali menyatukan Dek Jhon dan juga Nduk Jhen, dengan semangat pagi menjelang siang.
Crystal nampak menggeliat enak di dalam penguasaan Nervan. Akan tetapi, Nervan tetap bermain lembut dan aman. Bagaimanapun, ada calon anak mereka, di dalam perut Crystal.
Setelah mencapai apa yang diinginkan dan membuat tubuhnya menegang dan setelahnya menghadirkan ketenangan. Crystal dan Nervan segera mandi janabah. Lalu Nervan kembali ke ruang kerjanya, tentu saja sebelumnya, ia meninabobokan Crystal terlebih dahulu, agar istirahat.
Nervan tiba di ruang kerjanya, begitu sumringah dengan bersiul ringan, "Klimis nih," goda Rendra.
"Berisik! nanti jomblo dua itu, mendengar, kasihan kalau sampai kebelet ga ada lawan." Nervan tertawa kecil.
Rendra pun ikut mengekeh. "Ya sudah, mana kerjaan gue? agar cepat selesai. Nanti malam, gue ada undangan makan malam, dari kakaknya Crystal."
"Widih keren, acara apaan Men? ketemu mertua?" tanya Rendra.
"Oke deh! ini Van berkas-berkasnya. Ini berkas ekspor, harus ada tanda tangan dan persetujuan. Ini berkas pemasok bahan-bahan, segala macam ada disini." ujar Rendra, sembari menunjukkan beberapa file yang harus dipelajari dan ditandatangani oleh Nervan.
Setelah mengangguk paham, akhirnya Nervan fokus pada pekerjaannya. Beberapa tumpuk file mengharuskannya serius.
Sampailah pada pekerjaan yang sudah mulai rampung dan itu hingga sore hari, Rendra telah pulang terlebih dahulu mengurus kantor. Sedangkan Rendy dan Satrio baru saja pulang, setelah menunggu berkas-berkas filenya Nervan selesai diperiksa dan ditandatangani.
***
Malam hari selepas Isya, Nervan dan Crystal sudah bersiap-siap untuk menghadiri undangan makan malam dari sang Kakak. Sebelum pergi ke restoran reservasi sang Kakak. Nervan harus menjemput kedua orang tuanya terlebih dahulu, karena mereka pun diundang.
"Sayang, sudah siap? tanya Nervan, saat menunggu Crystsl di sisi tempat tidur. Ia tidak diperbolehkan bergerak oleh Crystal karena takut pakaiannya kusut.
"Sudah, Sayang! mari," Crystal menghampiri Nervan yang nampak diam, ia sedang menatap istrinya dengan kekaguman.
Betapa tidak, Crystal nampak cantik dengan balutan dress sederhana namun, nampak elegan. "Kamu tambah cantik, Sayang."
"Mas juga tambah tampan. Sudah mari, kalau kita saling memuji terus, lama-lama tidak jadi pergi nih." ujar Crystal.
__ADS_1
Nervan tertawa kecil, ia paham akan perkataan Crystal.Yaitu, tidak menutup kemungkinan, jika Nervan malah akan menyerang Crystal kembali dengan panah asmara, yang akan berakhir dengan pergulatan halal di atas kasur.
Mereka tertawa bersama, Nervan mengajak Crystal menuju ke mobil yang sudah terparkir di halaman rumah. Mereka segera pergi menjemput kedua orang tua Nervan.
Pukul delapan lewat sepuluh menit, kini mereka telah sampai di sebuah restoran, yang telah dipesan oleh Kakaknya Crystal.
Restoran terbilang mewah, mereka pun masuk ke dalam restoran tersebut dan mencari meja yang ditunjukkan oleh sang pramusaji.
"Hai Dek!" siapa Zafier Yang telah menanti mereka bersama sang tunangan. Tunangan Zafier pun menyapa mereka dengan ramah.
"Hai Kak!" akhirnya Crystal dan Zafier saling berpelukan, dilanjutkan sapa menyapa antara orang tua dan Nervan serta tunangannya. Lalu mereka duduk di bangku yang saling berhadapan, menunggu menu makanan yang akan disajikan.
**
Sedangkan, di rumah orang tua Crystal.
Papi Crystal baru saja keluar dari kamar dan menghampiri Mami Crystal yang sedang bersantai di ruang keluarga.
"Mih, Zafier ke mana?" tanya Papi kepada Mami.
"Sepertinya keluar Pih! katanya sih ada acara kecil-kecilan bersama teman-temannya. Hari ini Kan Kakak ulang tahun, Pih!" Pandangan Mami tetap fokus pada televisi di depannya.
"Oh, seperti itu... mengapa tidak dirayakan bersama kita saja Mih?" tanya Papi.
"Entah Pih, dari sejak kita sama-sama pulang ke rumah, Zafier kurang bicara dan hampir setiap hari ia keluar rumah. Katanya mencari Cysa." ujar Mami Angelita.
"Ya Papi pun menyadari itu. Sepertinya ada hal yang disembunyikan oleh Zafier." Mami dan Papi nampak berpikir, sekiranya apa yang di sembunyikan oleh anak sulungnya itu.
Namun, tanpa Zafier ketahui. Sang Papi telah memerintahkan orang kepercayaannya, untuk membuntuti Zafier.
Di saat mereka asik makan sembari bercengkrama. Tetiba sosok yang Zafier takutkan selama ini, hadir dan menyeret Crystal pulang begitu saja.
"Papi...?"
"Pih, tolong jangan perlakukan Cysa seperti ini!" pekik Cysa.
"Pih, dengarkan penjelasan kami," mohon Zafier.
"Semua sudah cukup jelas! kalian sudah membodohi Papi. Kamu pulang!" ucap Papi Harsyal pada Crystal dengan geram. Dan kamu... tunggu surat gugatan cerai dari anak saya!" tunjuk Papi Harsyal pada Nervan dan membuat Nervan lemas seketika.
__ADS_1
Bersambung...